SERANG, KOMPAS.TV - Anggapan bahwa aktivitas coding atau pemrograman hanya konsumsi mahasiswa IT dan orang dewasa tampaknya mulai usang. Di era Society 5.0, kemampuan berpikir komputasional (computational thinking) justru kini mulai ditanamkan sejak bangku sekolah dasar.
Langkah ini ditunjukkan oleh para pendidik di Sekolah Dasar Laboratorium Percontohan UPI Serang.
Melalui kolaborasi strategis antara Program Studi Sistem Informasi Kelautan (SIK) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Serang, para guru dibekali kemampuan memanfaatkan platform Scratch.
Berdasarkan pantauan dalam program pengabdian masyarakat kompetitif UPI tahun 2026 tersebut, fokus pelatihan ini bukan untuk mencetak para guru menjadi peretas atau ahli pemrograman (programmer).
Melainkan, melatih cara berpikir sistematis untuk menyederhanakan materi pelajaran konvensional menjadi lebih interaktif.
Baca Juga: Mendikdasmen Sebut AI dan Coding Akan Diajarkan Mulai Kelas 4 SD, Sesuai Usulan Wapres
Mendobrak Mitos Laboratorium Canggih
Ketua Pelaksana Pengabdian, Novi Sofia Fitriasari, mengungkapkan salah satu tantangan terbesar dalam mengenalkan teknologi di sekolah dasar adalah stigma. Banyak pihak merasa pembelajaran berbasis digital selalu menuntut fasilitas komputer yang mewah dan mahal.
"Kami ingin meluruskan anggapan keliru tersebut. Pembelajaran coding di tingkat dasar sebenarnya tidak selalu membutuhkan laboratorium komputer yang canggih," ujar Novi, dalam siaran media yang diterima Kompas.tv, Selasa (11/8/2006).
Menurutnya, esensi utama dari pelatihan ini adalah mengajarkan guru cara menyusun langkah penyelesaian masalah secara terstruktur. Kemampuan berpikir taktis inilah yang kemudian disisipkan ke dalam mata pelajaran wajib seperti IPAS, Matematika, hingga Bahasa Indonesia.
Hal senada ditegaskan oleh Ketua Program Studi Sistem Informasi Kelautan UPI Serang, Willdan Aprizal Arifin. Ia menyebut dunia pendidikan tidak boleh lagi menutup mata atau menghindari perkembangan teknologi.
“Coding sudah bukan lagi hal yang harus kita hindari. Coding justru harus dekat dengan kita, apalagi sebagai pendidik,” tutur Willdan. Melalui pendekatan lintas mata pelajaran, teknologi diharapkan mampu membantu guru membangun ekosistem belajar yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Mengubah Teori Menjadi Pengalaman Interaktif
Dalam sesi praktik yang dipandu oleh instruktur Aqill Argananta Meidy, suasana Laboratorium Komputer UPI Serang tampak hidup. Para guru sekolah dasar ditantang langsung untuk mempraktikkan pembuatan simulasi digital menggunakan Scratch.
Salah satu hasil nyata dari pelatihan ini adalah pembuatan simulasi sistem pencernaan manusia. Jika biasanya siswa hanya menghafal organ tubuh melalui gambar mati di buku cetak, lewat Scratch, guru kini bisa membuat visualisasi interaktif di mana siswa dapat melihat proses tersebut bergerak secara sekuensial.
Baca Juga: [FULL] Wapres Gibran Bicara Penerapan Matematika Sejak TK hingga Targetkan SD-SMP Belajar Coding
Kepala Sekolah Laboratorium Percontohan UPI Serang, Ulfi Nur Farchi, menyambut baik sinergi ini. Sebagai teaching school, sekolah yang dipimpinnya siap menjadi wadah hilirisasi riset kampus agar berdampak langsung pada kualitas pendidikan anak didik.
“Kompetensi guru terkait coding sangat kita butuhkan saat ini. Coding harus dapat terintegrasi dengan semua mata pelajaran,” pungkas Ulfi.
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- coding
- pemrograman
- pelatihan coding
- serang
- universitas pendidikan indoesia upi






Komentar (0)