REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) mencatat pertumbuhan laba signifikan pada semester I 2026, termasuk perusahaan yang sebelumnya mengalami tekanan kinerja. Capaian tersebut menunjukkan adanya perbaikan pada sejumlah sektor BUMN sekaligus menjadi awal pengujian terhadap konsolidasi dan transformasi yang dijalankan di bawah Danantara.
Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI Toto Pranoto mengatakan, kinerja positif masih terlihat pada sejumlah BUMN papan atas yang selama ini menjadi penggerak utama pendapatan dan laba perusahaan negara.
Baca Juga
Perampingan BUMN Transportasi Didorong demi Tingkatkan Layanan Publik
Transformasi BUMN, Telkom Pangkas 34 Entitas Usaha
BP BUMN Targetkan Jumlah Entitas BUMN Tinggal 250
“Menurut saya kinerja solid masih ditunjukan BUMN blue chips yang sedari dulu menjadi motor penggerak revenue dan profit total BUMN. Misal kinerja Himbara di sektor perbankan, sektor mineral dan hasil tambang, sektor telco dan Pertamina,” ujar Toto di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Menurut Toto, perbaikan kinerja tersebut masih dapat diperkuat melalui penataan dan konsolidasi BUMN. Ia berharap proses streamlining dapat dipercepat sehingga efisiensi dan perbaikan kinerja perusahaan negara dapat berjalan lebih optimal.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Harapan saya supaya proses streamlining BUMN bisa dipercepat sehingga perbaikan kinerja bisa lebih cepat dilaksanakan,” lanjut Toto.
Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, PT Timah mencatat pertumbuhan laba paling tinggi di antara sejumlah BUMN yang tercantum. Laba bersih perusahaan mencapai Rp2,71 triliun, melonjak 804,7 persen dibandingkan Rp300 miliar pada semester I 2025.
PT Pupuk Indonesia juga membukukan kenaikan laba bersih sebesar 253 persen menjadi Rp8,51 triliun dari Rp2,41 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sektor semen, PT Semen Indonesia mencatat laba Rp193,46 miliar, meningkat 196,5 persen dibandingkan Rp65,24 miliar. Sementara itu, PT Agrinas Palma Nusantara membukukan laba Rp890 miliar atau tumbuh 150 persen.
Kinerja positif juga terlihat pada sektor jasa keuangan dan logistik. PT Pegadaian mencatat kenaikan laba 84,6 persen menjadi Rp6,59 triliun, sedangkan PT Pelindo membukukan pertumbuhan 60,4 persen menjadi Rp2,57 triliun.
PTPN IV PalmCo mencatat laba Rp3,23 triliun atau meningkat 54 persen. Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) membukukan laba Rp2,40 triliun, tumbuh 40,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Bank Mandiri juga mencatat pertumbuhan laba 24,3 persen menjadi Rp30,41 triliun. Di sektor energi, PT Pertamina Geothermal Energy membukukan laba US$79,61 juta, meningkat 15,5 persen.
Selain pertumbuhan laba perusahaan yang sudah mencatatkan kinerja positif, sejumlah BUMN juga menunjukkan perbaikan melalui pembalikan kinerja dari rugi menjadi laba.
PT Krakatau Steel, misalnya, berbalik dari rugi sekitar Rp1,74 triliun menjadi laba sekitar Rp150 miliar hingga Rp185 miliar. PT Kimia Farma juga mencatat perubahan kinerja dari rugi Rp135,61 miliar menjadi laba Rp54,07 miliar.
Menurut Toto, perkembangan tersebut menjadi indikasi bahwa ruang perbaikan kinerja BUMN masih terbuka, terutama melalui penataan struktur perusahaan dan peningkatan efisiensi. Namun, kesinambungan capaian tersebut masih perlu dilihat melalui kinerja perusahaan dalam periode berikutnya.
Rangkaian kinerja semester I 2026 tersebut menjadi salah satu indikator awal bagi proses transformasi BUMN setelah konsolidasi perusahaan negara di bawah Danantara. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan laba dapat dipertahankan sekaligus diikuti perbaikan fundamental, efisiensi, dan tata kelola perusahaan secara berkelanjutan.
Komentar (0)