EtIndonesia.com — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak baru. Setelah Teheran dilaporkan menuntut kompensasi atas kerugian yang dikaitkan dengan tindakan Amerika Serikat, Presiden AS Donald Trump justru membalas dengan mengatakan Washington dapat mengajukan tuntutan kompensasi yang jauh lebih besar kepada Iran.
Dalam pernyataannya pada Senin, 10 Agustus 2026, Trump mengatakan bahwa persoalan pembayaran kompensasi sebelumnya tidak pernah menjadi bagian dari pembicaraan maupun perundingan antara Washington dan Teheran. Namun, menurut Trump, tuntutan yang diajukan Iran justru membuka kemungkinan bagi Amerika Serikat untuk mengajukan tuntutan serupa.
Trump mengatakan dirinya menganggap gagasan mengenai kompensasi tersebut “menarik”. Namun, jika persoalan itu benar-benar dibawa ke meja perundingan, ia menegaskan Amerika Serikat juga akan meminta Iran bertanggung jawab atas berbagai kerugian dan korban jiwa yang selama bertahun-tahun dikaitkan Washington dengan aktivitas Teheran maupun kelompok-kelompok yang didukungnya.
Trump antara lain menyinggung korban akibat bom pinggir jalan dalam berbagai konflik di Timur Tengah. Ia juga menyebut keluarga korban serangan terhadap kapal perusak USS Cole serta keluarga ribuan orang yang tewas dalam berbagai konflik sebagai pihak-pihak yang menurutnya layak memperoleh kompensasi.
Pernyataan tersebut merupakan klaim politik Trump dan tidak serta-merta menunjukkan bahwa Iran secara hukum bertanggung jawab atas seluruh peristiwa yang disebutkannya. Serangan terhadap USS Cole pada Oktober 2000, misalnya, secara luas dikaitkan dengan Al-Qaeda, sehingga penyebutan Iran dalam konteks tersebut memerlukan kehati-hatian dan pembuktian tersendiri.
Trump juga menuntut pertanggungjawaban Iran atas kematian demonstran di dalam negeri. Ia mengatakan Teheran seharusnya memberikan kompensasi kepada keluarga ratusan ribu demonstran yang menurut klaimnya telah tewas selama sekitar lima dekade terakhir. Trump juga menyebut angka 52.000 orang yang diklaim tewas dalam lima bulan terakhir.
Angka tersebut merupakan pernyataan Trump dan perlu diperlakukan sebagai klaim karena belum dapat dianggap sebagai jumlah korban terverifikasi secara independen hanya berdasarkan pernyataan politik.
Trump mengatakan telah memerintahkan para perwakilan Amerika Serikat untuk membawa persoalan kompensasi tersebut ke dalam setiap pembicaraan berikutnya dengan Iran.
Tidak berhenti sampai di sana, Trump mengatakan Iran juga harus bertanggung jawab atas kerugian dan korban jiwa yang terjadi di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza. Pernyataan itu merujuk pada tudingan lama Washington bahwa Teheran selama bertahun-tahun membangun jaringan pengaruh regional melalui dukungan terhadap berbagai kelompok bersenjata dan mitra politiknya di Timur Tengah.
Washington Mulai Mengubah Pendekatan
Di tengah meningkatnya perang pernyataan tersebut, strategi pemerintahan Trump terhadap Iran tampaknya mulai mengalami perubahan.
Dalam wawancara singkat dengan media Amerika Serikat Axios pada Minggu, 9 Agustus 2026, Trump menggambarkan pendekatan Washington terhadap Teheran sebagai strategi yang lebih tenang. Alih-alih segera melancarkan operasi militer baru, Amerika Serikat untuk sementara memilih membiarkan tekanan ekonomi terhadap Iran terus meningkat.
Trump bahkan mengibaratkan situasi tersebut seperti sebuah permainan catur.
Menurutnya, Iran kini menghadapi tekanan ekonomi berat, termasuk inflasi tinggi serta keterbatasan kemampuan keuangan pemerintah. Dalam kondisi seperti itu, Washington dinilai tidak perlu terburu-buru memainkan seluruh kartu militernya.
Amerika Serikat, menurut gambaran strategi yang disampaikan Trump, dapat menunggu sambil melihat seberapa jauh tekanan ekonomi mampu mempersempit ruang gerak pemerintah Iran.
Trump juga menggambarkan hubungan kedua negara saat ini berada dalam kondisi “setengah bernegosiasi”. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa meskipun ketegangan masih tinggi dan tekanan terhadap Teheran terus dilakukan, jalur diplomasi belum sepenuhnya ditutup.
Trump Soroti Kejatuhan Rial Iran
Tak lama setelah itu, Trump kembali meningkatkan tekanan psikologis terhadap Teheran melalui media sosial.
Ia mengunggah grafik yang menggambarkan penurunan tajam nilai tukar rial Iran sejak 2025. Unggahan tersebut disertai pesan yang pada intinya menyatakan bahwa Iran sedang mengalami kesulitan keuangan serius dan mata uangnya telah kehilangan sebagian besar nilainya.
Pesan politik yang ingin disampaikan Washington cukup jelas: pemerintahan Trump menilai tekanan ekonomi mulai memberikan dampak dan karena itu tidak melihat kebutuhan mendesak untuk segera beralih ke operasi militer baru.
Salah satu instrumen tekanan terpenting adalah pembatasan terhadap kemampuan Iran menjual minyak ke pasar internasional.
Citra satelit terbaru dilaporkan menunjukkan aktivitas di sejumlah terminal minyak Iran menurun tajam sepanjang Agustus 2026. Situasi tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan Teheran mengirimkan minyak mentah melalui jalur ekspor mengalami tekanan.
Perusahaan analisis komoditas Kpler memperkirakan ekspor minyak mentah dan kondensat Iran turun sekitar 40 persen dibandingkan rata-rata Juli 2026, menjadi sekitar 500.000 barel per hari.
Penurunan ekspor menimbulkan persoalan tambahan. Minyak mentah yang tidak dapat dikirim ke pembeli luar negeri harus ditampung, baik di fasilitas penyimpanan di darat maupun menggunakan kapal sebagai tempat penyimpanan terapung.
Jika kondisi tersebut berlangsung lama dan kapasitas penyimpanan semakin terbatas, Iran berpotensi menghadapi tekanan untuk mengurangi produksi. Dampaknya dapat merambat langsung terhadap pemasukan negara karena sektor energi merupakan salah satu sumber devisa penting bagi Teheran.
Selat Hormuz Tetap Menjadi Titik Kunci
Tekanan ekonomi ini tidak dapat dipisahkan dari perselisihan mengenai Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi salah satu koridor energi terpenting dunia.
Amerika Serikat mempertahankan tekanan maritim terhadap Iran dengan tujuan mendorong Teheran memulihkan pelayaran komersial tanpa hambatan melalui selat tersebut.
Karena itu, strategi Washington saat ini tampaknya bergerak pada dua jalur sekaligus. Di satu sisi, Amerika Serikat tetap membuka ruang perundingan. Di sisi lain, tekanan ekonomi dan maritim dipertahankan untuk meningkatkan biaya yang harus ditanggung Iran apabila kebuntuan terus berlangsung.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintahan Trump tampaknya berusaha memaksa Teheran mengambil keputusan tanpa harus segera membuka babak baru konflik militer.
Namun, strategi ini tetap memiliki risiko. Apabila tekanan ekonomi semakin berat sementara negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan, kemungkinan salah perhitungan antara kedua negara tetap terbuka.
Untuk saat ini, pernyataan Trump mengenai kompensasi menunjukkan bahwa pertarungan Washington dan Teheran bukan lagi sekadar mengenai Selat Hormuz atau ekspor minyak. Perselisihan tersebut mulai merambah persoalan tanggung jawab atas konflik dan korban selama puluhan tahun—sebuah isu yang berpotensi membuat perundingan berikutnya menjadi jauh lebih rumit. (***)






Komentar (0)