REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Brand minuman beralkohol Newport menyampaikan permohonan maaf sehubungan beredarnya video di booth Newport pada gelaran festival musik The Sounds Project, yang digelar Ahad (9/8/2026). Direktur Newport Handoko Sasongko menyampaikan permintaan maaf tersebut kepada seluruh umat Islam, tokoh agama, dan seluruh masyarakat Indonesia atas kejadian yang menimbulkan ketidaknyamanan, rasa terluka, dan kegaduhan yang terjadi.
"Newport perlu meluruskan bahwa aktivitas tersebut bukan merupakan program, konsep promosi, challenge, maupun arahan yang dibuat atau direncanakan oleh Newport. Aktivitas tersebut muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi,"kata Handoko lewat keterangan tertulis, Selasa(11/8/2026).
Baca Juga
Kios Terbakar di Kota Gede Yogya, 54 Tabung Gas 3 Kg Hangus
Didakwa Rugikan Negara Rp622 M Ini Komentar Yaqut
Pramono Pertimbangkan Hapus Jalur Sepeda di Jakarta, Warisan Foke dan Anies Mau Digusur?
Dia mengatakan, Newport sangat menyesalkan bahwa situasi tersebut tidak ditangani sebagaimana mestinya pada saat kejadian. Dia pun menyatakan, pihaknya menyesali adanya kelalaian dalam pengawasan di lapangan, sehingga tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, keyakinan, budaya serta adat istiadat yang dijunjung oleh masyarakat dapat terjadi.
Menurut Handoko, Newport menghormati nilai-nilai agama serta sensitivitas yang hidup di tengah masyarakat Indonesia. Dia menegaskan, penghormatan terhadap nilai-nilai tersebut menjadi hal yang penting dalam setiap kegiatan dan interaksi Newport dengan masyarakat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sebagai tindak lanjut atas peristiwa ini, kata Handoko, Newport telah melakukan evaluasi internal dan mengambil tindakan terhadap personil terkait, serta memperkuat arahan dan prosedur kepada seluruh tim serta mitra yang terlibat dalam kegiatan di lapangan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Dia mengatakan, kejadian ini merupakan peringatan keras sekaligus bahan refleksi mendalam bagi pihak Newport untuk segera merumuskan standar operasional (strict guidelines) secara lebih ketat, dengan menempatkan aspek kehormatan terhadap nilai religi, adat istiadat, serta etika kemasyarakatan sebagai landasan.
"Manajemen Newport berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak akan pernah terulang kembali di masa mendatang,"kata dia.
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)
Komentar (0)