Temuan Senjata dan Narkoba di Sekolah: Bukti Ruang Aman Anak Kian Menyempit

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Temuan hampir seribu senjata, narkotika, dan materi pornografi di sebuah sekolah swasta di Jakarta Selatan, mengingatkan bahwa sesungguhnya perlindungan anak tidak berhenti di pagar sekolah. Ada ruang-ruang yang harus diaudit, ada dampak psikologis yang mesti dipulihkan, dan ada tanggung jawab orang dewasa yang tidak boleh dialihkan kepada murid.

Sekolah semestinya menjadi ruang yang paling mudah dikenali anak sebagai tempat aman, tempat mereka belajar, bermain, berteman, dan membangun kepercayaan kepada orang dewasa. Namun, temuan hampir seribu senjata di sebuah ruang milik yayasan sekolah swasta tersebut seharusnya menjadi perhatian serius.

Seperti diberitakan (Kompas.id, Kamis 6/8/2026) ratusan pucuk senjata, terdiri dari airsoft gun dan senjata api, ditemukan dalam salah satu ruangan sebuah sekolah swasta di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sebanyak 995 pucuk senjata, airsoft gun dan senjata api, serta amunisi dan aksesori terkait ditemukan dalam dua waktu berbeda oleh pengurus sekolah.

Temuan pertama terjadi pada tanggal 10 dan 11 Juli 2026 sebelum dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Selatan. Temuan kedua terjadi setelah tiga pekan kemudian, pada Rabu (5/8/ 2026). Selain kembali menemukan senjata, pengurus sekolah juga menemukan narkoba dan film porno dari ruangan bekas ketua yayasan yang telah dipecat, karena indikasi penyalahgunaan uang untuk kepentingan pribadi.

Hingga kini polisi menyelidiki temuan senjata, amunisi, aksesori senjata, narkotika, serta kepingan VCD bermuatan pornografi di lingkungan sekolah tersebut. Pasca-temuan tersebut, sekolah kemudian menerapkan pembelajaran jarak jauh selama sepekan.

Namun, temuan senjata, narkotika dan kepingan VCD bermuatan pornografi patut mengundang pertanyaan besar ? Digunakan untuk apa dan siapa barang-barang tersebut ? Bagaimana dengan anak-anak yang bersekolah di sana, apakah terkait dengan barang-barang tersebut ? apakah ada anak-anak yang menjadi korban?. Semua pertanyaan tersebut hingga kini belum terjawab.

Baca Juga995 Pucuk Senjata Tersembunyi di Balik Pintu Sekolah Swasta Jakarta Selatan

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dian Sasmita mengingatkan bahwa anak datang ke sekolah bukan semata-mata untuk mengikuti pelajaran. Sekolah adalah ruang interaksi sosial yang ikut membentuk rasa aman, kepercayaan, dan perkembangan anak.

”Anak ke sekolah tidak hanya untuk belajar, tetapi juga berinteraksi. Karena itu, ketika di lingkungan sekolah ada barang-barang berbahaya, hal itu harus menjadi perhatian serius pihak kepolisian, dinas pendidikan, dan sekolah tersebut,” ujar Dian Sasmita, Komisioner KPAI di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Apa pun hasil penyelidikan terhadap konflik tersebut, anak tidak boleh ditempatkan sebagai penonton yang harus memahami seluruh persoalan orang dewasa, apalagi menerima akibatnya. Mereka tidak memilih ruangan mana yang dikunci, siapa yang memegang kunci, atau barang apa yang disimpan di dalamnya.

Dia mengingatkan, dampak langsung maupun tidak langsung terhadap anak perlu dimitigasi. Perubahan sementara ke pembelajaran jarak jauh, pemberitaan yang masif, pertanyaan dari lingkungan sekitar, serta kekhawatiran orang tua dapat memengaruhi konsentrasi dan rasa percaya diri anak.

Karena itu, hak anak atas pendidikan yang berkualitas harus tetap dijamin, termasuk perlindungan identitas dan privasi mereka. Sebab, anak rentan terdampak dari peristiwa itu.

Anak tidak harus menjadi korban langsung kekerasan untuk mengalami dampak sebuah kejahatan. Cukup dengan hidup di lingkungan yang tidak terkelola, menyaksikan aparat datang, mendengar kabar tentang senjata dan narkotika, atau merasa sekolahnya dicap buruk, anak dapat menanggung beban psikologis yang tidak mereka ciptakan.

Pulihkan rasa aman

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi meminta sekolah memastikan anak tetap dapat belajar dengan aman dan tidak terdampak, baik secara langsung maupun psikologis. Selain itu, masyarakat dan media diminta melindungi privasi anak-anak serta tidak memberikan stigma negatif kepada para murid akibat pemberitaan kasus ini.

“Anak tidak boleh menjadi korban dari persoalan yang bukan tanggung jawab mereka. Mari kita jaga privasi dan kondisi psikologis anak agar mereka masih bisa belajar dengan nyaman,” ujar Menteri PPPA yang akrab disapa Arifah, akhir pekan lalu, Sabtu (8/8/2026).

Baca JugaPemilik Senjata Api di Gudang Sekolah Swasta di Pondok Pinang Telah Meninggal

Agar kejadian serupa tidak terulang, Menteri PPPA mendorong pihak sekolah segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh ruangan dan fasilitas sekolah, serta memperketat pengawasan. Selain itu, Menteri PPPA mendorong penerapan sistem Satuan Pendidikan Ramah Anak (SRA) yang melibatkan pendidik, tenaga kependidikan, serta orang tua sebagai pilar utama perlindungan anak.

Sekolah juga diharapkan menyediakan layanan pendampingan psikososial bagi siswa maupun orang tua yang membutuhkan. Sembari menyerahkan proses penyelidikan sepenuhnya kepada aparat kepolisian, perlindungan terhadap masa depan anak-anak tetap diletakkan sebagai prioritas tertinggi.

Bagi masyarakat yang mendeteksi adanya ancaman atau kekerasan terhadap anak, Kementerian PPPA mengimbau untuk segera melaporkannya melalui layanan pengaduan SAPA 129 atau WhatsApp di nomor 08111-129-129.Ancaman nyata terhadap sistem perlindungan anak.

Prof. Widodo Dwi Putro, pengajar hukum dan Guru Besar Universitas Mataram menegaskan temuan 995 unit senjata dan dugaan narkotika, serta kepingan VCD pornografi di lingkungan sekolah bukan sekadar isu kelalaian administratif internal. Hal itu adalah pelanggaran hukum pidana berat dan ancaman nyata terhadap sistem perlindungan anak.

”Penemuan senjata api, narkoba, dan pornografi di gudang sekolah adalah alarm keras hilangnya pengawasan,” tegas Widodo,

Maka, penyidik Polri tidak boleh hanya mengusut kepemilikan senjata, tetapi wajib menelusuri dugaan kejahatan terorganisir (organized crime) atau potensi penyalahgunaan tempat pendidikan sebagai safe house kegiatan ilegal. ”Kasus ini harus diusut tuntas hingga ke akar-akarnya tanpa pandang bulu,” tambah Widodo.

Untuk itu, ada tiga hal utama yang wajib diungkap oleh penyidik kepolisian. Pertama, aktor utama dan intelektual. Siapa pemilik sah barang-barang tersebut, bagaimana barang bisa masuk ke area sekolah, dan siapa yang memfasilitasi akses ke ruang penyimpanan tersebut?

Kedua, asal-usul senjata militer. Bagaimana senjata api standar militer atau polisi (dengan kaliber 5,56 mm dan 9 mm) bisa berada di tangan warga sipil atau disimpan di dalam sekolah?. Ketiga, pengujian laboratorium forensik (ballistic test). Apakah senjata api atau komponen yang ditemukan tersebut pernah digunakan dalam tindak kejahatan lain sebelumnya?

Penyelidikan polisi diperlukan untuk mengungkap hal tersebut, termasuk apakah ada pelanggaran pidana. Akan tetapi, proses hukum dan pemulihan anak harus berjalan bersamaan. Anak tidak seharusnya menunggu seluruh teka-teki orang dewasa terpecahkan untuk kembali merasa aman belajar.

Menurut catatan Kompas, kasus serupa pernah muncul di Jakarta Barat pada 2019. Saat itu polisi menemukan 355,55 gram sabu, psikotropika golongan IV, dan 7.910 tablet obat daftar G di area sebuah sekolah. Dua dari tiga tersangka disebut sebagai karyawan honorer sekolah yang tinggal di laboratorium sekolah, dan ruangan itu kemudian digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus gudang penyimpanan narkotika.

Peristiwa di Jakarta Selatan dan Jakarta Barat memberi pola pembelajaran yang serupa, yakni ruang sekolah dapat disalahgunakan oleh orang dewasa ketika kontrol atas akses, penggunaan ruangan, dan keberadaan orang di dalam lingkungan sekolah tidak berjalan baik.

Sekolah adalah ruang tumbuh. Karena itu, ketika orang dewasa gagal menjaga ruang tersebut, orang dewasa pula yang harus memulihkannya, tanpa meminta anak membayar harga dari kelalaian yang bukan tanggung jawab mereka.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Info Cuaca DKI Hari Ini: Cerah hingga berawan, Suhu Mencapai 36 Derajat Celsius
• 10 jam lalu
0
thumb
Negosiasi Mandek, Opsi Trump untuk Keluar dari Perang Iran Kian Menyempit
• 23 jam lalu
0
thumb
Krisis Chip Memori Bikin MacBook Air Langka, Stok Seret hingga September 2026
• 6 jam lalu
0
thumb
Antioksidan Kompleks Bantu Jaga Kesehatan Pembuluh Darah
• 8 jam lalu
0
thumb
Airlangga Yakin ETF Emas Indonesia Mampu Lampaui India dan Singapura
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.