Badan Pusat Statistika (BPS) mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Surabaya Juni 2026 mencapai 53 persen, dengan rata-rata lama menginap tamu (RLMT) 1,38 malam.
Herry Purwadi Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya menyebut akan mendorong pengembangan sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) dengan mengintegrasikan kegiatan pertemuan dengan destinasi wisata.
Upaya ini katanya dilakukan untuk mendorong peserta MICE memperpanjang masa tinggal di Surabaya sekaligus ke berbagai destinasi wisata.
“Surabaya sudah terkenal dari dahulu sebagai kota perdagangan dan jasa. Apalagi di Kota Surabaya ini banyak hotel-hotel dan destinasi wisata. Di situlah tempat-tempat yang memang disediakan untuk pertemuan itu tadi,” kata Herry, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya capaian TPK Juni 2026 meningkat 3,05 poin dibandingkan TPK pada Mei 2026 yang tercatat sebesar 49,95 persen.
TPK hotel di Surabaya pada Juni 2026 juga tercatat 14,43 poin lebih tinggi dibandingkan TPK hotel di Jawa Timur yang mencapai 38,57 persen.
Sementara itu, RLMT di Kota Surabaya pada Juni 2026 tercatat sebesar 1,38 malam artinya, rata-rata seorang tamu hotel menginap sekitar satu hingga dua malam.
Menurutnya itu peluang bagi Pemkot Surabaya untuk mendorong peserta MICE tidak hanya menginap untuk kebutuhan pertemuan, tetapi juga memperpanjang masa tinggal dengan menikmati destinasi wisata.
“Pemerintah Kota Surabaya memberikan tawaran untuk mereka stay lebih lama. Dengan apa? Menjual paket-paket wisata, penyelenggaraan event-event bisa di destinasi-destinasi wisata. Jadi tidak hanya di hotel, restoran, tapi sekarang bisa berkembang di destinasi wisata,” ungkap Herry.
Ada sejumlah destinasi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan MICE. Salah satunya kawasan Sungai Kalimas yang saat ini tengah direvitalisasi.
“Kalau unggulan-unggulan saat ini kami sedang merevitalisasi Sungai Kalimas. Jadi dalam waktu dekat, seluruh warga Kota Surabaya dan warga Indonesia sesaat lagi akan melihat wajah baru dari Kalimas,” ungkap Herry.
Selain Kalimas, pemkot juga mengembangkan kawasan Kota Lama.
“Kemudian Kota Lama juga tetap akan kita kembangkan lagi. Jadi Surabaya ini tidak puas hanya destinasi yang sudah bagus. Jadi setiap tahun atau minimal dua tahun sekali kita selalu melakukan revitalisasi,” ujar Herry.
“Sekarang kita juga punya Kebun Raya Mangrove (KRM). Di sana juga punya auditorium yang bisa digunakan untuk pertemuan. Kemudian banyak sekali kampung-kampung wisata (tematik) juga yang sedang kita angkat sekarang,” kata Herry.
Disbudporapar Surabaya juga menyiapkan sejumlah aktivitas tambahan bagi peserta MICE. Salah satunya melalui city tour yang dikemas sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
“Kita akan memberikan tambahan ketika mereka datang. Kita akan memberikan side event, misalnya city tour seperti itu,” ujar Herry.
Termasuk bus pariwisata yang dapat digunakan untuk mendukung paket wisata tersebut. Layanan ini akan dikolaborasikan dengan hotel-hotel yang menjadi lokasi penyelenggaraan MICE.
“Jadi kita bisa berkolaborasi dengan hotel-hotel. Misalnya mereka menyelenggarakan MICE di hotel A, kemudian kita coba tawarkan menambahkan sesuatu, itu tadi paket wisata kita dengan harga yang tidak mahal misalnya,” katanya.
Herry menilai paket wisata tersebut dapat dikolaborasikan dengan berbagai pihak sehingga peserta MICE dapat menikmati destinasi wisata tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
“Kita bundling dengan teman-teman yang lainnya menjadi satu paket, satu kesatuan utuh, yang mereka tidak perlu membayar mahal, tetapi bisa menikmati destinasi sekaligus dia memperoleh manfaat dari MICE tersebut,” tutupnya. (lta/iss)





Komentar (0)