jpnn.com, JAKARTA - Sebanyak 65 siswa dari pedalaman Papua tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada Selasa (11/8) pukul 05.30 WIB, setelah menempuh perjalanan laut selama tujuh hari dari Jayapura.
Kedatangan ini menandai dimulainya babak baru dalam program pendidikan jangka panjang yang dibangun Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP).
BACA JUGA: Pemprov Papua Adakan Beragam Layanan dan Hiburan untuk Masyarakat di HUT RI
Program ini merupakan bagian dari komitmen YPHP untuk memastikan bahwa tempat seorang anak dilahirkan tidak menentukan sejauh mana dia dapat bermimpi dan belajar.
Selama hampir tiga dekade, YPHP telah membangun dan mengembangkan pelayanan pendidikan di berbagai wilayah pedalaman Papua.
BACA JUGA: Cari Bukti Dugaan Korupsi, Polisi Geledah 13 Ruangan di Sekretariat DPRP Papua Barat Daya
Melalui jaringan Sekolah Lentera Harapan, pendidikan diselenggarakan sedekat mungkin dengan tempat anak-anak bertumbuh, termasuk di Mamit, Daboto, Karubaga, Nalca, Korupun, Danowage, Tumdungbon, Mokndoma, Saman, Holuwon, dan berbagai komunitas lainnya.
Saat ini, pelayanan pendidikan tersebut menjangkau lebih dari 1.500 siswa.
BACA JUGA: Presenter TVRI Papua Barat Yanto Idorway Ditemukan Meninggal di Sungai Memti
Angkatan tahun ini terdiri dari 65 siswa kelas 7 hingga kelas 10 yang berasal dari berbagai wilayah Papua, antara lain Nalca sebanyak 19 siswa, Korupun (22), Danowage (6), Daboto (1), Mokndoma (12), Waisai (2), Sentani (1), dan Tarup (2).
YPHP mengungkapkan mereka bertolak dari Jayapura pada 4 Agustus 2026. Selama perjalanan, para siswa didampingi 32 pendamping, yang terdiri dari rohaniawan, guru, dokter, perawat, dan tenaga medis untuk memastikan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan.
"Perjalanan tahun ini merupakan perjalanan ketiga yang dilakukan untuk membawa siswa dari Papua menuju pendidikan lanjutan di Tangerang. Sebelumnya tahun 2023 dan 2024," terang Manajemen YPHP dalam pernyataan resminya, Selasa (11/8).
YPHP menyampaikan penghargaan yang besar kepada PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PELNI, yang telah menjadi bagian dari perjalanan anak-anak Papua sejak angkatan sebelumnya dan kembali mengambil bagian dalam perjalanan tahun ini. Dalam perjalanan ini, konektivitas laut telah menjadi jembatan pendidikan.
Kapal PELNI bukan sekadar membawa anak-anak dari Jayapura menuju Jakarta, tetapi ikut membuka akses dari desa-desa terpencil menuju kesempatan pendidikan yang lebih luas.
YPHP juga menyampaikan apresiasi kepada PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, yang turut mendukung kedatangan dan penyambutan para siswa di Pelabuhan Tanjung Priok.
Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana pemerintah, BUMN, dan lembaga pendidikan dapat bekerja bersama untuk menjawab salah satu tantangan terbesar pendidikan di Papua: jarak dan keterisolasian geografis.
"Bagi kami, perjalanan ini memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar pelayaran antarpulau. Kami bersyukur dapat mengambil bagian dalam membuka jalan bagi anak-anak Papua untuk melanjutkan pendidikan dan memperluas masa depan mereka," kata Direktur Utama PELNI Budi Setyawan Wijaya.
Kedatangan para siswa turut disambut oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk, bersama pimpinan PELNI, Pelindo, dan YPHP.
Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk menyampaikan, anak-anak Papua harus mendapatkan kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan mencapai pendidikan setinggi-tingginya. Tantangan geografis tidak boleh menjadi batas masa depan mereka. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, BUMN, dan masyarakat sangat penting untuk memastikan semakin banyak anak Papua mendapatkan kesempatan tersebut.
Lebih lanjut dikatakan Manajemen YPHP, tujuan akhir program ini bukan Jakarta. Tujuan akhirnya tetap Papua.
YPHP ingin para siswa mendapatkan pendidikan yang terbaik, memperoleh pengalaman yang lebih luas, menyelesaikan pendidikan tinggi, dan kemudian membawa kembali pengetahuan, keterampilan, karakter, serta panggilan pelayanan tersebut kepada masyarakat asal mereka.
Pada 2025 dan 2026, lulusan SLH Gunung Moria telah mulai melanjutkan pendidikan di Universitas Pelita Harapan, termasuk untuk dipersiapkan menjadi guru dan perawat yang suatu hari dapat kembali melayani masyarakat Papua.
"Dengan demikian, jalur pendidikan yang sedang dibangun semakin nyata. TK–SD di pedalaman Papua, SMP–SMA di SLH Gunung Moria, lalu ke perguruan tinggi, dan kembali melayani dan membangun Papua," pungkasnya. (esy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Bertemu Mendagri, Purbaya Bahas Nasib Wilayah Terdampak Bencana & Infrastruktur Papua
Redaktur : Elfany Kurniawan
Reporter : Mesyia Muhammad





Komentar (0)