Terkini, Jeneponto – Upaya percepatan pengentasan stunting di Kabupaten Jeneponto terus didorong melalui pendekatan kolaboratif berbasis riset. Penelitian Kompetitif Nasional (PT-LM) melaksanakan Forum Group Discussion (FGD) di Cefe Resto The Premier, Kabupaten Jeneponto, Selasa.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Adopsi Model Terapan Nutri-Helix Berbasis Platform Digital Kolaborasi Multi-Aktor, Strategi Penguatan Edukasi Gizi Partisipatif dalam Pengentasan Stunting di Kabupaten Jeneponto”.
FGD ini dihadiri Kepala Bappeda Jeneponto, Dr. H. Alfian Afandy Syam, Bidang Gizi Dinas Kesehatan, para perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya, perwakilan dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) se-Kabupaten Jeneponto, kalangan akademisi, serta sejumlah mahasiswa.
Ketua Peneliti Program Penelitian Kompetitif Nasional (PT-LM), Prof. Dr. Nuryanti Mustari, yang juga selaku Dewan Pengawas RSUD Lanto Daeng Pasewang Jeneponto itu menjelaskan, FGD ini merupakan kelanjutan dari program penelitian tahap pertama.
Menurutnya, kegiatan ini bertujuan untuk mendiskusikan dan mematangkan model yang telah dirumuskan sebelumnya untuk diimplementasikan menjadi model Jeneponto Bahagia.
“Kegiatan ini merupakan pengembangan dari program penelitian yang pertama yang baru merumuskan sebuah model yang akan kita diskusikan dalam kegiatan ini,” ujar Prof. Nuryanti dalam arahannya.
Prof. Nuryanti menegaskan, persoalan stunting tidak bisa dilihat dari satu sektor saja. Selama ini, stunting kerap dianggap hanya menjadi urusan sektor kesehatan, padahal penyebabnya bersifat multidimensi.
“Dalam kasus stunting tidak boleh dilihat dari satu sektor, misalnya hanya sektor kesehatan saja. Stunting itu terjadi karena beberapa faktor yang juga ikut berpengaruh. Misalnya ada faktor pola gizi, sosial ekonomi, ada faktor ketahanan pangan dan lainnya,” katanya.
Ia menjelaskan, model Nutri-Helix yang ditawarkan menekankan pentingnya kolaborasi multi-aktor. Model ini mengintegrasikan peran pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, masyarakat, hingga sektor swasta dalam satu platform digital yang partisipatif untuk penguatan edukasi gizi.
Menurutnya, kasus stunting bukan hanya semata-mata menjadi tanggung jawab dari Dinas Kesehatan saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama semua OPD terkait.
“Berbicara persoalan stunting itu tidak boleh berbicara hanya satu aktor saja. Tapi ada aktor-aktor lain yang juga sangat signifikan terpengaruh terhadap tingginya angka stunting,” jelasnya.
“Untuk itulah penelitian ini hadir memastikan sejauh mana kolaborasi multi-aktor. Jadi bukan hanya satu aktor, bagaimana semua aktor itu bisa berkolaborasi, bisa bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan persoalan stunting,” tegas Prof. Nuryanti.
Melalui FGD ini, para peserta diajak untuk memberikan masukan, kritik, dan pengalaman lapangan terkait implementasi program stunting di masing-masing wilayah. Masukan tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan model Nutri-Helix agar lebih aplikatif dan sesuai dengan karakteristik sosial budaya masyarakat Jeneponto.
Perwakilan OPD yang hadir menyambut baik inisiasi model berbasis digital tersebut. Mereka menilai, pendekatan digital dan partisipatif sangat relevan untuk menjangkau keluarga berisiko stunting, terutama dalam edukasi gizi, pola asuh, dan sanitasi.
Di akhir kegiatan, Prof. Nuryanti berharap hasil penelitian yang dilakukan secara komprehensif dan tuntas ini dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penurunan angka stunting di Kabupaten Jeneponto yang masih menjadi salah satu daerah perhatian di Sulawesi Selatan.
“Ia berharap penelitian dengan kerja-kerja tuntas yang kita lakukan, Insya Allah dapat berpengaruh terhadap penurunan angka stunting di Kabupaten Jeneponto,” harapnya.





Komentar (0)