JAKARTA, KOMPAS — Harga saham PT Garuda Indonesia Persero Tbk melonjak sejak Senin (10/8/2026). Hal ini ditengarai akibat kabar proses konsolidasi perseroan dengan maskapai milik anak usaha Pertamina, Pelita Air, hingga penantian perbaikan kinerja perusahaan dalam laporan keuangan terakhir.
Pada perdagangan Senin kemarin, saham perusahaan dengan kode GIAA ini melonjak hingga menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) sebesar 33,33 persen ke level harga Rp 72 per saham, dengan volume transaksi mencapai 1,65 miliar saham. Pada Selasa (11/8), harga saham ini masih melejit hingga 12 persen lebih ke level harga Rp 80 pada 30 menit setelah pembukaan perdagangan.
Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam laporan mereka mencatat, lonjakan harga ini didorong dua sentimen utama, yakni rencana merger dengan Pelita Air dan penantian laporan keuangan triwulan II-2026.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan, kenaikan tajam harga saham GIAA salah satunya merupakan bentuk speculative rerating atas wacana konsolidasi dengan Pelita Air yang memiliki kinerja keuangan positif. Pelita Air, yang 99 persen dimiliki PT Pertamina tercatat mulai mencetak laba bersih sebesar 5,9 juta dolar AS pada 2024.
Liza menilai, walaupun kinerja Pelita Air sehat, ukurannya relatif belum cukup besar untuk menanggung atau menyelesaikan seluruh masalah GIAA. Oleh karena itu, sentimen tersebut yang membuat lonjakan harga saham Garuda Indonesia hingga ARA belum bisa dianggap sebagai validasi fundamental.
"Bentuk transaksi dalam konsolidasi ini belum final dan laporan keuangan triwulan II-2026 juga masih diaudit," katanya.
Liza menilai, konsolidasi maskapai seharusnya berfokus pada pembagian pasar yang jelas, peningkatan utilisasi pesawat, efisiensi pengadaan avtur, serta penghapusan rute dan biaya yang tumpang tindih.
Kiwoom Sekuritas mengharapkan agar Pelita Air tidak dijadikan beban baru bagi Pertamina maupun sekadar "penambal" masalah tanpa adanya pembenahan manajemen inti.
"Investor baiknya tidak hanya menyoroti jadi atau tidaknya aksi merger, melainkan struktur transaksi, siapa surviving entity-nya, berapa valuasi wajar Pelita Air, serta ke mana kewajiban atau utang masa lalu GIAA akan ditempatkan," katanya.
Di bawah naungan Danantara, Liza menilai, adanya dukungan modal dari negara idealnya diikuti dengan perbaikan tata kelola serta penetapan target kinerja yang terukur agar tercipta transformasi bisnis yang berkelanjutan.
Pada akhir 2025, GIAA menerima suntikan dana penempatan privat dari Danantara senilai Rp 23,67 triliun. Ini membuat ekuitas permodalan GIAA berbalik positif menjadi sekitar 91,9 juta dolar AS.
Langkah perbaikan struktur modal tersebut terus berlanjut guna menata total kewajiban perseroan, yang mencakup kewajiban sewa pesawat, operasional, dan vendor, dalam rangka memastikan keberlanjutan operasional jangka panjang.
Dalam keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia, Jumat (7/8/2026), manajemen Garuda Indonesia memberikan pernyataannya terkait kondisi perusahaan dan rencana penggabungan dengan Pelita Air dalam acara Surabaya Investor Meeting.
Perseroan menegaskan bahwa rencana konsolidasi yang melibatkan Garuda Indonesia Group dan Pelita Air saat ini masih berada dalam tahap kajian dan pembahasan pada tingkat pemegang saham bersama para pihak terkait, sesuai dengan kewenangan masing-masing.
"Kajian tersebut masih bersifat menyeluruh dan mencakup berbagai aspek strategis, dengan mempertimbangkan penguatan ekosistem penerbangan nasional sekaligus keberlanjutan agenda transformasi Perseroan," kata mereka.
Hingga saat ini, belum ada keputusan final mengenai bentuk maupun mekanisme konsolidasi tersebut. Garuda Indonesia memastikan tetap menjalankan kegiatan operasional, pelayanan kepada pelanggan, dan agenda transformasi sebagaimana berjalan saat ini, tanpa terdapat perubahan pada rencana penerbangan maupun komitmen layanan.
Wacana konsolidasi ini mengemuka di tengah upaya perseroan melanjutkan perbaikan kinerja keuangan dan operasional. Pada triwulan I-2026, pendapatan GIAA tercatat tumbuh 5,36 persen secara tahunan.
Kendati masih mencatat rugi bersih senilai 47,72 juta dolar AS pada periode tersebut, angka kerugian ini menyusut 46,22 persen secara tahunan.
Sementara itu, untuk Laporan Keuangan Triwulan II-2026, Garuda Indonesia mengaku masih dalam proses audit teknis sebelum dipublikasikan secara resmi. Perseroan juga terus mencermati sejumlah tantangan industri penerbangan global dan domestik, termasuk tekanan harga bahan bakar (avtur) serta dinamika geopolitik.





Komentar (0)