Harga minyak acuan dunia naik menjadi US$ 87 per barel usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajukan sejumlah tuntutan baru kepada Iran. Hal ini membayangi prospek tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz yang sangat penting bagi perdagangan energi global.
Harga minyak Brent dipatok US$ 87,81 per barel pada pukul 08.40 waktu Singapura atau naik 5% dari sesi sebelumnya. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) stabil di level US$ 82,19 per barel.
Trump telah menuntut kompensasi dari Iran atas seluruh orang yang tewas dalam konflik. Hal ini dilakukan usai Teheran kembali meminta pembayaran ganti rugi sebagai bagian dari perundingan untuk mengakhiri konflik.
Presiden AS ini melalui unggahan di media sosial mengatakan bahwa ia akan memasukkan tuntutan baru tersebut secara tegas dalam setiap negosiasi di masa depan.
Sikap yang semakin keras tersebut membuat kemungkinan Teheran dan Washington mencapai kesepakatan damai menjadi semakin kecil. Padahal, kesepakatan tersebut dapat membantu mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Trump mengatakan kompensasi untuk Iran tidak pernah dibahas dalam negosiasi atau pertemuan keduanya. Namun, sebuah nota kesepahaman (MoU) 14 poin yang disepakati Teheran dan Washington pada Juni memuat rencana bagi AS dan mitra regional untuk menghimpun dana senilai US$ 300 miliar guna memperbaiki Iran setelah perang.
Trump juga memberi sinyal dirinya siap membiarkan tekanan ekonomi terhadap Iran terus meningkat, alih-alih melancarkan serangan militer baru untuk memaksa pembukaan kembali Selat Hormuz. Saat ini, lalu lintas kapal yang melintasi selat tersebut masih sangat terbatas.
Dampak konflik di Timur Tengah ditambah perang Rusia-Ukraina, telah mengganggu operasional kilang minyak dan memperketat pasokan diesel. Harga diesel di Eropa dan AS sama-sama melonjak pada Senin (10/8).
Di tengah memanasnya konflik dengan AS, Iran juga sedang merundingkan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz bersama Oman. Teheran menegaskan kesepakatan itu mengharuskan AS mengakhiri blokadenya serta memberikan kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan.
Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Sebelum perang, sekitar seperlima minyak dunia dan gas alam cair (LNG) dikirim melalui Selat Hormuz.
“Mengingat selat tersebut masih ditutup, persediaan global berkurang secara drastis dan arus pengiriman masih jauh dari tingkat normal, kita dapat melihat aksi short covering secara agresif,” kata Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, Bart Melek dikutip dari Bloomberg, Selasa (11/8).
Konflik di Timur Tengah juga meluas ke Laut Merah, di mana kelompok militan Houthi yang didukung Iran mengancam pelayaran dan infrastruktur energi. Saudi Aramco menunda kembali dimulainya operasi kilang Jazan di wilayah tersebut hingga akhir Agustus, setelah serangan yang diklaim oleh kelompok pemberontak tersebut.





Komentar (0)