Weda Bay Menjadi Titik Awal Industri Alat Berat Listrik

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Di tengah tekanan yang membayangi industri pertambangan, investasi baru di sektor manufaktur alat berat justru terealisasi di Indonesia. Pada akhir Juli lalu, Xuzhou Construction Machinery Group (XCMG) meresmikan pabrik alat berat pertamanya di luar China. Fasilitas ini berlokasi di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera, Maluku Utara.

XCMG merupakan produsen asal China yang menempati peringkat teratas dalam industri mesin konstruksi di negaranya dan masuk ke dalam daftar tiga besar dunia. Peresmian pabrik pada Senin (27/7/2026) tersebut menandai peran baru Indonesia dalam jaringan produksi global untuk peralatan tambang dan konstruksi yang rendah emisi.

Keputusan XCMG untuk membangun pabrik alat berat listrik di Indonesia tidak lepas dari derasnya investasi China, terutama di sektor pertambangan dan hilirisasi mineral. Aliran modal ini terus tumbuh seiring dengan berkembangnya industri pengolahan mineral di Tanah Air.

Deputi Bidang Pelayanan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Andi Maulana, mengatakan, sejak 2021 hingga semester I-2026, realisasi investasi dari ”Negeri Tirai Bambu” telah mencapai 38,34 miliar dolar AS dan menciptakan lebih dari 500.000 lapangan kerja.

”Pada semester I-2026, realisasi investasi sektor hilirisasi mencapai Rp 300 triliun, tumbuh 6,9 persen secara tahunan dan berkontribusi 29,7 persen terhadap total investasi nasional. Sektor mineral menjadi kontributor terbesar dengan realisasi investasi sebesar 12 miliar dolar AS, atau 68,8 persen dari total investasi di sektor energi,” kata Andi pada Kamis (23/7/2026) di Jakarta.

Presiden Direktur sekaligus General Manager XCMG Group Indonesia Kong Qing Chao menjelaskan, Indonesia dipilih karena memiliki pasar yang besar dan upaya mendorong hilirisasi mineral. Indonesia dalam jangka panjang dinilai berpotensi menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri energi baru. Pabrik dibangun di IWIP karena kawasan ini telah didukung jaringan industri yang terintegrasi.

”IWIP telah memiliki lini produksi sel baterai energi baru yang terotomatisasi sehingga mampu menyediakan pasokan komponen dengan cepat bagi produk-produk yang diproduksi di pabrik baru XCMG Indonesia. Ini memperpendek rantai pasok, menurunkan biaya logistik,” kata Kong saat ditemui Kompas, Sabtu (1/8/2026) sore di Jakarta.

Kong menyampaikan, pembangunan pabrik tersebut bertujuan menyediakan solusi bagi industri pertambangan sekaligus memperkuat kemampuan manufaktur Indonesia.

Basis produksi baru

Pabrik XCMG yang baru dibangun di Weda Bay akan menjadi pijakan perusahaan memperluas pasar global melalui manufaktur cerdas dan industri hijau. Fasilitas tersebut juga menjadi lokasi perakitan alat berat energi baru pertama XCMG di luar China. Langkah tersebut sejalan dengan lima arah transformasi perusahaan, yakni high-end development, intelligentization, green development, globalization, dan service-oriented development.

Sejak penandatanganan kerja sama hingga mulai beroperasi, pembangunan pabrik rampung dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar 1,5 tahun. ”Total investasi proyek di Weda Bay mencapai lebih dari RMB 100 juta. Kapasitas produksi tahunannya dirancang mencapai 1.000 unit alat berat energi baru,” jelas Kong.

Produk pertama yang diproduksi ialah wheel loader listrik XC968-EV berkapasitas 6 ton. Unit tersebut diklaim mampu menekan biaya operasional hingga 78 persen dan biaya perawatan sekitar 60 persen dibandingkan dengan peralatan bertenaga solar. Setiap unit juga mampu mengurangi emisi karbon dioksida sekitar 150 ton per tahun. Selain itu, wheel loader ini telah dilengkapi fitur keselamatan berbasis teknologi digital.

”Pada proyek pertambangan nikel di Indonesia, kami telah melengkapi wheel loader listrik dengan fitur electronic geofencing dan sistem peringatan kelelahan operator. Ini akan meningkatkan keselamatan kerja tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan,” papar Kong.

Bagi XCMG, elektrifikasi tidak berhenti pada penggantian mesin diesel dengan alat bertenaga listrik. Unit-unit listrik produksi perusahaan asal China itu dilengkapi arsitektur kontrol elektronik yang memungkinkan integrasi dengan sensor dan sistem manajemen cerdas. Teknologi tersebut menjadi dasar penerapan kendaraan otonom, pengendalian jarak jauh, hingga sistem keselamatan berbasis akal imitasi (AI).

”Di proyek tambang batubara terbuka Yimin di China, XCMG telah berhasil mengoperasikan alat berat listrik tanpa awak secara mandiri. Elektrifikasi bukanlah tujuan akhir, melainkan fondasi utama menuju pertambangan cerdas,” katanya.

Pembangunan pabrik di Weda Bay juga ditujukan untuk mendekatkan kegiatan manufaktur, riset dan pengembangan (research and development/R&D), serta layanan purnajual ke Indonesia. Perusahaan juga akan melakukan alih teknologi kepada tenaga kerja lokal. Saat ini, hampir 80 persen karyawan XCMG Indonesia merupakan tenaga kerja Indonesia.

”Tujuan kami adalah benar-benar bertumbuh bersama industri Indonesia dan menjadi mitra jangka panjang dalam mendorong pembangunan pertambangan yang lebih hijau, lebih cerdas, dan lebih berkelanjutan,” kata Kong.

Pasar sudah ada

Pasar alat berat listrik yang mulai terbentuk di kawasan industri nikel turut menjadi pertimbangan lokasi pendirian pabrik. Komisaris PT Gaya Makmur Tractors (GMT) Edward Cahyadi menjelaskan, pasar loader listrik yang mereka jual sudah terbentuk di kawasan IWIP. PT GMT adalah distributor resmi XCMG di Indonesia.

”Kebutuhan wheel loader listrik Weda Bay cukup besar dan memang sudah banyak dipakai. Kalau kita hitung, loader listriknya yang terjual sudah lebih dari 200 unit,” kata Edward yang juga berstatus sebagai pemilik PT Gaya Makmur Mobil (GMM).

Selain wheel loader, pabrik baru tersebut juga memproduksi ekskavator listrik berukuran kecil. Produk ekskavator yang berukuran 6-7 ton diharapkan dapat membuka pasar baru. Terlebih, di daerah tersebut belum ada pabrik ekskavator.

Edward menilai keberadaan pabrik di Weda Bay akan mempercepat pengadaan alat berat bagi pelanggan mereka di Halmahera dan Indonesia Timur. Selama ini, pelanggan harus menunggu 2-3 bulan karena proses produksi dan pengiriman dari China. Dengan lokasi yang lebih dekat ke pasar, distribusi menjadi lebih cepat. Barang bisa langsung dikirim ketika pembeli sudah transaksi. Biaya logistik pun bisa ditekan hingga 50 persen.

Jika dibandingkan dengan alat berat berbahan bakar solar, investasi awal alat listrik memang lebih mahal. Namun, setelah dipakai untuk kegiatan produksi, biaya operasional loader listrik akan terasa jauh lebih rendah.

”Harga loader listrik sekitar Rp 1,6 miliar, sekitar Rp 1,6 sampai Rp 1,7 miliar. Sebenarnya itu cukup affordable. Namun, mungkin kalau dari sisi investasi dibandingkan yang konvensional, mesin yang solar, memang lebih tinggi. Tapi kalau untuk operational cost-nya, kalau kita hitung bisa lebih hemat sekitar 70-75 persen. Contohnya, kalau dulu dalam satu bulan yang pakai solar biaya maintenance-nya Rp 10 juta, sekarang tinggal Rp 2,5 juta,” paparnya.

Elektrifikasi bertahap

Di luar optimisme produsen, adopsi alat berat listrik di sektor pertambangan nasional diperkirakan akan berlangsung bertahap. Direktur Perkumpulan Tenaga Ahli Alat Berat (Pertaabi) Sigit Pamungkas menilai, penggunaan alat berat listrik di kawasan industri nikel yang terintegrasi sudah menjadi kebutuhan karena pertimbangan ekonomi dan tuntutan pasar hilir. Namun, di sektor pertambangan secara umum, elektrifikasi armada masih berada pada tahap awal.

”Di sektor pertambangan secara nasional, kita masih di tahap awal kurva adopsi. Mungkin 5-10 tahun lagi sebelum elektrifikasi armada menjadi arus utama,” kata Sigit secara tertulis, Rabu (29/7/2026).

Menurut Sigit, alat berat listrik pada akhirnya akan melengkapi armada diesel, bukan menggantikannya sepenuhnya. Kebijakan solar B50 justru meningkatkan daya saing alat berat listrik karena biaya operasi diesel semakin tinggi. Dari sisi ekonomi, alat berat listrik mampu menekan biaya bahan bakar yang mencapai 30-40 persen biaya produksi tambang, sekaligus mengurangi biaya perawatan dan emisi karbon.

Meski demikian, percepatan transisi akan ditentukan oleh harga baterai, kesiapan pasokan listrik di lokasi tambang, serta keputusan kontraktor memasukkan alat berat listrik ke dalam kontrak jangka panjang. Elektrifikasi juga masih menghadapi tantangan teknis dan investasi. Operasi tambang yang berlangsung 24 jam membutuhkan teknologi fast charging atau battery swapping beserta infrastruktur pendukung yang tidak sedikit. Perusahaan pun harus merekayasa ulang operasi tambang, mulai dari rancangan pit, jalur hauling, hingga jadwal kerja.

”Dengan elektrifikasi bukan sekadar mengganti unit, tetapi merekayasa ulang operasi,” tegas Sigit.

Tantangan lain ialah sebagian besar tambang masih berada di luar jaringan listrik (off-grid), padahal elektrifikasi armada membutuhkan pasokan listrik hingga puluhan megawatt. Kondisi iklim tropis Indonesia juga menuntut sistem pendingin dan perlindungan baterai yang lebih andal. Di sisi lain, ketersediaan data degradasi baterai sebagai dasar penghitungan usia ekonomis dan nilai jual kembali masih terbatas.

Ekosistem pendukung pun belum sepenuhnya terbentuk. Suku cadang utama, seperti baterai, motor, dan inverter, masih bergantung pada impor. Jumlah teknisi bersertifikat juga terbatas, sementara pasar alat berat listrik bekas belum berkembang.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Sigit menilai kehadiran pabrik XCMG di Weda Bay menjadi sinyal bahwa produsen global melihat Indonesia sebagai pasar sekaligus basis pengembangan industri. Kehadiran pabrik alat berat listrik di Indonesia diyakini dapat mempercepat terbentuknya jejaring industri. Namun, investasi tersebut harus disertai alih teknologi, bukan sekadar perakitan.

”Peresmian pabrik dari luar negeri ini adalah sinyal bahwa produsen sudah bertaruh transisi itu akan terjadi dan mereka memilih Indonesia sebagai basisnya,” ujarnya.

Sigit memperkirakan kawasan industri nikel akan menjadi pelopor penggunaan alat berat listrik dalam lima hingga 10 tahun mendatang karena telah memiliki pembangkit listrik sendiri dan jarak angkut yang relatif pendek.

Investasi dan pembangunan pabrik asal ”Negeri Tirai Bambu” menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar alat berat. Negeri ini mulai diposisikan sebagai basis manufaktur untuk mendukung transisi menuju pertambangan rendah emisi. Meski elektrifikasi akan berlangsung bertahap, kawasan industri nikel telah memberi sinyal bahwa perubahan itu sudah dimulai.

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Astagfirullah Artinya Apa? Ini Makna dan Keutamaannya
• 2 jam lalu
0
thumb
Pemkab Sorong Sebar 4.000 Bendera Merah Putih ke Seluruh Distrik
• 15 jam lalu
0
thumb
Ashanty hingga Atta Halilintar Siap Adu Strategi di Kompetisi Live Commerce Dunia
• 17 jam lalu
0
thumb
Pasukan Yaman Gagalkan Serangan Drone yang Dekati Fasilitas Vital di Aden
• 18 jam lalu
0
thumb
Strategi Pemerintah Cegah Asap Karhutla Menyebar ke Negara Tetangga
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.