Di rentang waktu dari Oktober 2025 hingga Juli 2026, Kompas menggelar liputan Jelajah Masyarakat Adat. Dalam Jelajah Masyarakat Adat ini, banyak direkam kehidupan masyarakat adat dengan berbagai potensi dan permasalahan yang mereka hadapi.
Diawali dengan diskusi kelompok terfokus, Jelajah Masyarakat Adat kemudian melakukan perjalanan liputan di lima wilayah yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Kelima wilayah itu adalah Maybrat di Papua Barat Daya, Sekadau di Kalimantan Barat, Banggai Kepulauan di Sulawesi Tengah, Wawonii di Sulawesi Tenggara, dan Pidie di Aceh.
Berikut cerita perjalanan liputan tim Kompas ke lima wilayah itu.
Warga suku Mare menyelesaikan pekerjaannya menggunakan komputer jinjing yang terhubung jaringan internet di Kampung Seya, Distrik Mare, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, Minggu (25/1/2026). (KOMPAS/HERU SRI KUMORO)
Mariane Bame (60), membuat noken di teras rumahnya di Kampung Kombif, Distrik Mare. (KOMPAS/HERU SRI KUMORO)
Mariane Bame (60) memanen kacang panjang di kebunnya di Kampung Kombif, Distrik Mare. (KOMPAS/HERU SRI KUMORO)
Akses jalan di Kampung Sire Timur, Distrik Mare Selatan, Kabupaten Maybrat. (KOMPAS/HERU SRI KUMORO)
Bangunan yang rencananya akan menjadi Mare Mart sedang diselesaikan pembangunannya. (KOMPAS/HERU SRI KUMORO)
Suku Mare tinggal di Mare, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, dengan wilayah adat seluas 58.000 hektar. Mereka hidup dengan memanfaatkan alam, menanam berbagai komoditas di ladang. Beragam cara dilakukan untuk menjaga alam, salah satunya, mereka menerapkan ladang berpindah untuk memberikan kesempatan alam memulihkan diri. Di Mare, Kompas melihat adanya fenomena keberadaan noken yang mulai terancam dengan keberadaan kantong plastik yang mudah didapatkan.
Bagi masyarakat Papua, noken adalah salah satu identitas masyarakat. Hampir semua suku dan masyarakat adat di Papua membuat noken dengan ciri khas masing-masing, mulai dari motif, warna, hingga bahan yang digunakan. Semua bergantung pada ketersediaan bahan-bahan di sekitar tempat tinggal.
Meski menjadi identitas khas, keberadaan noken mulai terancam. Sebagai peralatan pembawa barang, fungsi noken mulai tergantikan oleh barang lain yang lebih mudah didapatkan.
Memang masih ada warga yang membuat noken dan menjualnya. Namun, mayoritas perajin noken adalah warga berusia lanjut. Jarang anak-anak muda yang mau membuat noken. Salah satu fenomena itu bisa ditemui di suku Mare yang tinggal di Maybrat, Papua Barat. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat adat dalam mempertahankan identitasnya.
Warga suku Dayak Taman Meragun bergotong royong membangun rumah salah satu warga di Kampung Sangke, Desa Meragun, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalbar, Rabu (4/3/2026). (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Warga dari masyarakat Dayak Desa mengumpulkan buah asam maram (Eleiodoxa Conferta) di Hutan Adat Tapang Sambas. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Warga dari masyarakat Dayak Desa mencari hasil hutan bukan kayu di Hutan Adat Tapang Sambas. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Warga suku Dayak Taman Meragun bergotong royong membangun rumah salah satu warga di Kampung Sangke, Desa Meragun, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalbar, Rabu (4/3/2026). (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Liputan Jelajah Masyarakat Adat untuk segmen Kalimantan Barat dilakukan pada Maret 2026. Lokasi pertama adalah Kabupaten Sekadau, kemudian dilanjutkan ke Sintang. Di Sekadau, Kompas menemui masyarakat adat Dayak Desa yang tinggal di Desa Tapang Semadak, Kecamatan Sekadau Hilir.
Selain berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari, mereka juga mengajak Kompas untuk menyusuri Hutan Adat Tapang Sambas. Di hutan adat tersebut, warga mencari hasil hutan bukan kayu, seperti buah-buahan, rotan, dan daun pandan. Sebelum ikut masuk ke hutan adat, tim harus mengikuti sebuah ritual kecil yang dilakukan dengan cara menyembelih ayam.
Ritual diawali dengan menyembelih seekor ayam yang dilakukan oleh Ketua Masyarakat Adat Tapang Sambas, Ranu, dan Cornelius Liyun. Selesai ayam disembelih, kemudian tetesan darahnya disebar di beberapa titik di dalam hutan.
Selain masyarakat adat Dayak Desa di Sekadau, Kompas juga bertemu dengan masyarakat adat Dayak Taman Meragun yang tinggal di Desa Meragun, Kecamatan Nanga Taman. Di Desa Meragun, Kompas mengabadikan ”Niri Rumah”. Tradisi warga Meragun yang berkumpul di salah satu rumah warga untuk memasang tiang pancang rumah orang Dayak. Tradisi ini disebut pengari hidup atau gotong royong.
Ubi Banggai di Lumbi-lumbia, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, Minggu (12/7/2026). (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Lanskap permukiman warga di Desa Bulagi II, Bulagi, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, Minggu (12/7/2026).(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Warga membudidayakan ikan babora atau ikan kuwe di Desa Bulagi II, Bulagi, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, Minggu (12/7/2026). (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Warga berkumpul di Tugu Sea-Sea, Desa Osan, Bulagi Selatan, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, Sabtu (11/7/2026).(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Perjalanan menuju Desa Osan di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, bukan hal yang mudah. Setibanya di Luwuk, ibu kota Kabupaten Banggai, perjalanan dilanjutkan dengan feri sekitar 5 jam untuk menyeberang ke Pulau Peleng.
Berbeda dari mayoritas penduduk Banggai Kepulauan yang bermukim di pesisir, Desa Osan berada di wilayah pegunungan. Desa Osan berjarak sekitar 168 kilometer dari pusat kota Banggai Kepulauan, Salakan. Desa ini menyimpan sejarah panjang tentang awal mula terbentuknya masyarakat adat Sesea di Pulau Peleng.
Tari-tarian dan musik tradisional langsung menyambut setibanya di desa itu. Kebiasaan dalam menyambut tamu menjadi visual menarik dari Desa Osan. Penari perempuan membawakan tari Salendeng. Dilanjutkan pertarungan dua lelaki dalam tari Balatindak. Kedua tarian itu diiringi musik tradisional yang disebut Tatabua.
Sejarah masyarakat adat Sesea terabadikan dalam Tugu Sesea yang berada di wilayah perbukitan sekitar permukiman warga. Tugu itu menjadi simbol pengakuan berbagai komunitas adat terhadap Desa Osan sebagai kampung asal leluhur mereka.
Suasana di perairan Desa Sukarela Jaya, Kecamatan Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara, saat warga beramai-ramai berburu ikan, Sabtu (13/6/2026).
(KOMPAS/PRIYOMBODO)
Warga berlari mengejar ikan di perairan di Desa Sukarela Jaya, Kecamatan Wawonii Tenggara. (KOMPAS/PRIYOMBODO)
Keanggunan air terjun Tumburano di tengah hutan di Kecamatan Wawonii Utara, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara, Selasa (16/6/2026). (KOMPAS/PRIYOMBODO)
Pekerja memisahkan daging kelapa dengan batok untuk diproduksi menjadi kopra di Desa Kawa-Kawali, Wawonii Barat. (KOMPAS/PRIYOMBODO)
Pulau Wawonii merupakan pulau yang sangat subur dan dikenal sebagai Pulau Kelapa. Perjalanan ke pulau ini sejatinya adalah liputan untuk merekam bagaimana masyarakat menjaga alam yang memberinya penghidupan dari aneka ragam hasil kebun, seperti kelapa, mete, pala, dan cengkeh.
Di Desa Sukarela Jaya, Kecamatan Wawonii Tenggara, Kompas merekam keteguhan masyarakat menjaga tanah kebun mereka dan sumber air yang selama ini menghidupi. Dalam perjalanan berjarak sekitar 3 kilometer menuju mata air Banda, Kompas melintasi kebun warga yang menjadi sumber penghidupan mereka. Konon, pohon-pohon yang tumbuh subur ini ditanam peladang dengan doa. Tradisi membisikkan doa ke setiap bibit pohon yang ditanam dikenal dengan nama ashalla.
Salah satu tradisi unik di Wawonii adalah mendoko. Tradisi terkait laut ini adalah kegiatan masyarakat berburu ikan saat air laut surut. Perburuan ini dilakukan oleh kaum laki-laki, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Hasil perburuan ikan tidak untuk dijual, tetapi untuk dibagikan kepada warga sekitar. Tradisi ini biasanya dilakukan pada musim angin timur yang berlangsung selama Juni hingga Agustus.
Warga menaiki mobil pikap khusus untuk berkebun di kawasan hutan adat Mukim Paloh di Padang Tiji, Kabupaten Pidie, Aceh, Senin (20/7/2026). (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Warga membawa batang kayu yang akan digunakan untuk pagar di kawasan hutan adat Mukim Paloh di Padang Tiji, Kabupaten Pidie, Aceh, Senin (20/7/2026). (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Warga menggunakan pelepah pinang sebagai piring saat mengikuti kenduri "batu demam" untuk meminta hujan di Kawasan hutan adat Mukim Kunyet di Padang Tiji, Kabupaten Pidie, Aceh, Minggu (19/7/2026). (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Salah seorang warga bersiap meninggalkan lokasi kenduri "batu demam". (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)
Aceh menjadi segmen penutup dalam Jelajah Masyarakat Adat. Liputan di Aceh berlangsung pada Juli 2026. Lokasi liputan adalah hutan adat Mukim Kunyet dan hutan adat Mukim Paloh yang berada di Kecamatan Padang Tiji, Pidie, Aceh.
Sejak September 2023, delapan masyarakat hukum adat mukim di Provinsi Aceh mendapatkan legalitas mengelola hutan adat, termasuk Mukim Kunyet dan Mukim Paloh. Dari luas 4.106 hektar yang diusulkan, Mukim Kunyet memperoleh pengakuan hutan adat seluas 1.280 hektar. Hutan adat Mukim Kunyet berjarak sekitar 7 kilometer dari desa terdekat, Gampong Cot Kunyet. Jarak itu harus ditempuh selama dua jam dengan menggunakan mobil gardan ganda karena jalanan berupa tanah dan berbatu.
Saat perjalanan turun dari hutan adat, Kompas berjumpa dengan warga yang menggelar kenduri ”batu demam”, sebuah tradisi warga lokal untuk meminta hujan. Tradisi diawali dengan doa, lalu makan bersama makanan yang dimasak di lokasi. Kenduri diikuti belasan orang dari salah satu kelompok petani Mukim Kunyet. Mereka memohon hujan untuk mengairi sawah yang kekurangan air karena kemarau. Kenduri diakhiri dengan ritual melempar batu ke kolam yang berada di aliran sungai.
Itu sepenggal cerita liputan Jelajah Masyarakat Adat. Sebanyak 50 karya foto, termasuk lima foto cerita, dipamerkan dalam Pameran Foto Kompas Merangkai Jejak Masyarakat Adat. Pameran ini digelar di Bentara Budaya Art Gallery dan berlangsung hingga 14 Agustus nanti.






Komentar (0)