Sanaa: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa perang berskala besar di Yaman berisiko kembali meletus sejak gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2022.
Risiko ini terkait kembali memanasnya baku tembak antara kelompok pemberontak Houthi dan Arab Saudi.
Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg mengatakan eskalasi terbaru tidak hanya mengancam keberlangsungan gencatan senjata, tetapi juga berpotensi menyeret Yaman ke dalam konflik regional yang lebih luas setelah runtuhnya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
"Yaman saat ini menghadapi risiko kembalinya konflik berskala besar yang lebih tinggi dibandingkan kapan pun sejak gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2022," kata Grundberg, seperti dilansir dari India Today, Senin, 10 Agustus 2026.
Ia menambahkan eskalasi tersebut dapat "mengancam capaian gencatan senjata 2022 sekaligus menyeret negara itu ke konfrontasi regional yang lebih luas, dengan konsekuensi yang menghancurkan bagi rakyat Yaman."
Menurut Grundberg, pihaknya telah melakukan pembicaraan intensif dengan berbagai pihak di Yaman maupun pemerintah negara-negara kawasan untuk mencegah situasi semakin memburuk. Dipicu Serangan di Bandara Sanaa Gelombang eskalasi terbaru bermula pada 13 Juli, ketika serangan udara Arab Saudi menghantam landasan Bandara Sanaa sehingga menggagalkan pendaratan pesawat Iran yang membawa delegasi senior Houthi.
Sejumlah pejabat pemerintah Yaman dan Houthi, yang berbicara tanpa menyebut identitas, mengatakan kelompok Houthi merasa lebih percaya diri setelah perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, serta kini menuntut konsesi politik dan ekonomi dari Arab Saudi, termasuk pencabutan blokade terhadap wilayah yang mereka kuasai.
Delegasi Houthi akhirnya tetap terbang menggunakan maskapai Iran Mahan Air, yang berada di bawah sanksi Amerika Serikat. Langkah tersebut memicu serangan koalisi pimpinan Arab Saudi yang melumpuhkan Bandara Sanaa.
Seorang pejabat negara Teluk mengatakan koalisi kemudian mengizinkan pesawat tersebut mendarat di Kota Hodeidah melalui mediasi Oman guna mencegah eskalasi lebih lanjut. Serangan Balasan Terus Meningkat Setelah insiden di Bandara Sanaa, Houthi melancarkan serangan terhadap Bandara Abha di Arab Saudi serta mengumumkan blokade terhadap pelayaran Saudi di Laut Merah. Kelompok itu juga menyerang kapal dan fasilitas minyak Arab Saudi.
Sebagai balasan, koalisi pimpinan Arab Saudi menggempur Hodeidah dan Pulau Kamaran serta memperkuat pasukan pemerintah Yaman di garis depan.
Mengantisipasi kemungkinan ofensif darat, Houthi kemudian meluncurkan puluhan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer di Yaman tengah dan selatan, yang menewaskan puluhan tentara dan warga sipil. Kelompok itu juga menyerang Kota Mokha hingga merusak pelabuhan strategis yang masih dikuasai pemerintah Yaman.
Analis senior International Crisis Group, Ahmed Nagi, menilai eskalasi terbaru menunjukkan perubahan strategi Houthi. Jika sebelumnya mereka berfokus pada isu-isu pembangunan kepercayaan, seperti pembayaran gaji pegawai negeri, kini kelompok tersebut lebih menekankan klaim kedaulatan atas wilayah udara, pelabuhan, dan perairan Yaman.
Menurutnya, langkah itu meningkatkan taruhan politik dan membuat peluang kompromi di masa depan menjadi jauh lebih sulit.
Baca juga: Pasukan Yaman Gagalkan Serangan Drone yang Dekati Fasilitas Vital di Aden





Komentar (0)