JAKARTA, KOMPAS.com - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di tengah musim kemarau membuat Presiden Prabowo Subianto memerintahkan seluruh jajarannya bergerak cepat.
Penanganan karhutla diminta dilakukan secara maksimal dan terkoordinasi, seiring meningkatnya risiko kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga September atau Oktober 2026.
Pemerintah pun mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi potensi El Nino ekstrem yang belakangan dikenal dengan sebutan "Godzilla".
Istilah tersebut mencuat setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap potensi terjadinya kombinasi El Nino Southern Oscillation (ENSO) positif dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang dapat memperparah dampak kekeringan di Indonesia.
Baca juga: Karhutla di Era Prabowo dan Ultimatum Jokowi ke Pangdam-Kapolda yang Masih Berlaku
Sebutan El Nino "Godzilla" pertama kali diperkenalkan ilmuwan NASA Bill Patzert pada 2015 untuk menggambarkan fenomena El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas terhadap iklim global.
Fenomena ini menyebabkan pembentukan awan hujan bergeser menjauh dari wilayah Indonesia.
Akibatnya, curah hujan menurun drastis sehingga risiko kekeringan dan kebakaran hutan semakin meningkat.
107.000 hektar lahan hangus terbakar
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mengungkapkan, hingga saat ini kebakaran telah menghanguskan lebih dari 107.000 hektar hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Djamari, karhutla terjadi di tengah fenomena El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga September atau Oktober 2026.
“Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan terhitung 107.000 hektar lebih,” ungkap Djamari, saat ditemui usai rapat koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait di Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Komentar (0)