Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Kamerun Paul Biya kembali menjadi sorotan setelah menghabiskan beberapa minggu di Jenewa, Swiss. Kepergiannya sejak 7 Juni untuk alasan pribadi memicu kritik terkait kepemimpinan negara di tengah spekulasi mengenai kondisi kesehatannya.
Biya, 93 tahun, merupakan kepala negara tertua di dunia dan telah memimpin Kamerun selama lebih dari empat dekade. Pemerintah menyatakan perjalanan tersebut merupakan "tinggal sebentar dan pribadi" bersama istrinya, seperti dikutip AfricaNews, Senin (10/8/2026).
Kunjungan Biya ke Jenewa bukan hal baru. Ia telah berulang kali melakukan perjalanan ke kota tersebut dalam beberapa tahun terakhir, sementara kondisi kesehatannya terus menjadi bahan spekulasi publik.
- Retak! Netanyahu Tiba-Tiba Emosi ke Trump, Buang Rencana AS Soal Gaza
- Mojtaba Khamenei akan Segera Muncul di Depan Publik Iran
Pemerintah Kamerun membantah kabar mengenai kondisi kesehatan serius sang presiden. Menteri Komunikasi Kamerun sebelumnya menepis laporan yang menyebut Biya sempat dirawat di rumah sakit di Jenewa.
Namun, ketidakhadiran Biya di dalam negeri menuai kritik dari kubu oposisi. Tokoh oposisi Mamadou Mota menyebut absennya presiden sebagai "kekosongan institusional yang mencolok".
Presiden Uni Demokratik Kamerun (UDC) Patricia Tomaino Ndam Njoya juga mendesak pemerintah menetapkan mekanisme yang jelas untuk menghadapi kondisi ketika presiden tidak mampu menjalankan tugasnya.
Ia menyerukan adanya "prosedur yang tidak memihak untuk menentukan ketidakmampuan sementara atau permanen" kepala negara.
Sorotan terhadap Biya bukan kali ini saja terjadi. Pada akhir 2024, ia juga menuai kritik setelah tercatat tidak berada di Kamerun selama sekitar 50 hari, memicu kembali perdebatan mengenai kapasitasnya memimpin negara di usia yang telah mencapai 93 tahun.
(luc/luc)





Komentar (0)