Guiyang (ANTARA) - Dalam perjalanan keduanya ke China, seorang pemudi Indonesia bernama Najwa Nur Awalia (24) memperoleh sudut pandang baru mengenai negara tersebut melalui kunjungan mendalam ke Provinsi Guizhou, China barat daya.
Pada awal Agustus, para kreator konten dan perwakilan pemuda asal lebih dari 10 negara, termasuk Indonesia, Brasil dan Thailand, mengunjungi Guizhou untuk mengikuti kegiatan pertukaran dan pengalaman budaya.
Najwa merupakan lulusan 2024 dari program studi geografi lingkungan. Saat ini, dia bekerja di bidang konsultasi pendidikan dan mengelola sejumlah akun media sosial yang berfokus pada pengembangan generasi muda.
Lawatannya ke Guizhou menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan. Setelah sempat gagal lolos seleksi pada program dialog pemuda sebelumnya, dia direkomendasikan oleh komite penyelenggara untuk mengikuti kegiatan pertukaran itu, yang memberinya peluang untuk mengeksplorasi budaya China lebih jauh.
"Saya selalu tertarik dengan perkembangan dan kebudayaan China, dan saya sangat senang bisa mendapatkan pengalaman secara langsung pada kesempatan kali ini," ungkap Najwa, yang berpartisipasi dalam program musim panas di Universitas Zhejiang pada 2023.
Perjalanan kali ini mencakup berbagai aktivitas, mulai dari pengalaman budaya tradisional hingga kunjungan yang menyoroti perkembangan industri setempat.
Di kota kuno Longli di wilayah Jinping, Najwa menjajal seni lukis wajah tradisional. Dia memperlihatkan motif kupu-kupu yang telah dia persiapkan kepada sang pelukis, kemudian meminta agar motif tersebut dipadukan ke dalam desain lukisan untuk wajahnya.
Dengan sejarah lebih dari 600 tahun, kota kuno Longli awalnya dibangun sebagai sebuah benteng militer yang diperkirakan berasal dari era Dinasti Ming (1368-1644).
Kota itu kemudian dimasukkan ke dalam sebuah proyek ekomuseum yang disponsori oleh pemerintah China dan Norwegia.
Dalam hitungan menit, lukisan wajah yang memadukan motif tradisional dengan elemen kupu-kupu pun rampung. Najwa kemudian memotret hasil karya tersebut menggunakan ponselnya dan berpose untuk difoto bersama dengan para partisipan lainnya.
Tari naga dengan pemain yang wajahnya dilukis, yang merupakan pertunjukan seni rakyat khas kota itu, telah dimasukkan ke daftar warisan budaya takbenda tingkat provinsi. Menggabungkan tari naga dan elemen-elemen opera tradisional, pertunjukan itu menyuguhkan para penari dengan riasan wajah beragam yang disesuaikan dengan peran mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir, seniman-seniman setempat menyempurnakan desain riasan wajah tradisional sekaligus menciptakan karya improvisasi berdasarkan preferensi individual.
"Ini pertama kalinya wajah saya dilukis. Memadukan elemen kupu-kupu kesukaan saya ke dalam kesenian tradisional merupakan hal yang sangat baru," ungkap Najwa. Dia merasa terkesan karena sang pelukis hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk mempelajari gambar rujukan sebelum membuat desain dan memilih warna yang disesuaikan dengan seleranya. "Ini salah satu karya seni kupu-kupu terbaik yang pernah saya lihat. Karya ini memadukan sejarah dan seni dengan sempurna," imbuh Najwa.
Menurut Najwa, pengalaman memadukan preferensi pribadinya ke dalam seni tradisional memberinya pemahaman yang lebih langsung mengenai warisan budaya takbenda China.
Selanjutnya, Najwa pun menjajal tari naga. Pengalaman ini memberi Najwa sudut pandang lain mengenai budaya rakyat tradisional, yakni pentingnya kerja sama tim.
Di bawah bimbingan Wang Zhenwei, seorang pewaris kesenian tari naga dengan pemain yang wajahnya dilukis, Najwa dan para partisipan lainnya mempelajari gerakan-gerakan dasar pertunjukan tersebut.
"Awalnya memang sedikit melelahkan, seperti berolahraga, sehingga membuat saya berkeringat. Tari naga menuntut setiap orang untuk bekerja sama secara erat dan mengikuti ritme kepala naga," tutur Najwa. "Namun, tari ini sungguh menarik. Saya rasa tari ini merupakan harta sejarah dan budaya yang patut dihargai dan dilestarikan oleh generasi muda."
Najwa menuturkan bahwa tari naga lazim dipertunjukkan oleh komunitas keturunan Tionghoa di Indonesia saat perayaan festival. Pengalaman mempraktikkan tari itu secara langsung membuat dirinya lebih mengapresiasi keseruan tradisi rakyat tersebut serta pentingnya kerja sama tim.
Dalam lawatannya ke kota kuno Longli, Najwa juga terkesan oleh bangunan-bangunan bersejarah yang terawat dengan baik dan suasana kehidupan warga setempat yang marak. Kendati terkendala bahasa, warga setempat tetap berkomunikasi dengannya lewat gestur sederhana dan aplikasi penerjemahan, bahkan berinisiatif memperkenalkan budaya serta kuliner lokal kepadanya.
Sorotan lain dari lawatan tersebut adalah matca. Di wilayah Jiangkou, rombongan kaum muda tersebut mencicipi beragam kudapan berbahan dasar matca dan menyelami budaya "diancha", yakni seni mengaduk bubuk teh peninggalan Dinasti Song (960-1279).
Gui Tea Group, yang berbasis di Jiangkou, menjual lebih dari 2.500 ton matca pada 2025, dengan nilai output melampaui 500 juta yuan (1 yuan = Rp2.654). Perusahaan itu menyampaikan bahwa produk-produknya telah diekspor ke lebih dari 50 negara dan kawasan, termasuk Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia.
Pengalaman mencicipi matca juga meninggalkan kesan mendalam bagi Najwa. Sebagai seorang pencinta matca, dia mempelajari lebih lanjut mengenai proses produksi matca selama kunjungan tersebut, dan mengetahui bagaimana perbedaan suhu penyangraian dapat memengaruhi aroma dan cita rasa matca.
"Matca di China berbeda dengan yang pernah saya cicipi di Indonesia maupun Jepang, dan pemanfaatannya juga sangat luas -- tak sekadar untuk minuman, melainkan juga untuk biskuit, hidangan penutup, hingga kentang goreng matca," tutur Najwa.
Dia menuturkan bahwa di Indonesia, matca umumnya disajikan sebagai minuman di kafe-kafe, sementara ragam produk matca yang dia jumpai di China membuka matanya terhadap berbagai kemungkinan baru.
Sebagai kreator media sosial yang berfokus pada pengembangan generasi muda, Najwa berencana memproduksi konten seputar pengalamannya di China dan membagikannya kepada lebih banyak anak muda di Indonesia. Dia mengungkapkan harapannya untuk membangun jembatan bagi pertukaran budaya antara kedua negara, sekaligus memperkenalkan hubungan persahabatan yang erat antara China dan Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.
Pada awal Agustus, para kreator konten dan perwakilan pemuda asal lebih dari 10 negara, termasuk Indonesia, Brasil dan Thailand, mengunjungi Guizhou untuk mengikuti kegiatan pertukaran dan pengalaman budaya.
Najwa merupakan lulusan 2024 dari program studi geografi lingkungan. Saat ini, dia bekerja di bidang konsultasi pendidikan dan mengelola sejumlah akun media sosial yang berfokus pada pengembangan generasi muda.
Lawatannya ke Guizhou menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan. Setelah sempat gagal lolos seleksi pada program dialog pemuda sebelumnya, dia direkomendasikan oleh komite penyelenggara untuk mengikuti kegiatan pertukaran itu, yang memberinya peluang untuk mengeksplorasi budaya China lebih jauh.
"Saya selalu tertarik dengan perkembangan dan kebudayaan China, dan saya sangat senang bisa mendapatkan pengalaman secara langsung pada kesempatan kali ini," ungkap Najwa, yang berpartisipasi dalam program musim panas di Universitas Zhejiang pada 2023.
Perjalanan kali ini mencakup berbagai aktivitas, mulai dari pengalaman budaya tradisional hingga kunjungan yang menyoroti perkembangan industri setempat.
Di kota kuno Longli di wilayah Jinping, Najwa menjajal seni lukis wajah tradisional. Dia memperlihatkan motif kupu-kupu yang telah dia persiapkan kepada sang pelukis, kemudian meminta agar motif tersebut dipadukan ke dalam desain lukisan untuk wajahnya.
Dengan sejarah lebih dari 600 tahun, kota kuno Longli awalnya dibangun sebagai sebuah benteng militer yang diperkirakan berasal dari era Dinasti Ming (1368-1644).
Kota itu kemudian dimasukkan ke dalam sebuah proyek ekomuseum yang disponsori oleh pemerintah China dan Norwegia.
Dalam hitungan menit, lukisan wajah yang memadukan motif tradisional dengan elemen kupu-kupu pun rampung. Najwa kemudian memotret hasil karya tersebut menggunakan ponselnya dan berpose untuk difoto bersama dengan para partisipan lainnya.
Tari naga dengan pemain yang wajahnya dilukis, yang merupakan pertunjukan seni rakyat khas kota itu, telah dimasukkan ke daftar warisan budaya takbenda tingkat provinsi. Menggabungkan tari naga dan elemen-elemen opera tradisional, pertunjukan itu menyuguhkan para penari dengan riasan wajah beragam yang disesuaikan dengan peran mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir, seniman-seniman setempat menyempurnakan desain riasan wajah tradisional sekaligus menciptakan karya improvisasi berdasarkan preferensi individual.
"Ini pertama kalinya wajah saya dilukis. Memadukan elemen kupu-kupu kesukaan saya ke dalam kesenian tradisional merupakan hal yang sangat baru," ungkap Najwa. Dia merasa terkesan karena sang pelukis hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk mempelajari gambar rujukan sebelum membuat desain dan memilih warna yang disesuaikan dengan seleranya. "Ini salah satu karya seni kupu-kupu terbaik yang pernah saya lihat. Karya ini memadukan sejarah dan seni dengan sempurna," imbuh Najwa.
Menurut Najwa, pengalaman memadukan preferensi pribadinya ke dalam seni tradisional memberinya pemahaman yang lebih langsung mengenai warisan budaya takbenda China.
Selanjutnya, Najwa pun menjajal tari naga. Pengalaman ini memberi Najwa sudut pandang lain mengenai budaya rakyat tradisional, yakni pentingnya kerja sama tim.
Di bawah bimbingan Wang Zhenwei, seorang pewaris kesenian tari naga dengan pemain yang wajahnya dilukis, Najwa dan para partisipan lainnya mempelajari gerakan-gerakan dasar pertunjukan tersebut.
"Awalnya memang sedikit melelahkan, seperti berolahraga, sehingga membuat saya berkeringat. Tari naga menuntut setiap orang untuk bekerja sama secara erat dan mengikuti ritme kepala naga," tutur Najwa. "Namun, tari ini sungguh menarik. Saya rasa tari ini merupakan harta sejarah dan budaya yang patut dihargai dan dilestarikan oleh generasi muda."
Najwa menuturkan bahwa tari naga lazim dipertunjukkan oleh komunitas keturunan Tionghoa di Indonesia saat perayaan festival. Pengalaman mempraktikkan tari itu secara langsung membuat dirinya lebih mengapresiasi keseruan tradisi rakyat tersebut serta pentingnya kerja sama tim.
Dalam lawatannya ke kota kuno Longli, Najwa juga terkesan oleh bangunan-bangunan bersejarah yang terawat dengan baik dan suasana kehidupan warga setempat yang marak. Kendati terkendala bahasa, warga setempat tetap berkomunikasi dengannya lewat gestur sederhana dan aplikasi penerjemahan, bahkan berinisiatif memperkenalkan budaya serta kuliner lokal kepadanya.
Sorotan lain dari lawatan tersebut adalah matca. Di wilayah Jiangkou, rombongan kaum muda tersebut mencicipi beragam kudapan berbahan dasar matca dan menyelami budaya "diancha", yakni seni mengaduk bubuk teh peninggalan Dinasti Song (960-1279).
Gui Tea Group, yang berbasis di Jiangkou, menjual lebih dari 2.500 ton matca pada 2025, dengan nilai output melampaui 500 juta yuan (1 yuan = Rp2.654). Perusahaan itu menyampaikan bahwa produk-produknya telah diekspor ke lebih dari 50 negara dan kawasan, termasuk Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia.
Pengalaman mencicipi matca juga meninggalkan kesan mendalam bagi Najwa. Sebagai seorang pencinta matca, dia mempelajari lebih lanjut mengenai proses produksi matca selama kunjungan tersebut, dan mengetahui bagaimana perbedaan suhu penyangraian dapat memengaruhi aroma dan cita rasa matca.
"Matca di China berbeda dengan yang pernah saya cicipi di Indonesia maupun Jepang, dan pemanfaatannya juga sangat luas -- tak sekadar untuk minuman, melainkan juga untuk biskuit, hidangan penutup, hingga kentang goreng matca," tutur Najwa.
Dia menuturkan bahwa di Indonesia, matca umumnya disajikan sebagai minuman di kafe-kafe, sementara ragam produk matca yang dia jumpai di China membuka matanya terhadap berbagai kemungkinan baru.
Sebagai kreator media sosial yang berfokus pada pengembangan generasi muda, Najwa berencana memproduksi konten seputar pengalamannya di China dan membagikannya kepada lebih banyak anak muda di Indonesia. Dia mengungkapkan harapannya untuk membangun jembatan bagi pertukaran budaya antara kedua negara, sekaligus memperkenalkan hubungan persahabatan yang erat antara China dan Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.






Komentar (0)