Dari Landhuis hingga Museum, Menelusuri Awal Mula Munculnya Gedung Juang Bekasi

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

BEKASI, KOMPAS.com – Bangunan putih dengan arsitektur khas kolonial yang berdiri di Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyimpan perjalanan panjang sejarah Bekasi.

Bangunan yang kini dikenal sebagai Gedung Juang Tambun itu telah melewati berbagai zaman.

Dahulu, tempat ini merupakan bagian dari kompleks landhuis yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi partikelir pada masa kolonial.

Baca juga: Jejak Gedung Juang: Bangunan Kolonial yang Jadi Saksi Sejarah Panjang Bekasi

Gedung Juang kemudian mengalami perubahan fungsi seiring pergantian kekuasaan.

Bangunan itu bahkan pernah digunakan sebagai markas militer Jepang dan menjadi salah satu titik penting dalam perjuangan masyarakat Bekasi pada masa revolusi kemerdekaan.

Kini, setelah melalui revitalisasi, Gedung Juang kembali menemukan fungsi baru sebagai museum modern.

Sejarah Bekasi yang tersimpan di dalamnya tidak hanya disajikan melalui koleksi dan panel informasi, tetapi juga melalui teknologi digital seperti audio visual, buku interaktif, dan immersive room.

Jejak Gedung Juang pada era kolonial

Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Bekasi Mustasim Billah mengatakan, hingga kini belum ditemukan data yang benar-benar memastikan kapan Gedung Juang dibangun.

"Kalau kita bicara soal tahun, sampai saat ini kami masih belum menemukan data pasti kapan bangunan ini dibuat. Yang jelas, bangunan ini merupakan bagian dari konsep ekonomi partikelir yang terjadi di Bekasi," ujar Mustasim kepada Kompas.com, Senin (10/8/2026).

Salah satu petunjuk mengenai usia bangunan ditemukan dari foto lama yang memperlihatkan keberadaan lonceng di bagian depan Gedung Juang.

Menurut Mustasim, lonceng merupakan salah satu penanda yang lazim ditemukan pada landhuis. Pada lonceng yang terlihat dalam foto tersebut terdapat angka 1906.

Baca juga: Gedung Juang Bekasi Kini Punya Immersive Room, Bikin Anak Muda Makin Dekat dengan Sejarah

Angka itu menjadi salah satu petunjuk bahwa bangunan utama Gedung Juang kemungkinan selesai dibangun sekitar 1906. Namun, kompleks Gedung Juang ternyata tidak dibangun dalam satu waktu.

Bangunan di sebelah timur gedung utama yang kini digunakan sebagai kafe, misalnya, dahulu merupakan paviliun. Pada bagian belakang bangunan terdapat hiasan kemuncak atau gable top yang mencantumkan angka 1910.

"Artinya, bangunan itu selesai di 1910, sementara bangunan utama sekitar 1906," kata Mustasim.

Petunjuk lainnya berasal dari sebuah plakat yang mencantumkan nama biro arsitektur pembangun, yakni Boon and Ogilvie.

Biro tersebut diketahui eksis pada awal abad ke-20 dan mengerjakan sejumlah bangunan di sekitar Batavia serta wilayah timur Batavia.

"Jadi, meskipun kami belum menemukan tahun pasti, berbagai data tersebut menunjukkan bahwa Gedung Juang dibangun pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20," ujar Mustasim.

Bangunan lain di bagian belakang yang kini digunakan sebagai bangunan Dekranasda juga memiliki ciri arsitektur berbeda.

Menurut Mustasim, karakter bangunan tersebut sudah memasuki era kolonial modern. Sejumlah peneliti arkeologi bangunan menilai kompleks Gedung Juang memperlihatkan peralihan dari arsitektur Indis menuju kolonial modern.

Periode transisi tersebut diperkirakan berlangsung sekitar 1890 hingga 1915.

Baca juga: Tak Sekadar Museum, Gedung Juang Bekasi Disiapkan Jadi Ruang Publik dan Wisata Edukasi

Dibangun untuk awasi bisnis partikelir

Mustasim menjelaskan, berdasarkan data yang didapatkan pada peta lama, kompleks Gedung Juang diberi kode "LH", singkatan dari landhuis.

Menurutnya, Landhuis bukan sekadar rumah tinggal. Bangunan tersebut digunakan oleh pemilik usaha partikelir untuk mengawasi lahan sekaligus aktivitas bisnis yang mereka kelola.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Kemunculan kompleks semacam itu tidak terlepas dari perubahan kebijakan ekonomi Hindia Belanda sekitar 1870.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gerhana Bulan Total 12 Agustus 2026, Hanya Bisa Disaksikan di Negara-negara Ini
• 11 jam lalu
0
thumb
6 Bandara di Kolombia Rusak Imbas Gempa M 7,4, Kini Ditutup
• 1 jam lalu
0
thumb
SETARA Institute: Manuver Eks Jampidsus Kaburkan Substansi Perkara Tak Berhasil
• 6 jam lalu
0
thumb
Trump Tunda Serangan Baru ke Iran, Fokus Beri Tekanan Ekonomi
• 15 jam lalu
0
thumb
Airlangga Sebut ETF Bakal Dapat Perlakuan Pajak Khusus, PPh dan PPN Bisa Nol
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.