Angka Kematian Penyakit Tidak Menular Tinggi, Deteksi Dini Mesti Berlanjut ke Pengobatan

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS– Target program Cek Kesehatan Gratis kini tak hanya mendeteksi penyakit sejak dini, tetapi memastikan tindak lanjut pengobatan hingga penyakit terkendali. Tanpa tindak lanjut, pemeriksaan jutaan masyarakat Indonesia dinilai kurang berarti di tengah tingginya kematian akibat penyakit tidak menular.

Tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular dilaporkan dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025. Survei tersebut mencatat sebanyak 85,19 persen dari total 4,45 juta kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit tidak menular, seperti jantung, stroke, hipertensi, kanker, diabetes, ginjal, hingga paru obstruktif kronis.

Kematian akibat penyakit tidak menular tersebut pun meningkat pada usia muda yang terjadi sejak usia 35 tahun. Karena itu, kesadaran untuk pemeriksaan dan deteksi dini mesti ditingkatkan.

Baca Juga85 Persen Kematian di Indonesia akibat Penyakit Tidak Menular
Baca JugaKematian Remaja Meningkat, Penyakit Tidak Menular Ancaman Terbesar

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi dihubungi di Jakarta, Senin (10/8/2026) mengatakan, kesadaran akan pemeriksaan dan deteksi dini penyakit tidak menular di masyarakat telah digalakkan sejak tahun lalu lewat program cek kesehatan gratis. Jumlah penduduk yang diperiksa telah meluas setidaknya telah menjangkau 73 juta orang sepanjang enam bulan di tahun 2026 ini.

Namun, menurut dia, untuk menekan angka kematian akibat penyakit tidak menular, upaya pemeriksaan dan deteksi dini saja tidak cukup. Tindak lanjut pada pengobatan jauh lebih penting untuk mengendalikan penyakit agar tidak semakin memburuk dan berakibat fatal.

“Kita harus menuju tata laksana. Kalau diperiksa saja tetapi tidak diobati, itu nanti tidak ada gunanya,” katanya.

Endang menyampaikan, tindak lanjut dalam program CKG sampai pada pengobatan masih menjadi tantangan. Dari uji petik di tiga puskesmas menunjukkan baru 43 hingga 62 persen pasien yang terdeteksi hipertensi yang benar-benar mendapatkan obat.

Kita harus menuju tata laksana. Kalau diperiksa saja tetapi tidak diobati, itu nanti tidak ada gunanya.

Sebagian besar warga yang belum mendapatkan obat karena pemeriksaan biasanya dilakukan di komunitas atau kegiatan tertentu. Saat diminta untuk mengambil obat di puskesmas, peserta tersebut tidak datang. Padahal, obat sudah disediakan di puskesmas setidaknya untuk jangka waktu 15 hari penggunaan.

“Kita berikan gratis 15 hari supaya semua bisa diobati langsung, sambil kalau BPJS Kesehatan-nya tidak aktif bisa diaktifkan dulu. Setelah itu semua pengobatan bisa dilanjutkan dengan BPJS,” kata Endang.

Serial Artikel

Cek Kesehatan Gratis

Program Cek Kesehatan Gratis ini betul-betul program unggulan karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Baca Artikel

Sesuai aturan BPJS Kesehatan, peserta nonaktif dapat kembali aktif selama 14 hari setelah proses pengaktifan. Tatalaksana pengobatan CKG di 5.300 puskesmas akan diperluas ke seluruh Indonesia pada akhir 2026.

Endang menyampaikan, data CKG menunjukkan bahwa dari 52 juta orang yang diperiksa tekanan darahnya ditemukan sebanyak 4,9 juta kasus hipertensi dan 5,5 juta kasus prehipertensi. Sementara itu, temuan diabetes mencapai 992.000 kasus, obesitas sebanyak 11 juta kasus, dan kolesterol tinggi sebesar 205.000 kasus.

“Angka pemeriksaan masih harus ditingkatkan. Namun, dari yang ditemukan juga harus diobati dan dikendalikan. Kalau tidak dikendalikan nanti bisa jadi stroke, jantung, dan gagal ginjal,” tuturnya.

Usia harapan hidup

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, upaya pengendalian penyakit tidak menular ini sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan usia harapan hidup dari 72 tahun menjadi 76 tahun. Usia harapan hidup di Indonesia termasuk yang terendah di negara lain, seperti Thailand yang mencapai 77 tahun, Malaysia 75 tahun, dan Singapura mencapai 84 tahun.

Selain itu, usia harapan hidup sehat juga diharapkan naik dari sebelumnya 60 tahun menjadi 65 tahun. Usia yang panjang tanpa kualitas hidup yang sehat akan tetap menurunkan produktivitas hidup dan meningkatkan beban kesehatan masyarakat.

“Jadi kita mau masyarakat itu hidup lebih lama tanpa penyakit. Karena itu, program CKG ini yang terpenting bukan checking (pemeriksaan)-nya saja, tetapi membuat masyarakat sehat, baik fisik maupun jiwa,” kata Budi.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Harga On The Road Suzuki Fronx Agustus 2026
• 3 jam lalu
0
thumb
Pemprov Apresiasi Kayong Utara Sukses Gelar MTQ XXXIV Kalbar
• 19 jam lalu
0
thumb
Airlangga Optimistis ETF Emas RI Bisa Salip India dan Singapura: Ada 153 Ton Emas Senilai US$20 Miliar
• 7 jam lalu
0
thumb
Cara Top Up Diamond Mobile Legends dengan Cepat & Aman di Gamezi
• 19 jam lalu
0
thumb
Yayasan Bongkar Dugaan Kredit Eks Pemilik Sekolah untuk Lapangan Padel
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.