REPUBLIKA.CO.ID, Di perbukitan yang menghadap ke reruntuhan Romawi kuno Sebastia, Tepi Barat yang diduduki, terhampar kebun zaitun yang telah dikelola keluarga-keluarga Palestina selama beberapa generasi.
Salah satu pemilik tanah, Abu Mudif, menyatakan telah menerima pemberitahuan bahwa lahannya masuk dalam kawasan seluas sekitar 450 hektar yang diambil alih otoritas Israel. Pengambilalihan ini merupakan bagian dari rencana pengembangan kawasan tersebut menjadi taman nasional baru yang luas.
Baca Juga
Bangun Kepercayaan Publik, Kemendikdasmen Raih Popular Government Institution Award 2026
531 Preman Diciduk di Kabupaten Bandung, Dianggap Mengganggu Kamtibmas
Bea Cukai Jayapura Gagalkan Pengiriman 16 Ribu Batang Rokok Ilegal Melalui Layanan Pos
Menurut laporan BBC, pemilik tanah Palestina biasanya menerima sedikit ganti rugi atau bahkan tidak sama sekali ketika tanah mereka disita. Saat ganti rugi ditawarkan, banyak warga menolaknya. Mereka menganggap menerima ganti rugi sebagai bentuk pengakuan dan penyetujuan atas hilangnya tanah yang menjadi bagian integral dari warisan mereka.
Lahan tersebut merupakan sumber pendapatan vital bagi Abu Mudif. Namun baginya, dampak penyitaan ini jauh melampaui urusan ekonomi. "Jika harus menggambarkannya, penjelasan paling mendekati adalah seperti jiwamu yang dicabut paksa. Saya tidak bisa membayangkan diri saya tanpa tanah ini," ujarnya kepada BBC.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)
Memutus akses Palestina dari situs arkeologi
Nahed Sakha, seorang pemilik restoran lokal yang terancam pembongkaran, mengungkapkan skema Israel bertujuan memutus akses warga Palestina dari situs arkeologi tersebut. Padahal, situs bersejarah itu menyimpan jejak peradaban Romawi, Tentara Salib, hingga Utsmaniyah.
"Pekerjaan restorasi kini telah dimulai bersamaan dengan penggalian," kata Sakha. "Pemilik tanah diberitahu bahwa tidak ada seorang pun yang diizinkan menggunakan atau mengolah tanah mereka."
Kekhawatiran warga desa di sekitar Sebastia turut menjadi perhatian badan kebudayaan dan pendidikan PBB, UNESCO. UNESCO kini tidak hanya menetapkan Sebastia sebagai Situs Warisan Dunia, tetapi juga memasukkannya ke dalam Daftar Warisan Dunia yang Terancam.
UNESCO menyatakan ancaman utama yang dihadapi situs tersebut berkaitan dengan "rencana pengambilalihan dan pembentukan taman nasional 'Samaria' (Shomron), yang berpotensi membagi kawasan tersebut."
Pasukan Israel berjaga-jaga di luar Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat. - (WAFA)
Komentar (0)