Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim) menunjuk enam SMA negeri sebagai sekolah penyelenggara Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi Anak Tidak Sekolah (ATS), yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Enam sekolah tersebut terdiri dari SMAN 1 Kepanjen sebagai sekolah induk, serta SMAN Plus Sukowono, SMAN 1 Tosari, SMAN 4 Bangkalan, SMAN 4 Malang, dan SMAN 1 Ambunten sebagai sekolah mitra.
Aries Agung Paewai Kepala Dindik Jatim mengatakan, penunjukan sekolah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pendidikan bagi ATS, khususnya anak yang memiliki kendala mengikuti pembelajaran secara rutin di sekolah.
“Tahun ini Kemendikdasmen meluncurkan program PJJ sebagai alternatif untuk memperluas akses pendidikan bagi anak tidak sekolah. Kami menyambut baik dengan melakukan penjaringan secara masif dari rumah ke rumah,” terangnya, Senin (10/8/2026).
Ia mengatakan, terdapat 126 murid yang diusulkan Jatim dalam program PJJ ATS tersebut. Dari hasil verifikasi, sebanyak 109 ATS dinyatakan lolos dan siap mengikuti pembelajaran. Sementara calon murid lainnya, masih menjalani proses verifikasi.
“Alhamdulillah, calon murid yang kami usulkan merupakan yang terbanyak di seluruh Indonesia,” ucapnya.
Aries mengatakan Dindik Jatim sebelumnya menginstruksikan seluruh cabang dinas pendidikan untuk melakukan pendataan dan penjaringan ATS secara intensif, terutama di wilayah yang memiliki jumlah ATS cukup tinggi.
Penjaringan dilakukan melalui dua mekanisme, yakni mendatangi langsung masyarakat secara door to door maupun melalui pendaftaran langsung oleh calon peserta. Data calon peserta selanjutnya diverifikasi oleh Kemendikdasmen.
Proses verifikasi meliputi wawancara dengan orang tua atau wali, pemeriksaan usia calon peserta untuk kelas X, memastikan calon peserta tidak terdaftar aktif di sekolah lain, serta pemeriksaan sejumlah dokumen administrasi.
Program tersebut menyasar ATS berusia 16 – 18 tahun, anak putus sekolah, anak yang sudah bekerja, masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta anak dengan kondisi khusus yang tidak memungkinkan mengikuti pembelajaran secara rutin di sekolah.
“Skema pembelajaran dilaksanakan dengan komposisi 30 persen pembelajaran sinkron melalui tatap maya dan 70 persen pembelajaran asinkron atau belajar mandiri,” jelasnya.
Dalam program tersebut, peserta mendapatkan sejumlah dukungan, mulai dari modul pembelajaran, pulsa untuk kebutuhan kuota internet, akses Learning Management System (LMS), hingga layanan konsultasi bersama guru pendamping secara tatap muka maupun daring.
Peserta juga akan mendapatkan ijazah yang setara dengan pendidikan di sekolah reguler setelah menyelesaikan program.
Aries berharap keberadaan program PJJ dan enam sekolah penyelenggara di Jatim bisa semakin memperluas kesempatan ATS untuk kembali memperoleh layanan pendidikan.
“Harapannya semakin banyak siswa yang mengikuti program ini sehingga jumlah anak tidak sekolah dapat terus berkurang,” pungkasnya.(ris/bil/ham)





Komentar (0)