ARTIKEL ini tak hendak bercerita mengenai siklus kehidupan manusia—lahir, remaja, dewasa, menua, hingga meninggal dunia.
Pun, artikel ini tak hendak menggurui sidang pembaca, kelahiran dan kematian adalah takdir dan suatu hal bersifat niscaya.
Artikel ini hanya hendak menceritakan tentang Sutrimo, nama yang belakangan santer terdengar akibat kematiannya tak wajar.
Kematian Sutrimo bukan saja menyesakkan bagi sanak keluarga dan handai taulan di kampung halaman.
Kematian Sutrimo juga menyisakan tanya besar di benak publik; apa yang terjadi sebenarnya?
Pertanyaan ini perlu dijawab secara segera oleh aparat penegak hukum agar tidak menimbulkan kegaduhan di republik, tegaknya marwah negara sebagai negara hukum, dan juga memberikan keadilan sebesar-besarnya bagi Sutrimo dan keluarganya.
Babak PertamaKamis (23/7/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Warga di sekitaran Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dihebohkan oleh temuan seorang mayat di depan bekas Klinik Mordent dengan kondisi mulut dan hidung berbusa.
Kondisi tak wajar ini membuat warga tidak berani mendekat karena menyangka, mayat tersebut adalah korban kejadian berbahaya atau korban kecelakaan.
Mayat tersebut akhirnya dibawa mobil ambulans ke Rumah Sakit (RS) Muhammadiyah Taman Puring.
Pihak RS Muhammadiyah menyatakan, sosok yang dibawa sudah dalam keadaan meninggal dunia saat tiba (death on arrival).
Baca juga: Ketika Marwah Adat Dipinjam Kekuasaan
Dari keterangan kerabat yang mengantar, polisi, dan pihak rumah sakit, mayat ini bernama lengkap Sutrimo. Belakangan, temuan mayat ini menjadi heboh karena status pekerjaannya sebagai Kepala Rumah Tangga eks-Jampidsus, Febrie Adriansyah.
Masih pada hari sama saat mayat ditemukan, pria yang mengaku sebagai kerabat Sutrimo dan juga mengantar ke rumah sakit—Febrio Adiono—memberikan keterangan kronologis kematian ke pihak rumah sakit (Tribunnews, 9/8).
Dalam keterangan tertulisnya tersebut, diinformasikan bahwa pukul 06.37 WIB, Sutrimo menelepon dan mengeluh sedang berada dalam kondisi sakit.
Namun, saat disusul ke depan Klinik Mordent, Sutrimo sudah dalam kondisi tidak sadar.
Bukan hanya dalam kondisi tidak sadar—wafat, kondisi Sutrimo juga tak wajar karena mengeluarkan busa dari hidung dan mulut.
Yang cukup menarik dari kisah pada hari ditemukannya jasad Sutrimo adalah dua hal terkait lokasi jasad ditemukan yang perlu ditelisik secara cermat dan mendalam oleh semua pihak, terutama aparat penegak hukum.
Pertama, selisih waktu tidak terlalu jauh dari saat Sutrimo menelepon kerabatnya dengan waktu ditemukannya jasad Sutrimo.
Artinya, kerabat yang dihubungi ini bisa digali informasinya terkait posisi Sutrimo pada saat melakukan kontak telepon.






Komentar (0)