Hong Kong: Dolar Amerika Serikat (AS) nyaris menyentuh level terendah dalam dua bulan terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Senin. Investor menunggu data inflasi AS pekan ini untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Mengutip Investing.com, Senin, 10 Agustus 2026, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama bergerak tipis di level 99,6, mendekati posisi terendah sejak 2 Juni.
Sementara itu, euro menguat tipis menjadi USD1,1558, mendekati level terkuat sejak pertengahan Juni. Pound sterling stabil di USD1,3490, tidak jauh dari level tertinggi dalam lima pekan.
Di kawasan Asia, dolar Selandia Baru dan dolar Australia masing-masing turun 0,1 persen. Dolar Selandia Baru berada di USD0,5889, sedangkan dolar Australia berada di USD0,7062.
Di sisi lain, yen Jepang bertahan di sekitar 157,90 per dolar AS. Mata uang Jepang tersebut masih berada jauh di bawah level terlemah dalam beberapa dekade, yakni sekitar 164 per dolar AS yang dicapai pada akhir bulan lalu.
Pergerakan dolar dipengaruhi data ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat. Data tersebut menunjukkan perekonomian AS secara tidak terduga kehilangan lapangan kerja pada Juli.
Pertumbuhan lapangan kerja selama dua bulan sebelumnya juga direvisi turun secara signifikan. Perkembangan tersebut mengurangi ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September.
Baca Juga :
Naik Banyak hingga 0,46%, Rupiah Senin Pagi Ini Nyaris Sentuh Level Rp17.700-an(Dolar AS. Foto: Freepik)
Peluang kenaikan suku bunga Fed menurun
Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury turut turun setelah data ketenagakerjaan tersebut dirilis. Imbal hasil Treasury 10 tahun, yang menjadi salah satu acuan pasar, terakhir berada di 4,637 persen.
Pasar berjangka kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September sekitar 44 persen, turun dari 67 persen sepekan sebelumnya.
"Sinyal pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah telah menurunkan ekspektasi suku bunga riil, memperpanjang penurunan dolar, tetapi belum menjadi cerita pelonggaran kebijakan moneter yang jelas," tulis ahli strategi pasar senior EMEA BNY Geoff Yu dalam sebuah catatan.
Yu menilai data inflasi AS kemungkinan menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan mata uang pada pekan ini. Investor kini menunggu data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Juli. Konsensus memperkirakan inflasi inti meningkat 0,2 persen secara bulanan.
Dengan proyeksi tersebut, laju inflasi inti secara tahunan diperkirakan mencapai 2,5 persen, melanjutkan tren moderasi inflasi secara bertahap. Pada Juni, inflasi inti secara tahunan tercatat 2,6 persen.
Data harga produsen yang dijadwalkan dirilis Kamis dan data penjualan ritel pada Jumat juga akan menjadi perhatian pasar. Kedua indikator tersebut dapat memberikan gambaran tambahan mengenai perkembangan inflasi dan kondisi perekonomian AS.





Komentar (0)