Teheran (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan pada Minggu (9/8) bahwa dimulainya kembali negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat tidak akan mungkin terjadi kecuali AS mengakhiri pelanggaran terhadap MoU yang baru-baru ini ditandatangani antara kedua negara.
Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut saat berbicara kepada wartawan di sela-sela sebuah acara di Teheran, seraya menekankan bahwa saat ini tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung antara kedua pihak, menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, sebagaimana warta Xinhua.
"Meskipun pesan-pesan dipertukarkan melalui mediator, proses ini tidak disebut negosiasi," ujarnya.
Araghchi mengungkapkan bahwa meskipun beberapa negara perantara berupaya untuk melanjutkan pembicaraan, hal itu tidak mungkin terjadi hingga pihak AS mengakhiri pelanggarannya terhadap MoU dan memberikan kompensasi atas pelanggaran yang telah dilakukannya.
Mengomentari pembicaraan yang sedang berlangsung antara Iran dan Oman tentang penetapan pengaturan lalu lintas maritim baru di Selat Hormuz, dia mengatakan bahwa negosiasi dengan Muscat tentang penetapan sebuah rute baru melalui jalur perairan itu terus berlanjut dan telah berjalan dengan baik sejauh ini.
Namun, dia menjelaskan bahwa tercapainya potensi kesepakatan antara Iran dan Oman tidak berarti Selat Hormuz akan dibuka kembali, seraya menambahkan bahwa pembukaan kembali jalur perairan tersebut bergantung pada pemenuhan syarat-syarat lain yang telah disampaikan kepada AS melalui mediator.
Iran memperketat kendalinya atas Selat Hormuz pada 28 Februari dengan melarang kapal-kapal milik atau yang berafiliasi dengan Israel dan AS melintas secara aman, menyusul serangan gabungan kedua negara tersebut terhadap wilayah Iran.
Pada Juni lalu, Iran dan AS menandatangani MoU mengenai penghentian perang di semua front konflik, termasuk di Lebanon. Kedua pihak dijadwalkan menggelar perundingan dalam kurun waktu 60 hari guna mencapai kesepakatan final, namun eskalasi terbaru di kawasan tersebut membuat kelanjutan perundingan itu menjadi tidak pasti.
Iran dan Oman telah bernegosiasi sejak beberapa pekan lalu untuk mencapai kesepakatan tentang penetapan rute baru di selat tersebut untuk lalu lintas maritim yang aman.
Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut saat berbicara kepada wartawan di sela-sela sebuah acara di Teheran, seraya menekankan bahwa saat ini tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung antara kedua pihak, menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, sebagaimana warta Xinhua.
"Meskipun pesan-pesan dipertukarkan melalui mediator, proses ini tidak disebut negosiasi," ujarnya.
Araghchi mengungkapkan bahwa meskipun beberapa negara perantara berupaya untuk melanjutkan pembicaraan, hal itu tidak mungkin terjadi hingga pihak AS mengakhiri pelanggarannya terhadap MoU dan memberikan kompensasi atas pelanggaran yang telah dilakukannya.
Mengomentari pembicaraan yang sedang berlangsung antara Iran dan Oman tentang penetapan pengaturan lalu lintas maritim baru di Selat Hormuz, dia mengatakan bahwa negosiasi dengan Muscat tentang penetapan sebuah rute baru melalui jalur perairan itu terus berlanjut dan telah berjalan dengan baik sejauh ini.
Namun, dia menjelaskan bahwa tercapainya potensi kesepakatan antara Iran dan Oman tidak berarti Selat Hormuz akan dibuka kembali, seraya menambahkan bahwa pembukaan kembali jalur perairan tersebut bergantung pada pemenuhan syarat-syarat lain yang telah disampaikan kepada AS melalui mediator.
Iran memperketat kendalinya atas Selat Hormuz pada 28 Februari dengan melarang kapal-kapal milik atau yang berafiliasi dengan Israel dan AS melintas secara aman, menyusul serangan gabungan kedua negara tersebut terhadap wilayah Iran.
Pada Juni lalu, Iran dan AS menandatangani MoU mengenai penghentian perang di semua front konflik, termasuk di Lebanon. Kedua pihak dijadwalkan menggelar perundingan dalam kurun waktu 60 hari guna mencapai kesepakatan final, namun eskalasi terbaru di kawasan tersebut membuat kelanjutan perundingan itu menjadi tidak pasti.
Iran dan Oman telah bernegosiasi sejak beberapa pekan lalu untuk mencapai kesepakatan tentang penetapan rute baru di selat tersebut untuk lalu lintas maritim yang aman.






Komentar (0)