JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kawiyan mengungkap sejumlah dampak yang dapat dialami anak jika menghabiskan waktu 5-7 jam sehari menggunakan ponsel, mulai dari gangguan kesehatan fisik dan psikologis hingga berkurangnya interaksi sosial dan risiko terpapar konten berbahaya.
"Penggunaan ponsel secara berlebihan dapat menggeser keseimbangan kebutuhan tumbuh kembang anak," kata Kawiyan, saat dihubungi pada Minggu (10/8/2026) malam.
Dari sisi fisik, anak berisiko mengalami kurang aktivitas fisik, kurang tidur, kelelahan, gangguan pola makan, serta masalah kesehatan akibat terlalu lama berada di depan layar.
Sementara dari sisi psikologis, penggunaan ponsel yang tidak terkendali dapat berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, mudah marah, kesulitan mengendalikan emosi, serta ketergantungan terhadap stimulasi digital.
Baca juga: Anak Main Ponsel 5–7 Jam Sehari, KPAI: Patut Jadi Perhatian Serius
Kawiyan juga menyoroti dampak penggunaan ponsel terhadap kemampuan sosial anak.
Anak yang terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar berpotensi lebih sedikit berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sosialnya.
"Anak harus tetap membangun kemampuan komunikasi tatap muka, empati, kerja sama, dan penyelesaian konflik melalui interaksi nyata," kata dia.
Ia mencontohkan kasus yang dia temui pada 2025.
Saat itu, dia bertemu seorang siswa SMP di Semarang yang mengalami kecanduan game online.
Menurut dia, siswa tersebut terlalu banyak menghabiskan waktu bersama ponsel sehingga jarang berinteraksi dengan teman maupun keluarganya.
Kondisi itu turut berdampak pada kemampuan komunikasi dan emosinya.
"Karena terlalu banyak waktunya bersama ponsel, ia tidak berinteraksi dengan teman-teman, bahkan dengan keluarga juga sangat jarang berkomunikasi. Akibatnya, volume suaranya sangat kecil. Ia juga emosinya tidak stabil dan mudah marah," ujar dia.
Baca juga: Usai Temuan 995 Senjata, Yayasan Sekolah Harapan Ibu Minta Perlindungan KPAI hingga Kemendikdasmen
Selain itu, penggunaan ponsel berlebihan juga dapat berdampak pada pendidikan anak.
Kawiyan mengatakan, game dan media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna sehingga, apabila tidak dikendalikan, waktu belajar anak dapat tersisihkan dan konsentrasinya terganggu.
Aspek perlindungan anak juga menjadi perhatian.






Komentar (0)