Dari Sampah Plastik Jadi Rupiah, Cerita Warga Pesisir Makassar Bersama PLN

wartaekonomi.co.id
6 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bagi Hendriadi, melaut selama ini menjadi sumber utama penghidupan keluarganya. Namun ketika angin kencang datang dan membuatnya tak bisa mencari ikan, warga berusia 51 tahun itu kini memiliki alternatif penghasilan dengan ikut mengolah sampah plastik bersama Rappo Indonesia di kawasan Untia, Makassar.

Hendriadi telah terlibat dalam aktivitas Rappo sejak awal. Sebelum melakukan pengolahan sampah, ia terlebih dahulu mendapatkan edukasi mengenai proses daur ulang hingga pembuatan produk.

“Ya dari pertama masuk itu Rappo itu sebenarnya memang diajarin, diedukasi cara-cara bikin daur ulang plastik begitu, kemudian kita sudah dikasih ukuran apa untuk bikin satu produk begitu,” ujar Hendriadi di Makassar, Minggu (9/8/2026).

Profesi sebagai nelayan tetap ia jalani. Namun keberadaan kegiatan pengolahan sampah memberikan sumber pendapatan tambahan ketika aktivitas melaut tidak memungkinkan akibat kondisi cuaca.

“Alhamdulillah semakin baik karena kita kerja di sini memang ada nilai ekonominya, Mas,” katanya.

“Ada bisa nambah penghasilan lah kemudian kita kan sampah-sampah ini kita tanpa modal, Pak. Kita kerja di sini ya maksudnya saya sebagai nelayan tanpa modal kerja di sini kemudian kita digaji, jadi nilai ekonominya ada, Pak,” lanjutnya.

Manfaat tersebut semakin terasa ketika cuaca buruk membuat Hendriadi harus mengurangi aktivitas melaut.

“Iya apalagi sekarang kalau musim-musim kencang begini kita nggak melaut, Pak kalau nelayan. Jadi adanya Rappo begini alhamdulillah menambah perekonomian begitu,” ungkapnya.

Penghasilan tambahan tersebut juga ikut menopang kebutuhan keluarganya. Hendriadi memiliki empat orang anak, tiga di antaranya telah menyelesaikan pendidikan, sementara anak bungsunya masih duduk di bangku SMK.

Kisah Hendriadi menjadi salah satu dampak dari pengembangan pengelolaan sampah yang dilakukan Rappo Indonesia dengan dukungan PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

General Affairs Rappo Indonesia, Riswanda Fatriansyah, mengatakan kolaborasi dengan PLN UID Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) dimulai pada akhir 2024. 

Dukungan diberikan melalui pembinaan serta pengadaan berbagai peralatan produksi untuk menunjang pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi.

“Dukungan yang diberikan itu pertama ada pendampingan untuk operator, terus juga kita ada penyerahan mesin. Nah untuk mesinnya itu kita ada mesin cacah terus juga mesin oven sama mesin injeksi, ada total tiga. Itu untuk unit yang besar, tapi yang untuk unitnya kecil juga ada beberapa yang kayak mesin serut, profil, nah itu juga salah satu bantuan yang diberikan oleh PLN ke Rappo,” jelas Riswanda.

Di workshop furnitur Rappo, sampah yang diolah antara lain jenis PET dan HDPE seperti botol minuman, tutup botol, botol oli, hingga berbagai jenis plastik berbahan keras. Dalam satu bulan, volume sampah yang dapat diolah berkisar 50 hingga 100 kilogram.

Sampah tersebut kemudian diolah menjadi berbagai produk seperti plakat, meja, kursi, nampan, gantungan kunci, bag charm, karabiner, hingga coaster. Produk yang dihasilkan dipasarkan dengan rentang harga sekitar Rp75 ribu hingga lebih dari Rp3 juta. Khusus produk plakat, pemasaran bahkan telah menjangkau Jakarta.

Selain menghasilkan produk, kegiatan tersebut juga membuka peluang kerja bagi masyarakat. Khusus di workshop furnitur terdapat sekitar lima orang yang terlibat, sedangkan secara keseluruhan kegiatan Rappo di Makassar menyerap sekitar 20 hingga 25 orang tenaga kerja dari berbagai unit.

Riswanda menyebut penghasilan yang diperoleh masyarakat yang diberdayakan berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per orang setiap bulan.

“Untuk penghasilan per bulannya itu ada sekitaran Rp1,5 sampai Rp2 juta. Per orangnya ya. Dari 20 orang itu ya yang diperdayakan itu bisa bawa pulang sekitar segitu,” katanya.

Menurut Riswanda, Rappo juga melibatkan masyarakat sekitar Untia, termasuk kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dan ibu rumah tangga.

“Iya betul. Jadi selain kita aware juga dengan lingkungan, kita sebenarnya aware juga dengan apa namanya kesetaraan masyarakat. Apalagi kan kita menjalin kerja sama kemitraan, kita istilahnya kemitraan dengan masyarakat yang ada di Untia ini di mana rata-rata mereka itu sebenarnya punya penghasilan menengah sampai ke bawah, bahkan ada yang tidak berpenghasilan,” ujarnya.

Ia berharap kapasitas pengolahan terus meningkat sehingga semakin banyak sampah di Makassar yang dapat ditahan agar tidak langsung berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

“Kalau harapannya kita ke depannya itu sudah jelas kita lebih berharap bisa lebih banyak sampah yang bisa kita daur ulang sehingga sampah-sampah yang ada di Makassar itu tidak langsung sampai ke TPA. 

Terus juga selain kita bisa mengolah sampahnya kita juga berharap dengan edukasi yang kita berikan ke masyarakat itu sebenarnya bisa memberikan pengaruh yang positif ke masyarakat,” jelasnya.

Officer TJSL PLN UID Sulselrabar, Khairunnisa, mengatakan dukungan terhadap Rappo merupakan bagian dari upaya PLN mendorong ekonomi sirkular sekaligus memberikan dampak lingkungan dan ekonomi bagi masyarakat.

Kolaborasi tersebut dimulai pada Desember 2024 dan hingga kini telah menghasilkan pengolahan sekitar 10,5 ton sampah menjadi furnitur, aksesori, dan plakat.

“Awal mula dari program ini, ini di tahun 2024 akhir Pak, jadi Desember baru kita bekerja sama. Jadi satu tahun setengah telah berjalan dan telah mengolah 10,5 ton sampah untuk furnitur, aksesoris, plakat juga ada,” ungkap Khairunnisa.

Menurutnya, PLN tertarik mendukung program tersebut karena pengolahan sampah menjadi furnitur menjadi pendekatan baru yang dikembangkan di Makassar. Di sisi lain, pertumbuhan aktivitas masyarakat dan usaha seperti kafe menghasilkan sampah plastik yang membutuhkan pengelolaan lebih baik.

“Jadi itu sebenarnya sampah-sampah di Makassar itu yang harus dikelola dengan baik dan menghasilkan SDG, Sustainable Development Goals untuk menghasilkan selain dari lingkungan bisa juga untuk ke ekonomi jadi SDG 8. Jadi itu masuk dalam tujuan dari TJSL PLN, mendukung ekonomi sirkular,” katanya.

Baca Juga: PLN Buka Keran Swasta Besar-besaran, 262 Proyek PLTA dan PLTM Siap Digarap hingga 2034

Baca Juga: PLN Obral Diskon 50% Tambah Daya Listrik Hingga 7.700 VA di GIIAS 2026

PLN pun menargetkan kapasitas pengolahan sampah dapat terus bertambah hingga sekitar dua kali lipat. Pengembangan juga diarahkan untuk memperluas kolaborasi dengan perkantoran maupun perusahaan sehingga volume sampah yang dikelola meningkat sekaligus membuka kesempatan kerja lebih luas.

“Berarti dari awalnya 10,2 bisa jadi 20 ton bisa begitu. Dan lebih banyak lagi kayak kantor-kantor atau perusahaan yang bekerja sama sama kami sama Rappo jadi semakin banyak yang dihasilkan dan bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja,” ujar Khairunnisa.

Dukungan PLN juga direncanakan berlanjut melalui penambahan fasilitas produksi berupa mesin pencacah dan mesin press, serta sertifikasi kompetensi bagi pekerja.

“Dan itu yang sertifikasi terhadap pegawainya jadi semua ada sertifikasi keahlian begitu. Jadi pegawainya juga dibantu untuk disertifikasi betul dua pegawainya. Jadi kami nggak melepas begitu saja bahwa kami juga akan memberikan bantuan pendidikan begitu jadi keahlian,” pungkasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Menko Zulhas Minta Doa Jatma Aswaja demi Optimalisasi Program Pemerintah
• 13 jam lalu
0
thumb
Harga Sejumlah Kebutuhan Pokok Turun, Jabar Alami Deflasi 0,05 Persen
• 3 jam lalu
0
thumb
Jangan lari! Ini yang harus dilakukan saat bertemu harimau
• 11 jam lalu
0
thumb
Panas Terik dan Macet Jadi Tantangan Petugas Lalin PMJ, Kesehatan Anggota Jadi Prioritas
• 1 jam lalu
0
thumb
KNKT Investigasi Penyebab KMP Mutiara Sentosa 2 Terbakar, Beri Ruang dan Waktu!
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.