Aspirasi: Sarjana, Masih Jadi Tiket Masuk Dunia Kerja?

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita
Ben Hakim (21), lulusan baru (fresh graduate) di Mataram, NTB

Sejak dua bulan terakhir ini, saya sudah aktif mencari kerja meski sedang menanti jadwal wisuda. Saya juga sudah membaca tentang isu susahnya mencari pekerjaan, tetapi saya sadar ternyata transisinya cukup panjang. Apalagi untuk lanjut bekerja di bidang hukum, setelah menyelesaikan studi, saya harus ambil sertifikasi, dan lain-lain.

Selain itu, saya juga sulit mencari kerja karena masih ada subjektivitas dari pemberi kerja dengan preferensi khusus karena hanya merekrut staf dari universitas tertentu atau reputable university. Sekalipun lolos, banyak proses rekrutmen yang tidak transparan, seperti garis waktu (timeline) yang tidak jelas dan ketiadaan proses konfirmasi penolakan.

Saya sebenarnya memprioritaskan mencari pekerjaan yang linear dengan jurusan kuliah. Namun, karena permintaan terbatas, saya juga banting setir mendaftar menjadi tenaga pengajar untuk pekerjaan paruh waktu serta mencoba bidang pemasaran (marketing).

Sebagai lulusan baru, saya berharap pemerintah bisa menegakkan peraturan antidiskriminasi pada para pencari kerja. Sebab, mayoritas rekrutmen masih mensyaratkan ketentuan fisik, seperti tinggi badan, penampilan menarik, dan universitas bereputasi. Selebihnya, saya juga berharap ada Undang-Undang Perlindungan Tenaga Kerja, khususnya pada pekerja peserta latihan (trainee) yang menjamin hak-hak dan kewajibannya.

Pemerintah, khususnya Kementerian Ketenagakerjaan juga dapat memberikan ragam pelatihan kerja yang bersifat subsidi. Harapannya, pelatihan itu dapat dijangkau lebih banyak calon pencari kerja untuk menimba pelatihan formal.

Akbar Maulana Al Ishaqi (29), pekerja industri media di Jakarta

Gelar sarjana masih sangat penting sebagai syarakat untuk mendapatkan pekerjaan saat ini. Menurutku, sekarang hampir semua lowongan pekerjaan formal mempersyaratkan ijazah S1. Tapi, secara keterampilan, gelar sarjana S1 bisa dibilang tidak sepenting itu. Banyak kenalan, termasuk aku, yang bidang pekerjaan kami tidak linier dengan gelar S1.

Gelar S1ku Sarjana Perikanan, program studi akuakultur, studi skripsiku tentang plankton, dan sekarang aku bekerja sebagai wartawan ekonomi, khususnya meliput pasar modal.

Pengalamanku diterima kerja pertama kali dulu di perusahaan media di Jakarta, karena portofolio tulisan blog yang sudah aku siapkan setahun sebelum melamar kerja, termasuk pengalaman di organisasi pers mahasiswa. Keterampilan menulisku terasah dari sana, bukan pendidikan formal yang linier dengan gelar S1.

Perguruan tinggi bisa menjalin banyak kerja sama dengan perusahaan swasta/BUMN/instansi pemerintah untuk kepastian serapan kelulusan baru. Hal ini tentu juga harus diikuti dengan standardisasi kualitas lulusan.

Untuk pemerintah, pendidikan harus menjadi prioritas utama. Alokasi anggaran pendidikan yang minim menjadi bukti pemerintah tidak serius membangun sektor ini. Alhasil, kualitas SDM lulusan perguruan tinggi di Indonesia kalah saing, sulit terserap lapangan kerja.

Dewi Tamburian (56), ibu rumah tangga di Tangerang Selatan

Saya melihat sampai saat ini gelar sarjana masih penting, terutama sebagai salah satu syarat administrasi pada proses rekrutmen. Gelar pendidikan juga sebagai bukti bahwa seseorang telah memiliki dasar pengetahuan di bidang tertentu.

Namun, saat ini gelar saja tidak lagi cukup. Perusahaan juga sangat mempertimbangkan keterampilan, pengalaman, kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Di era digital, banyak perusahaan lebih mengutamakan individu yang mampu belajar cepat, memiliki pola pikir yang baik, dan dapat memberikan hasil, meskipun latar belakang pendidikannya tidak selalu linear.

Dalam pengalaman saya, setelah diterima bekerja, yang paling dinilai adalah kemampuan menyelesaikan pekerjaan, berkomunikasi dengan baik, mengelola kegiatan, dan memecahkan masalah. Misalnya, dalam mengelola berbagai program dan kemampuan koordinasi, serta penggunaan teknologi, sering kali lebih menentukan keberhasilan pekerjaan dibandingkan sekadar ijazah.

Menurut saya, kampus perlu lebih fokus membangun kompetensi yang benar-benar dibutuhkan industri, seperti kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, dan penggunaan AI secara produktif. Selain itu, perlu lebih banyak kolaborasi dengan perusahaan melalui program magang, studi kasus, dan dosen praktisi agar mahasiswa memahami kondisi dunia kerja sebelum lulus. Pemerintah juga dapat mendorong program sertifikasi kompetensi yang diakui industri sehingga lulusan memiliki nilai tambah saat mencari pekerjaan.

Febiamardhi (26), tinggal di Tangsel

Menurut saya, gelar sarjana masih jadi salah satu faktor pendukung untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, tetapi bukan satu-satunya atau faktor utama. Gelar tetap menjadi nilai tambah dan dapat membuka peluang tertentu.

Namun, kenyataannya, masih banyak lulusan sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan karena dunia kerja mempertimbangkan banyak hal lain, seperti keterampilan, pengalaman, kemampuan beradaptasi, komunikasi, dan portofolio. Kemampuan dan pengalamanlah yang membantu seseorang membuktikan bahwa dirinya mampu memberikan kontribusi di dunia kerja.

Menurut saya, kompetensi di dunia kerja tidak bisa hanya diukur dari gelar sarjana. Pendidikan memberikan dasar teori, tetapi pengalaman mengajarkan bagaimana menerapkannya dalam situasi nyata. Berdasarkan pengalaman saya bekerja tiga tahun sebagai graphic designer dan dua tahun sebagai brand designer, saya belajar bahwa industri tidak selalu memiliki jawaban benar atau salah. Yang dibutuhkan adalah kemampuan memahami masalah dan menentukan solusi yang paling tepat sesuai kebutuhan dan tujuan.

Terkait pembelajaran di kampus, salah satu masalah yang sering terjadi adalah adanya jarak antara apa yang dipelajari di kampus dan realita yang dihadapi di industri berbeda. Para dosen mungkin kuat dalam teori dan akademis, tetapi belum tentu memiliki pengalaman langsung mengenai bagaimana cara masuk, beradaptasi, dan bertahan di industri yang terus berubah.

Karena itu, menurut saya akan lebih baik jika kampus juga melibatkan para praktisi untuk berkolaborasi dalam proses pembelajaran. Bukan hanya memberikan materi, tetapi juga berbagi pengalaman dan gambaran nyata tentang bagaimana industri bekerja, tantangan yang sedang dihadapi, serta keterampilan apa yang benar-benar dibutuhkan saat ini.

Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana mengerjakan sesuatu dengan benar, tetapi juga memahami bagaimana menggunakan kemampuan tersebut secara tepat ketika masuk ke dunia kerja.

Saya juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih pada perlindungan profesi dan memastikan para profesional tidak mudah dikriminalisasi ketika menjalankan pekerjaannya secara bertanggung jawab. Karena ruang untuk berinovasi akan sulit tumbuh jika para profesional masih bekerja dengan rasa takut terhadap persoalan hukum atas keputusan yang diambil dengan itikad baik dan tanggung jawab profesional. Itu saya rasakan sebagai desainer.

Saat ini, saya sedang menyelesaikan kuliah di jurusan DKV. Baru-baru ini saya berhenti bekerja karena sistemnya kontrak terus per enam bulan. Sudah gitu, pekerjaan untuk tiga orang mesti dikerjakan sendiri. Saya beralih ke profesi lama dulu sebagai DJ di klub-klub. Keterampilan itu saya pelajari di luar perguruan tinggi.

Ke depan, saya ingin membangun studio desain dan menjadi entrepreneur. Saya pikir lebih enak menjadi pekerja mandiri saja.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Airlangga Ungkap Sejarah Pasar Modal Indonesia yang Dimulai Sejak Masa VOC
• 1 jam lalu
0
thumb
Yayasan Sekolah Harapan Ibu Bantah Temuan Ratusan Senjata Terkait Konflik Internal
• 18 jam lalu
0
thumb
Pertamina Patra Niaga Kembangkan Ekonomi Sirkular dan Pertanian Berkelanjutan di Karawang
• 16 jam lalu
0
thumb
Wall Street Cetak Rekor, S&P 500 Naik 3,58 Persen dalam Sepekan
• 8 jam lalu
0
thumb
Prabowo Perintahkan Pertamina hingga PLN Pangkas Anak-Cucu Perusahaan
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.