jpnn.com - Penyandang disabilitas masih menghadapi keterbatasan dalam mendapatkan kesempatan untuk berkarya dan menunjukkan potensi.
Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dari sekitar 17 juta penyandang disabilitas usia produktif hanya mencapai 20,14 persen pada 2025.
BACA JUGA: Bangun Kemandirian Difabel, Lestari Moerdijat Dorong Pemanfaatan Teknologi AI
"Padahal, banyak dari mereka memiliki kreativitas dan kemampuan yang dapat dikembangkan menjadi karya bernilai ekonomi," kata pendiri Dama Kara sekaligus CEO Dama Kara Foundation Nurdini Prihastiti, Minggu (9/8).
Peluang itulah yang coba dibuka Nurdini Prihastiti melalui Dama Kara, jenama fesyen yang melibatkan penyandang disabilitas dalam proses kreatifnya.
BACA JUGA: Bank Mandiri Perluas Akses Kerja Inklusif bagi Generasi Difabel
Perempuan yang akrab disapa Dini itu mendampingi mereka menuangkan imajinasi ke dalam karya seni yang kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk fesyen.
“Saya berkomitmen membuat Dama Kara sebagai sebuah wadah penyandang disabilitas ini untuk bisa berkarya dan merangkul mereka. Kami percaya bahwa sejatinya berkarya itu tidak mengenal keterbatasan,” ujarnya.
BACA JUGA: Seskab Teddy Ungkap Magang Nasional Rangkul Difabel, Pengamat: Terobosan Progresif
Perjalanan Dini membangun bisnis berdampak sosial tidak terjadi dalam semalam. Selepas menyelesaikan studi S1 Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat di Institut Pertanian Bogor (IPB), ia sempat bekerja di sebuah perusahaan nasional.
Kariernya berjalan baik, tetapi Dini merasa ingin memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
Ia kemudian mengundurkan diri, pindah ke Bandung, melanjutkan S2 Administrasi Bisnis di Institut Teknologi Bandung (ITB), sekaligus membuka usaha konveksi bersama suaminya.
“Saya merasa dengan berbisnis, manfaat yang bisa saya berikan sepertinya akan lebih banyak. Dalam artian, saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang-orang di sekitar saya ataupun membuat bisnis yang memiliki manfaat lebih banyak lagi,” ucapnya.
Namun, usaha yang baru dirintis itu sempat menghadapi ujian besar ketika kapal yang mengangkut seragam dan suvenir pesanan klien di Kalimantan terbakar di tengah laut.
Seluruh produk hangus dan Dini harus memproduksi ulang pesanan dengan kerugian mencapai ratusan juta rupiah.
Musibah tersebut justru menjadi titik refleksi bagi Dini dan suaminya. Mereka mulai memikirkan bagaimana bisnis yang dijalankan tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memberi manfaat bagi orang lain.
Sejak berdiri pada awal 2020, Dama Kara kemudian mulai melibatkan perajin dan penjahit perempuan di sekitar Bandung serta sejumlah wilayah di Jawa Barat.
Para ibu diberi pelatihan dan dilibatkan dalam proses pengerjaan busana untuk membantu menambah penghasilan keluarga.
Langkah itu kemudian diperluas dengan merangkul penyandang disabilitas. Salah satu inspirasinya datang dari Iris, anak berkebutuhan khusus asal Inggris yang dikenalkan pada seni lukis sejak kecil sebagai bagian dari terapi dan kemudian menghasilkan berbagai karya abstrak ekspresif.
Kisah tersebut membuat Dini semakin tertarik menggali potensi seni sebagai medium terapi sekaligus ruang pengembangan kreativitas bagi penyandang disabilitas.
Dini kemudian melihat peluang untuk menggabungkan karya seni para penyandang disabilitas dengan produk kain dan fesyen Dama Kara.
Keterlibatan mereka dalam berbagai karya itu turut melatarbelakangi berdirinya Dama Kara Foundation pada 2024.
Dalam menjalankan program pemberdayaan, Dini juga menggandeng lembaga sosial Our Dream Indonesia dan Art Therapy Center (ATC) Widyatama.
Salah satu program yang dikembangkan adalah kelas menggambar bagi penyandang disabilitas.
Pendampingan dilakukan secara personal dengan konsep satu peserta dan satu fasilitator seni.
Kelas tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan menggambar, tetapi juga mengasah keterampilan motorik halus, imajinasi, konsentrasi, serta rasa percaya diri.
"Karya peserta selanjutnya dapat dikembangkan melalui workshop kolaboratif hingga pameran," terangnya.
Menurut Dini, peserta tidak harus sudah mahir menggambar atau melukis ketika bergabung.
Dirinya mendampingi mereka supaya dari sekadar suka menggambar sampai akhirnya bisa dan menemukan kekhasan dari karya-karya.
"Kami percaya bahwa sesuatu itu enggak datang secara instan. Kami hanya memastikan bahwa mereka memang enjoy,” tuturnya.
Dama Kara Foundation juga tidak menerapkan batas usia maksimum. Kebijakan itu muncul setelah sejumlah keluarga menyampaikan bahwa ruang bagi penyandang disabilitas kerap semakin terbatas setelah mereka menyelesaikan pendidikan formal setingkat SMA atau SMK.
“Setelah itu enggak ada ruang lagi untuk mereka berkontribusi. Akhirnya kami mencoba merangkul tidak ada batasan usia maksimum,” ungkapnya.
Seluruh program tersebut diberikan secara gratis. Dari proses seleksi, pendampingan fasilitator, hingga alat menggambar disediakan oleh Dama Kara.
Sebagian pendapatan dari koleksi yang terjual kemudian disisihkan untuk menopang program tersebut.
“Mereka tidak dipungut biaya sepeser pun. Dari proses seleksi sampai mereka berkarya, dari art fasilitator sampai alat-alat gambar, semuanya disediakan Dama Kara,” katanya.
Kepedulian Dini terhadap kelompok rentan juga tidak lepas dari pengalaman hidupnya. Ayahnya meninggal ketika ia duduk di kelas 2 SMP sehingga sang ibu yang bekerja sebagai guru SD harus membesarkan tiga anak. Jiwa wirausahanya telah tumbuh sejak kecil.
Saat masih sekolah dasar, ia pernah meminta modal Rp5.000 kepada ayahnya untuk membeli jajanan yang kemudian dijual kembali.
Ketika kuliah di IPB ia sempat membuka lapak tas dan pakaian di salah satu sudut kampus.
Kondisi ekonomi keluarga juga membuat Dini aktif berburu beasiswa hingga akhirnya menjadi Tanoto Scholar.
Menurutnya, program Tanoto Foundation ketika itu bukan hanya membantu biaya pendidikan dan uang saku, tetapi juga mempertemukannya dengan mahasiswa dari berbagai kampus melalui kegiatan kepemimpinan.
Kini karya penyandang disabilitas yang terlibat bersama Dama Kara telah hadir dalam berbagai produk, mulai dari kebaya, baju luaran hingga rok.
Sejumlah produk juga dikenakan selebritas dan pemengaruh serta memiliki pasar di Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Korea Selatan.
Karya Dama Kara, bahkan telah tampil dalam ajang Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF) di Perancis dan Handarty Korea di Korea Selatan. (esy/jpnn)
Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Mesyia Muhammad





Komentar (0)