Kebakaran Bromo Tembus 520 Hektare, Wagub Jatim Cek Lokasi

beritajatim.com
5 jam lalu
Cover Berita

Probolinggo (beritajatim.com) – Kebakaran Gunung Bromo terus menjadi perhatian setelah luas kawasan konservasi yang terdampak karhutla Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dilaporkan mencapai sekitar 520 hektare.

Besarnya luasan lahan yang terbakar membuat penanganan karhutla Bromo menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bahkan turun langsung meninjau kondisi kawasan yang terdampak kebakaran.

Dalam peninjauannya, Emil melihat langsung kondisi kawasan TNBTS yang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Ia menjelaskan, kobaran api yang terlihat pada malam sebelumnya bukan berarti munculnya titik api baru.

Menurut Emil, api tersebut merupakan kelanjutan dari kebakaran yang sebelumnya terjadi. Pergerakan api terlihat semakin meluas karena masih terdapat bara di kawasan hutan yang telah terbakar.

“Kalau yang tadi malam itu ada lanjutan dari yang lama. Jadi penyebarannya itu kelihatan meluas, bukan titik baru,” ujar Emil saat meninjau lokasi kebakaran Gunung Bromo.

Kondisi Gunung Bromo terbakar menjadi semakin serius karena luas kawasan yang terdampak telah mencapai sekitar 520 hektare.

Emil menjelaskan, salah satu tantangan dalam penanganan karhutla adalah keberadaan api kecil dan bara yang masih tersisa di dalam kawasan hutan. Bara tersebut dapat kembali menyala ketika tertiup angin.

“Di hutan itu mungkin masih ada api-api kecil yang apabila terpicu oleh angin akan menyala lagi, dan menyambar ke alang-alang yang kering,” katanya.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman karhutla TNBTS tidak cukup hanya dengan memadamkan kobaran api yang terlihat. Petugas juga harus memastikan kawasan yang telah terbakar tidak menyimpan bara yang berpotensi menjadi titik api baru.

Terlebih, kebakaran terjadi saat musim kemarau. Vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menjalar apabila kembali mendapat hembusan angin.

“Terlebih lagi di musim kemarau ini, api bisa dengan cepat menyebar,” ujar Emil.

Selain kondisi alam, Emil juga menyoroti potensi faktor manusia dalam kebakaran Bromo. Pemerintah perlu memastikan tidak ada aktivitas manusia yang dapat memicu munculnya sumber api baru di kawasan konservasi.

Namun, menurut Emil, kawasan yang terdampak kebakaran bukan merupakan lahan garapan masyarakat sehingga tidak terdapat alasan bagi warga untuk melakukan aktivitas bercocok tanam di kawasan tersebut.

“Kalau faktor manusia, jadi bukan lahan garapan. Jadi enggak ada alasan untuk orang bercocok tanam,” jelasnya.

Perhatian justru diarahkan terhadap aktivitas pengunjung. Kondisi kawasan yang masih menyimpan potensi bara membuat keselamatan wisatawan menjadi salah satu pertimbangan utama.

“Yang dikhawatirkan itu untuk pengunjung. Kalau penduduk setempat, insyaallah tidak,” kata Emil.

Di tengah meluasnya karhutla Gunung Bromo, pembatasan keluar-masuk orang ke kawasan terdampak menjadi salah satu langkah mitigasi yang dilakukan.

Pembatasan tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko terhadap wisatawan sekaligus memberikan ruang bagi petugas dalam melakukan pemantauan dan penanganan kebakaran.

Dengan luas mencapai 520 hektare, kebakaran Bromo tidak hanya menjadi persoalan pemadaman api. Ancaman bara yang masih tersimpan di kawasan hutan, kondisi vegetasi yang kering, serta faktor angin membuat potensi kebakaran kembali meluas tetap harus diwaspadai. [rap/aje]


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Link Live Streaming MotoGP Inggris 2026: Jorge Martin Start Terdepan, Marc Marquez Siap Bangkit di Silverstone
• 5 jam lalu
0
thumb
Jelang Asian Games 2026, Teqball Indonesia Matangkan Persiapan di Surabaya
• 5 jam lalu
0
thumb
Caleg Dapil Jabar VI, Bendum PSI Fenty Noverita Siap Perjuangkan Bekasi-Depok
• 10 jam lalu
0
thumb
Karebosi Disiapkan Jadi Pusat HUT Ke-81 RI, Pemkot Makassar Matangkan Seluruh Persiapan
• 3 jam lalu
0
thumb
Prabowo Sebut Nilai 100 Itu Milik Yang Maha Kuasa, 98 Punya Presiden
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.