Kerja Keras atau Dipecat! John Herdman Benahi Skuad Timnas, Kegagalan di Piala AFF 2026 Jadi Tamparan Keras

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2026 menjadi tamparan keras bagi John Herdman.

Datang dengan target membawa skuad Garuda melangkah jauh, pelatih asal Kanada tersebut justru harus menerima kenyataan pahit setelah Indonesia tersingkir di fase grup.

Indonesia mengakhiri perjalanan di Grup A dengan tujuh poin. Skuad Garuda hanya mampu menempati posisi ketiga setelah mencatat dua kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan.

Dua hasil terakhir menjadi penyebab utama kegagalan tersebut.

Setelah membuka turnamen dengan kemenangan meyakinkan atas Kamboja 5-1 dan Timor Leste 3-0, Indonesia justru kehilangan momentum ketika menghadapi dua lawan yang memiliki organisasi permainan lebih baik.

Garuda dihantam Vietnam dengan skor 0-3.

Harapan untuk bangkit kemudian dibebankan pada pertandingan terakhir melawan Singapura.

Namun, kemenangan yang menjadi harga mati tidak kunjung datang.

Indonesia sempat unggul melalui Ragnar Oratmangoen pada awal babak kedua. Akan tetapi, Singapura mampu menyamakan kedudukan melalui Ilhan Fandi pada menit ke-66.

Skor 1-1 bertahan hingga pertandingan berakhir.

Hasil tersebut memastikan Singapura melaju ke semifinal sebagai runner-up Grup A, sementara Indonesia harus mengakhiri perjalanan lebih cepat.

Kegagalan tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi Herdman.

Pelatih berusia 51 tahun itu sebelumnya datang dengan gagasan membangun identitas baru bagi Timnas Indonesia. Ia tidak hanya berbicara mengenai kemenangan, tetapi juga mengenai bagaimana menciptakan tim yang memiliki karakter permainan jelas.

“Fokus kami adalah identitas taktik, koneksi, chemistry, dan semangat,” ujar Herdman dalam konferensi pers jelang pertandingan melawan Kamboja, dikutip dari ASEAN United FC.

Kini, lima hal tersebut justru menjadi pekerjaan yang harus dibuktikan Herdman.

Penguasaan Bola Harus Berujung Gol

Indonesia mampu menunjukkan produktivitas tinggi pada dua pertandingan awal.

Lima gol bersarang ke gawang Kamboja, kemudian tiga gol dicetak ketika menghadapi Timor Leste.

Namun, produktivitas tersebut menghilang ketika level lawan meningkat.

Melawan Vietnam, Indonesia tidak mampu mencetak satu gol pun. Sebaliknya, tiga gol justru bersarang ke gawang Garuda.

Ketika menghadapi Singapura, Indonesia kembali kesulitan menemukan gol.

Satu gol Ragnar Oratmangoen tidak cukup untuk membawa Indonesia meraih kemenangan.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan bola dan dominasi permainan belum otomatis menghasilkan peluang berkualitas.

Herdman harus menemukan solusi ketika lawan mampu menutup ruang.

Serangan dari sisi sayap, umpan silang, bola panjang, hingga kombinasi di lini tengah harus memiliki variasi. Indonesia tidak boleh bergantung pada satu pola serangan ketika lawan sudah membaca permainan.

Sebab, pada pertandingan level tinggi, dominasi tanpa efektivitas hanya akan menghasilkan penguasaan bola tanpa kemenangan.

Konsentrasi Lini Belakang Wajib Dibenahi

Kegagalan Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan pertahanan.

Gol penyama kedudukan Singapura menjadi salah satu contoh.

Indonesia sempat berada dalam posisi unggul, tetapi tidak mampu mempertahankan keunggulan tersebut hingga pertandingan berakhir.

Ilhan Fandi berhasil memanfaatkan celah di pertahanan Indonesia untuk mencetak gol pada menit ke-66.

Sebelumnya, masalah pertahanan juga terlihat ketika menghadapi Vietnam.

Tiga gol tanpa balas menjadi bukti bahwa organisasi pertahanan Indonesia masih memiliki celah yang harus diperbaiki.

Herdman perlu membangun komunikasi yang lebih kuat di antara para pemain belakang.

Koordinasi ketika menghadapi bola mati, transisi bertahan, penjagaan pemain lawan, hingga respons setelah kehilangan bola harus menjadi bagian dari evaluasi.

Sebab, pertandingan besar sering ditentukan oleh detail.

Satu kelengahan dapat menghapus kerja keras selama puluhan menit.

Materi Bagus Belum Tentu Kombinasi Terbaik

Indonesia memiliki banyak pemain berkualitas.

Skuad Garuda bahkan diperkuat sejumlah pemain naturalisasi yang memiliki pengalaman bermain di kompetisi luar negeri.

Namun, banyaknya pemain berkualitas tidak otomatis menghasilkan tim yang kuat.

Herdman harus menemukan kombinasi pemain terbaik yang sesuai dengan sistemnya.

Reputasi tidak boleh menjadi satu-satunya dasar pemilihan pemain.

Yang lebih penting adalah kecocokan karakter.

Seorang pemain bisa memiliki kemampuan individu luar biasa, tetapi jika tidak memahami pergerakan rekan setimnya, kontribusinya tidak akan maksimal.

Persoalan chemistry juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim nasional.

Pemain hanya memiliki waktu terbatas untuk berkumpul. Karena itu, sistem permainan harus sederhana tetapi jelas, sementara setiap pemain memahami tugasnya.

Jika Herdman ingin membangun identitas baru, proses tersebut harus terlihat dalam cara Indonesia bermain.

Harus Punya Rencana B

Dua pertandingan terakhir memberikan pelajaran penting.

Vietnam berhasil membuat Indonesia kesulitan mengembangkan permainan sebelum menghukum kesalahan Garuda dengan tiga gol.

Singapura juga menunjukkan pertahanan yang disiplin.

Ketika ruang semakin sempit, Indonesia terlihat kesulitan mencari alternatif.

Di sinilah kemampuan Herdman kembali diuji.

Pelatih harus memiliki lebih dari satu cara untuk memenangkan pertandingan.

Jika serangan dari tengah buntu, ada opsi melalui sayap.

Jika lawan bertahan terlalu dalam, harus ada pola untuk membongkar blok pertahanan.

Jika Indonesia sudah unggul, harus ada kemampuan untuk mengontrol pertandingan hingga peluit akhir.

Identitas taktik bukan berarti memainkan satu pola secara terus-menerus.

Justru sebuah tim besar harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan karakter.

Mentalitas Garuda Kembali Dipertanyakan

Selain persoalan teknis, kegagalan di Piala AFF 2026 juga menyentuh aspek mental.

Indonesia berada dalam posisi harus menang ketika menghadapi Singapura.

Tekanan tersebut terlihat ketika Garuda gagal mempertahankan keunggulan.

Situasi tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai mentalitas pemain ketika berada dalam pertandingan penentuan.

Herdman sebelumnya meminta pemain memanfaatkan pengalaman dari kegagalan masa lalu.

“Kami tidak punya alasan lagi. Kami sudah menderita bersama, talentanya ada dan kami punya kesempatan membawa negara ini ke level berikutnya,” ujar Herdman seperti dikutip Reuters.

Kini, pernyataan tersebut menjadi tantangan bagi dirinya sendiri.

Herdman harus membuktikan bahwa kegagalan di Piala AFF 2026 dapat menjadi fondasi untuk membangun tim yang lebih matang.

Jika tidak, tekanan terhadap posisinya akan semakin besar.

Kerja Keras atau Tekanan Makin Besar

Kegagalan di Piala AFF 2026 memang belum otomatis berarti Herdman harus kehilangan pekerjaannya.

PSSI belum mengambil keputusan mengenai masa depan pelatih asal Kanada tersebut.

Namun, hasil ini jelas menjadi alarm keras.

Target yang dibebankan kepada Herdman tidak berhenti di Piala AFF.

Timnas Indonesia masih memiliki agenda dan target yang lebih besar di masa mendatang.

Karena itu, evaluasi terhadap Herdman harus dilakukan secara menyeluruh.

Bukan hanya melihat hasil akhir, tetapi juga bagaimana permainan Indonesia berkembang, bagaimana pemain beradaptasi dengan sistem, serta apakah identitas yang dijanjikan mulai terbentuk.

Indonesia memang mengawali Piala AFF 2026 dengan dua kemenangan besar.

Namun, sepak bola tidak hanya dinilai dari bagaimana sebuah tim mengalahkan lawan yang berada di bawahnya.

Kualitas sebenarnya terlihat ketika menghadapi tekanan.

Dan pada dua pertandingan paling menentukan, Indonesia gagal menunjukkan konsistensi tersebut.

Kini Herdman memiliki dua pilihan.

Bekerja lebih keras untuk memperbaiki kekurangan dan membuktikan bahwa proyeknya masih berada di jalur yang benar.

Atau menghadapi tekanan yang semakin besar jika kegagalan serupa kembali terjadi.

Piala AFF 2026 telah berakhir bagi Indonesia.

Tetapi bagi Herdman, pekerjaan justru baru dimulai.

Publik tidak lagi hanya menunggu janji tentang identitas baru.

Mereka menunggu bukti di lapangan.

Kerja keras harus menghasilkan perubahan. Jika tidak, kursi pelatih akan kembali menjadi pertanyaan besar.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tingkatkan Layanan, Pertamina Resmikan Integrasi Informasi Publik
• 43 menit lalu
0
thumb
Nekat Jualan Tramadol dan Hexymer, Pria Ini Ditangkap saat Transaksi di Parkiran
• 15 jam lalu
0
thumb
Xabi Alonso Bongkar Filosofi Taktik Chelsea usai Libas AC Milan di Stadion GBK
• 11 jam lalu
0
thumb
Perdana! Pesawat Penumpang Terbesar di Dunia Airbus A380 Mendarat di Indonesia
• 1 jam lalu
0
thumb
Piutang Multifinance Tumbuh 1,88 Persen, OJK Minta Industri Waspadai Floating Rate
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.