Pekerja mengurai sampah pelastik di pabrik bangunan kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (7/8/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
2/7Tumpukan sampah plastik yang selama ini sulit didaur ulang atau dikenal sebagai sampah plastik tertolak kini memiliki nilai ekonomi. Melalui inovasi daur ulang, limbah tersebut diolah menjadi paving block ramah lingkungan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Sampah plastik yang digunakan berasal dari hasil kerja sama dengan berbagai mitra pengelola sampah serta kiriman masyarakat. Limbah yang sebelumnya berpotensi berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) kini dimanfaatkan sebagai bahan baku produk konstruksi yang memiliki nilai jual. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
4/7Project Assistant Rebrick mengatakan pemanfaatan sampah plastik tertolak menjadi paving block merupakan salah satu solusi untuk membantu mengurangi timbunan limbah plastik yang sulit didaur ulang menggunakan metode konvensional. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Dalam proses produksinya, setiap satu meter persegi paving block mampu menyerap sekitar 2,5 kilogram sampah plastik tertolak. Untuk menghasilkan luasan tersebut dibutuhkan sekitar 44 buah paving block. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
6/7Menurutnya, semakin banyak paving block yang diproduksi, semakin besar pula volume sampah plastik yang dapat dialihkan dari TPA. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mendorong ekonomi sirkular sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah plastik. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
7/7Selain memberikan manfaat bagi lingkungan, produk paving block hasil daur ulang ini juga memiliki nilai komersial. Rebrick memasarkan produk tersebut dengan kisaran harga Rp150.000 hingga Rp200.000 per meter persegi. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)





Komentar (0)