Kucing Obesitas, Gemas tapi Itu Penyakit

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Melihat kucing bertubuh gemuk berjalan perlahan sambil bermalas-malasan memang menggemaskan. Tubuh gemuknya juga membuat pemilik menjadi lebih puas saat mengelus atau sekadar menepuk-nepuk.

Meski tampak lucu dan menggemaskan, kondisi tersebut jangan dibiarkan. Kondisi tersebut bisa jadi sudah menjadi penyakit obesitas yang dapat berdampak pada kesehatan kucing kesayangan.

Obesitas pada hewan peliharaan pun sudah diakui sebagai penyakit oleh para ahli. Kegemukan pada hewan peliharaan bukan lagi sekadar masalah bentuk tubuh, melainkan penyakit yang perlu ditangani secara medis.

Organisasi kedokteran hewan Amerika (AVMA) telah mengakui bahwa obesitas pada hewan peliharaan, terutama anjing dan kucing sebagai sebuah penyakit. Hal tersebut telah dinyatakan sejak Juni 2018.

Baca JugaMasalah Kucing di Negara Pencinta Kucing
Baca Juga”Selebcing”, Kucing-kucing Terkenal di Media Sosial

Dikutip dari artikel di AVMA, obesitas pada anjing didefinisikan sebagai kondisi dengan berat badan lebih dari 30 persen dari berat badan ideal. Namun pada kucing, obesitas sudah terjadi saat berat badan kucing lebih dari 20 persen dari berat badan ideal.

Dosen Paramedik Veteriner Sekolah Vokasi IPB University, Tetty Barunawati Siagian dikutip dari laman IPB University pada Minggu (9/8/2026) mengatakan, obesitas pada kucing merupakan penyakit nutrisi kronis yang perlu dicegah sejak dini. Obesitas terjadi saat lemak tubuh menumpuk secara berlebihan hingga mengganggu kesehatan dan kualitas hidup kucing.

Penilaian obesitas pada kucing tidak hanya pada timbangan. Selain kriteria lebih dari 20 persen berat badan ideal, kucing obesitas juga memiliki skor kondisi tubuh (body condition score/BCS) lebih dari 5. Skor kondisi tubuh pada kucing dinilai dari 1 sampai 9.

“Pemilik dapat melakukan pemeriksaan sederhana di rumah, seperti meraba tulang rusuk, melihat lekukan pinggang dari atas, serta memperhatikan bentuk perut dari samping. Namun, pemeriksaan lebih akurat lewat dokter hewan dengan menggunakan BCS dan muscle condition score,” katanya.

Pemilik dapat melakukan pemeriksaan sederhana di rumah, seperti meraba tulang rusuk, melihat lekukan pinggang dari atas, serta memperhatikan bentuk perut dari samping.

Dikutip dari PetMD, tanda obesitas pada kucing bisa dilihat dari perilakunya. Kucing obesitas biasanya akan kesulitan melompat atau naik tangga. Selain itu, lekuk pinggang serta postur tubuh kucing obesitas tanpa rata dari atas.

Ciri fisik lainnya, tulang rusuk atau tulang pinggul kucing tidak lagi bisa dirasakan saat meraba tubuh kucing. Kalung yang terasa semakin sempit juga bisa menjadi penanda berat badan kucing terus bertambah.

Bahaya kesehatan

Selama ini, banyak pemilik yang merasa kucing dengan kondisi kelebihan berat badan merupakan hal biasa. Padahal, jaringan lemak pada tubuh hewan merupakan organ aktif yang menghasilkan zat-zat inflamasi dan hormon yang dapat mengganggu metabolisme tubuh.

Baca JugaKucing-kucing Menggemaskan di Massachusetts
Baca JugaKucing Tidak Memakan Rumput

Sama seperti manusia, Tetty mengatakan, kucing obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai penyakit, seperti diabetes melitus, osteoartritis, penyakit hati, gangguan saluran kemih, hingga komplikasi saat anestesi. Selain itu, obesitas juga membuat kucing sulit bergerak dan sulit membersihkan tubuhnya sendiri.

Kondisi tersebut membuat kucing obesitas memiliki harapan hidup yang lebih pendek dibandingkan kucing dengan kondisi tubuh ideal. Pemilik kucing sebaiknya punya perhatian khusus jika kucing peliharaannya mengalami obesitas. Langkah pencegahan tetap lebih baik untuk dilakukan.

Untuk menurunkan berat badan pada kucing, pemilik perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter hewan. Hal itu penting agar kebutuhan energi harian dan target berat badan ideal dapat dihitung dengan tepat.

Pengaturan porsi makan bisa menggunakan pakan khusus manajemen berat badan. Aktivitas fisik kucing perlu didorong setidaknya selama 15-30 menit setiap hari dengan mengajak kucing bermain. Batasi camilan dan pantau berat badan secara berkala.

“Program diet juga harus didukung seluruh anggota keluarga. Jangan sampai ada yang diam-diam memberikan makanan tambahan karena hal ini sering menjadi penyebab kegagalan penurunan berat badan pada kucing,” kata Tetty.

Dalam PetMD, pakan untuk kucing obesitas bisa dipilih yang rendah karbohidrat dan rendah lemak dengan kandungan protein dan serat yang tinggi. Pekan jenis ini membuat kucing merasa kenyang lebih lama sambil tetap mempertahankan massa otot.

Serial Artikel

Karpet Merah untuk Kucing-kucing ”Ningrat”

Di banyak negara, ada sejuta kisah tentang kehidupan kucing. Dari kisah mereka, mungkin kita bisa memetik pelajaran.

Baca Artikel

Pemilihan pakan dan terapi lainnya juga perlu disesuaikan dengan kondisi obesitas kucing. Pada beberapa kucing obesitas, risiko obesitas dan tekanan darah tinggi bisa terjadi. Karena itu, pemeriksaan darah pada kucing obesitas penting dilakukan untuk memastikan kondisi tersebut.

Pendiri Asosiasi Pencegahan Obesitas Hewan Peliharaan (APOP), Ernie Ward dalam artikel di AVMA mengatakan, pengaturan pola makan pada kucing obesitas perlu dilakukan dengan tepat dan bertahap. Diet ketat pada kucing yang terlalu cepat justru bisa berisiko.

Penurunan berat badan drastis dapat menyebabkan hilangnya massa otot. Gangguan metabolik lain juga berpotensi muncul akibat diet yang terlalu agresif. Fokus perawatan pada kucing obesitas pun dinilai tidak hanya soal timbangan.

Keberhasilan perawatan obesitas dapat dilihat dari aktivitas dari kucing, seperti kucing yang bisa kembali naik tangga atau melompat ke tempat yang lebih tinggi. “Kemenangan-kemenangan kecil itulah yang menurut saya paling berpengaruh,” kata Ward.

Sebagai pemilik kucing, maupun hewan peliharaan lainnya mestinya punya kesadaran untuk memastikan hewan yang dipelihara tetap sehat. Cara pandang yang dimiliki pun mesti diubah. Kucing yang sehat bukanlah kucing yang gemuk, tetapi kucing yang punya tubuh ideal, aktif, dan menjalani hidup dengan nyaman.

“Obesitas merupakan penyakit yang dapat dicegah melalui pola makan yang tepat, aktivitas fisik yang cukup, serta pemeriksaan rutin ke dokter hewan,” kata Tetty.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hukum sepekan, pemberantasan korupsi hingga sidang banding Nadiem
• 5 jam lalu
0
thumb
Kebakaran Gedung Bapenda DKI, Petugas Sisir Lantai 11-16
• 21 jam lalu
0
thumb
Toyota Tegaskan Mobil Listrik Bukan Satu-satunya Jawaban untuk Indonesia
• 3 jam lalu
0
thumb
Longsor Hantam Nagano, Jepang, Empat Ratus Orang Terisolasi
• 2 jam lalu
0
thumb
[FULL] Berapi-api! Pidato Dedi Mulyadi Soroti Begal-Tramadol: Perang Melawan Kejahatan
• 16 menit lalu
0
Berhasil disimpan.