Kini Hijrah dari Kasus Ijazah, Dokter Tifa Ngaku Pernah Ditawari Uang Damai Rp50 Miliar

wartaekonomi.co.id
6 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dokter Tifa mengungkap pernyataan mengejutkan di tengah keputusannya untuk “hijrah” dari polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Ia mengaku pernah mendapatkan tawaran restorative justice lengkap dengan paket senilai Rp50 miliar, tetapi memilih menolaknya.

Pengakuan tersebut disampaikan Dokter Tifa saat merespons anggapan bahwa dirinya sengaja mundur dari polemik ijazah Jokowi. Ia pun membantah isu yang menyebut dirinya diam-diam pergi ke Solo untuk berdamai.

Menurut Dokter Tifa, jika sejak awal dirinya memang berniat berdamai, tawaran tersebut sudah diterima jauh sebelumnya. Namun, ia menyatakan keputusan untuk hijrah diambil setelah merasa tugasnya sebagai peneliti dan pejuang telah selesai.

Baca Juga: Disebut Pengecut Usai Hijrah dari Kasus Ijazah, Dokter Tifa: 1.910 Hari Saya Meneliti, Kalian Bantu Apa?

"Saya mau berhijrah kok pada protes. Bahkan memaki saya pengecut. Bahkan sekarang ini isu mencuat saya dikatakan diam-diam ke Solo. Allahuakbar! Jika saya mau berdamai dengan Joko Widodo, akan saya terima tawaran itu jauh-jauh hari," kata Dokter Tifa di akun X. 

Ia kemudian menyinggung secara terbuka adanya tawaran restorative justice yang menurutnya disertai paket Rp50 miliar.

"Dan saya buka transparan ini: Tawaran Restorative Justice kepada saya lengkap dengan paket Rp 50 M! Apakah saya ambil? TIDAK!" tegasnya. 

"Lalu kalian masih bilang saya mundur, saya pengecut, saya pengkhianat. Bagaimana sih pikiran kalian? Hah??? Saya hijrah karena tugas saya sebagai peneliti sudah saya tunaikan. Tugas saya sebagai pejuang sudah saya tunaikan! Perjuangan saya selesai dengan eksepsi saya diterima dan saya bebas. Karena itu saya katakan: saya hijrah," ujarnya.

Dokter Tifa kemudian membeberkan perjalanan panjang yang menurutnya menjadi alasan mengapa ia memilih mengakhiri fokusnya pada polemik tersebut. 

"Saya Hijrah dari urusan Ijazah Jokowi. Karena saya memperjuangkan kebenaran ini sejak tahun 2022, jauh sebelum orang-orang lain melakukannya. Saya mengkaji, meneliti, mengobservasi dalam hening dan diam. Lalu mendadak viral karena saya dilaporkan polisi oleh Joko Widodo 30 April 2025," tuturnya.

Ia menyebut telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk penelitian tersebut sekaligus menghadapi proses hukum yang menyertainya.

"Artinya total 4 tahun saya meneliti ijazah ini. Ditambah 450 hari saya dikriminalisasi. Artinya 1.460 hari + 450 hari = 1.910 hari saya menghabiskan waktu untuk mengurusi ijazah ini. Berapa Miliar Rupiah saya keluarkan untuk berjuang dengan segala macam perjuangan ini. Keluar dari kantong sendiri! Tanpa bohir!" tegas dia.

Hasil penelitiannya kemudian telah dituangkan dalam buku Jokowi's White Paper. 

"Hasil penelitian saya rampung dan bulan Agustus 2025 dan menjadi buku Jokowi's White Paper. Masih lagi ditambah saya berurusan dengan POLDA menjadi saksi, terlapor, tersangka, lalu terdakwa. Ditahan, disidang, kemudian setelah berjuang empat kali sidang duduk di kursi terdakwa. Kemudian 23 Juli 2026 status terdakwa saya dinyatakan batal demi hukum," katanya.

Meski menyatakan hijrah dari polemik ijazah, Dokter Tifa memastikan dirinya tetap akan melawan apabila status bebas yang diperolehnya kembali terancam.

"Sekarang, ketika status bebas saya terancam dibatalkan, ya tentu saya harus melawan, dong. Saya bebas cuma tiga hari lalu tiba-tiba jadi terdakwa lagi dengan panggilan sidang. Ya harus saya lawan dong. Dengan apa? Ya dengan fasilitas hukum yang ada mulai dari Pra Peradilan. Maka saya mengajukan Pra Peradilan! Diizinkan Mahkamah Agung maka insyaAllah Rabu 12 Agustus 2026 saya berjuang lagi di sidang," imbuhnya.

Dokter Tifa juga meminta orang-orang yang selama ini memberikan komentar mengenai perjuangannya untuk turut memberikan dukungan nyata, salah satunya dengan membeli bukunya.

"Lalu kalian bantu saya apa selama ini? Beli buku saya kek. Borong buku biar saya tenang berjuang tanpa mikir dengan apa saya membiayai perjuangan ini. Jangan cuma jadi komentator bola di lapangan seakan jadi si paling berjuang," tuturnya.

"Bantu beli buku kagak. Datang temani saya bersidang kagak. Menghujat paling duluan. Kalah berani sama perempuan. Huh! Cemen!" tutup Dokter Tifa.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kecelakaan Maut di Mojokerto, Pemotor Wanita Tewas usai Tabrak Truk Parkir
• 18 jam lalu
0
thumb
Sejumlah Daerah Sudah Siaga Darurat Kekeringan tapi BPBD DIY Tak Punya Anggaran Dropping Air
• 17 jam lalu
0
thumb
Kebakaran Gedung Bapenda DKI, 1 Orang Dilarikan ke RS Tarakan
• 20 jam lalu
0
thumb
Konten Provokatif Bikin Gaduh, Pakar Hukum Dorong Polri Tindak Tegas Pelaku
• 21 jam lalu
0
thumb
Kemenimipas Gelar Fun Walk hingga Donor Darah Sambut HUT 81 RI
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.