Iran Sebut Kesepakatan Jalur Laut Selat Hormuz dengan Oman Segera Tercapai

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Iran menyatakan pihaknya sangat dekat dengan kesepakatan bersama Oman mengenai jalur transit maritim baru di Selat Hormuz. Kendati demikian, Republik Islam Iran kembali menyampaikan sejumlah persyaratan ketat yang harus disetujui Amerika Serikat (AS) sebelum jalur perairan strategis tersebut dapat dibuka kembali.

Mengutip Bloomberg, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pada Sabtu (8/8) bahwa para negosiator semakin mendekati titik temu mengenai koridor transit maritim sementara bagi kapal-kapal yang keluar-masuk Teluk Persia.

Namun, ia memperingatkan kesepakatan tersebut tidak akan langsung membuat selat terbuka secara penuh, yang mengindikasikan kelonggaran pasokan energi global masih akan terbatas.

“Pembukaan selat bergantung pada kondisi lainnya, termasuk kompensasi atas pelanggaran AS terhadap Perjanjian Islamabad,” kata Araghchi.

Ia merujuk pada nota kesepahaman yang kini telah berakhir perjanjian yang ditandatangani pada Juni lalu dan hanya bertahan kurang dari sebulan sebelum runtuh akibat perbedaan pandangan mengenai tata kelola Selat Hormuz.

Selain ganti rugi, Iran menuntut agar AS mencabut blokade laut, menarik pasukan militernya dari sekitar kawasan Iran, menghapuskan sanksi ekonomi, serta membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan tanpa syarat. Tuntutan keras tersebut turut dikonfirmasi oleh Mohammad Bagher Zolghadr, tokoh garis keras yang memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Di sisi lain, Oman melalui pernyataan resmi di platform X menyampaikan bahwa proses negosiasi berjalan dalam “suasana yang positif dan konstruktif”, seraya menyerukan penghentian aksi militer di selat agar tidak mencederai upaya diplomatik pemulihan jalur pelayaran.

Respons Amerika Serikat

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai bentuk respons Washington terhadap rancangan kesepakatan final tersebut. Presiden AS Donald Trump selama beberapa bulan terakhir menegaskan bahwa pelayaran bebas di Selat Hormuz harus segera dipulihkan, bahkan melontarkan ancaman aksi militer baru jika Iran tetap menolak membuka jalur tersebut.

Wakil Presiden AS JD Vance mengakui adanya kemajuan signifikan dalam perundingan beberapa hari terakhir, meski ia menilai hasil akhirnya belum tentu sepenuhnya memuaskan kepentingan AS.

“Saya mencoba mengingatkan orang-orang bahwa kita sebenarnya masih berada di tengah-tengah permainan ini,” ujar Vance dalam wawancara bersama Fox News pada Sabtu.

Pertanyaan utamanya, lanjut Vance, adalah apakah Iran sanggup “memberikan hal-hal yang diperlukan agar kami merasa senang, agar kami merasa telah mendapatkan apa yang kami perlukan dari keterlibatan ini.”

Vance juga menekankan bahwa ranjau laut yang ditebar Iran di selat pada awal konflik harus dibersihkan tuntas, serta Teheran wajib memberikan jaminan keamanan agar tidak menembaki kapal-kapal komersial yang melintas.

“Apa yang sebenarnya sedang kami upayakan sekarang adalah bagaimana menyiapkan skema lalu lintas sehingga kapal-kapal yang melintas dapat melewati selat dengan aman,” ungkapnya.

Risiko Keamanan di Lapangan

Di tengah alotnya perundingan, Abu Dhabi National Oil Co. melaporkan bahwa sebuah rudal kembali menghantam salah satu kapalnya saat melintasi Selat Hormuz pada Sabtu pagi, menurut kantor berita resmi Uni Emirat Arab (UEA), WAM. Beruntung, insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dan situasi berhasil dikendalikan. Tercatat sudah tiga kapal milik produsen minyak terbesar UEA itu yang menjadi sasaran serangan sepanjang pekan ini.

Rentetan insiden ini menyoroti tingginya risiko yang masih dihadapi sektor pelayaran komersial di tengah kecamuk konflik regional.

“Kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz masih sulit dicapai, sementara investor berada dalam posisi yang serba tidak pasti,” ujar Rob Haworth, direktur senior strategi investasi di US Bank Wealth Management.

“Untuk saat ini, volume lalu lintas masih rendah dan jalan menuju kesepakatan yang bertahan lama masih belum jelas,” imbuhnya.

Sementara itu, Washington berulang kali mengklaim pihaknya turut terlibat langsung dalam proses negosiasi tata kelola Hormuz, klaim yang sempat dibantah oleh pihak Teheran. Menurut seorang pejabat AS, Washington baru akan mencabut pembatasan blokade maritim setelah kesepakatan formal antara Oman dan Iran terkait pemulihan pelayaran niaga resmi diumumkan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
“Mungkin Aku Pelari yang Paling Tua" Canda Retno Marsudi Ikut Lari 5K BTN UI Green Marathon
• 3 jam lalu
0
thumb
Mengenal Skema Battery as a Service Polytron G3, Baterai Dijamin Seumur Hidup
• 32 menit lalu
0
thumb
11 Ribu Massa Siaga di Monas, Apel Kebangsaan Jaga Jakarta untuk Indonesia
• 5 jam lalu
0
thumb
AAJI Menilai POJK 36/2025 Memperkuat Ekosistem Asuransi Kesehatan Nasional
• 19 jam lalu
0
thumb
Kecelakaan Bus di Himachal Pradesh India Tewaskan Tujuh Orang, 11 Terluka
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.