BEKASI, KOMPAS.com - Hampir setengah abad tinggal di Kompleks Wisma Seroja, Jalan Delima, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Kolonel Inf (Purn) Deden Nugraha (74) mengaku belum pernah melihat kepala daerah datang langsung menyapa para veteran di sana.
Padahal, kompleks tersebut bukan sekadar kawasan permukiman biasa. Wisma Seroja menjadi tempat tinggal ratusan veteran Operasi Seroja dan keluarga prajurit yang gugur saat bertugas di Timor-Timur.
Sebagian penghuninya kini telah lanjut usia. Ada veteran yang kehilangan kaki, kehilangan tangan, hingga para janda yang puluhan tahun menjalani hidup tanpa pasangan.
Bagi Deden, perhatian pemerintah kepada mereka seharusnya tidak berhenti pada upacara, ziarah, atau tabur bunga setiap momentum tertentu.
Menjelang Hari Ulang Tahun Ke-81 Republik Indonesia, ia justru berharap ada bentuk perhatian yang lebih sederhana, pemerintah datang dan berbicara langsung dengan mereka.
"Selama ini hanya sebatas tabur bunga dan ziarah, tapi tidak mengangkat harkat martabat keluarganya (veteran). Kami hanya ingin pemerintah hadir dan menyapa kami. Itu saja," ujar Deden kepada Kompas.com saat ditemui di kediamannya, Kamis (6/8/2026).
Baca juga: Veteran Seroja di Ujung Senja: Kami Hanya Ingin Pemerintah Menyapa
Harapan itu bukan muncul baru-baru ini. Sejak menetap di Wisma Seroja pada 1984, Deden mengaku belum sekalipun menerima kunjungan kepala daerah ke kompleks tersebut.
"Selama saya tinggal di sini, belum pernah ada wali kota atau bupati datang ke Kompleks Seroja," kata dia.
Menurut Deden, kehadiran pemerintah tidak harus diwujudkan melalui acara besar.
Duduk bersama para veteran, mendengar cerita mereka, dan mengetahui kebutuhan yang dihadapi penghuni kompleks sudah menjadi bentuk perhatian yang berarti.
"Kami hanya ingin pemerintah datang menyapa warganya," ujar Deden.
Bukan Sekadar Tabur BungaDeden menilai penghormatan terhadap veteran seharusnya tidak berhenti pada seremoni.
Para prajurit yang menjalani Operasi Seroja, kata dia, telah memberikan tenaga, waktu, bahkan bagian dari tubuh mereka untuk negara.
Karena itu, perhatian terhadap kehidupan mereka dan keluarga yang ditinggalkan semestinya tetap diberikan setelah perang berakhir.
"Yang lebih penting adalah memastikan kesejahteraan mereka dan keluarganya tetap terjaga," ucap dia.
Namun, Deden memahami bahwa para veteran bukan kelompok yang terbiasa datang untuk meminta bantuan.
"Kami ini malu meminta-minta. Dan kami punya kode etik bekerja tanpa pamrih," kata Deden.
Persoalan yang dihadapi penghuni Wisma Seroja pun kini semakin beragam seiring bertambahnya usia mereka.
Baca juga: Luka Perang Tak Hilang, Deden Kini Berjuang agar Veteran Tak Dilupakan
Sejak kompleks itu dibangun pada era Presiden Soeharto, Wisma Seroja memang dirancang sebagai bentuk tanggung jawab negara kepada prajurit penyandang disabilitas dan keluarga korban Operasi Seroja.
Pada masa awalnya, kompleks tersebut dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, mulai dari pusat rehabilitasi, pelatihan keterampilan, layanan kesehatan, hingga pendidikan.
Kini, waktu mengubah wajah penghuninya.
"Jumlah warganya sekarang sekitar 400 orang. Dulu banyak bapak-bapaknya, sekarang kebanyakan tinggal ibu-ibunya," kata Deden.
Para veteran yang dahulu menghuni kompleks itu perlahan meninggal dunia.
Rumah-rumah yang sebelumnya dihuni pasangan veteran kini banyak ditempati para janda.






Komentar (0)