Riwayat Salju Batu Kapur di Bandung Barat yang Bikin KDM Turun Tangan

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menutup lima pabrik pengolahan batu kapur di kawasan Padalarang-Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Penutupan dilakukan karena diduga ada temuan pelanggaran aturan ketenagakerjaan dan lingkungan berdasarkan hasil investigasi.

Aktivitas pabrik-pabrik pengolahan kapur bukan hanya terkait dengan pelanggaran pabrik semata. Lebih dari itu, terdapat permasalahan kerusakan lingkungan yang menggerogoti bentang alam wilayah itu sejak lama. Bahkan, kawasan itu viral usai polusi debunya berwarna putih yang menyelimuti pemukiman, pepohonan hingga kios oleh-oleh disebut mirip hujan salju.

Baca Juga
  • Usai KDM Sidak Pabrik Penyebab 'Hujan Salju' di KBB, Warga Kini Bersuara 'Keras' Lewat Spanduk
  • 378 Warga Terdampak Debu Pengolahan Batu Kapur di Bandung Barat Suspek TB
  • Warga Terdampak Polusi Tambang Batu Kapur Bandung Barat Alami Sesak Napas Hingga Kulit Melepuh
Pagi itu Ela (43 tahun), warga Kampung Pamucatan, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat menunjukkan kepulan debu putih yang menyelimuti rumahnya. Debu-debu itu menyelimuti bukan karena jarang dibersihkan, tetapi butiran debu dari aktivitas industri pengolahan batu kapur yang ada di kawasan itu. 

Saat aktivitas pabrik berlangsung, kepulan debu tampak keluar dari area industri dan terbawa angin menuju rumah-rumah yang berada tak jauh dari lokasi. Kondisi semakin parah di musim kemarau panjang.

.rec-desc {padding: 7px !important;} Hampir setiap hari debu putih menutupi atap rumah, jemuran pakaian, hingga bagian dalam rumah. Kondisi semakin parah karena saat ini sudah memasuki kemarau panjang sehingga debu lebih mudah terbawa angin hingga menempel di rumah.

"Dampak debu sangat terasa. Bisa dilihat sendiri semua genting memutih setiap hari. Buat ibu-ibu seperti saya, jemuran kena debu, rumah juga cepat kotor. Saya capek harus mengepel lantai terus-terusan," tutur Ela.

Hidup di tengah kepungan polusi debu tentu saja bukan keinginan Ela dan keluarganya. Niatnya ingin pindah saja ke lingkungan yang lebih baik, namun kondisi memaksanya untuk tetap bertahan di sana. Sehingga itikad baik dan solusi dari pemerintah serta perusahaan begitu diharapkannya agar terlepas dari "saljunya" ala Bandung Barat ini.

Ela juga mengaku mulai khawatir terhadap kondisi kesehatan keluarganya. Anaknya belakangan sering mengalami alergi kulit disertai sesak napas. Dalam hatinya, ia ingin pindah dari wilayah itu namun kondisi perekonomiannya tidak memungkinkkan.

Warga lainnya, Ramadan (35), mengaku kondisi itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, debu kembali memenuhi rumah hanya beberapa saat setelah dibersihkan.

"Kalau debu sudah pasti. Saya sehari bisa mengepel lantai sampai lima kali. Baru selesai dibersihkan, debu datang lagi," ujar dia.

Ramadan mengaku keluarganya mulai merasakan gangguan kesehatan. Anaknya disebut kerap mengalami batuk yang sulit sembuh. "Yang paling terasa itu batuk-batuk selalu ada. Anak saya kena, sembuhnya susah, berobat kambuh lagi, kambuh lagi. Kami memang tidak tahu apakah itu akibat polusi udara atau bukan, tapi itu yang dirasakan warga," katanya.

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republikajabar (@republikajabar)

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Diperiksa Selama 7 Jam, Febrie Adriansyah Dicecar 20 Pertanyaan oleh Penyidik Kejagung
• 6 jam lalu
0
thumb
Usut Kematian Sutrimo, Polisi Periksa Dokter RS Muhammadiyah Pekan Depan
• 24 menit lalu
0
thumb
Sambut HUT ke-81 RI, Polda Riau Gelar Aksi Sosial di Dumai
• 13 jam lalu
0
thumb
Dasco Sebut Penanganan Korban TPKS Tak Maksimal karena Kurangnya Pendanaan
• 23 jam lalu
0
thumb
Survei IPO: Prabowo Belum Aman dari Kejaran KDM dan Anies
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.