BEKASI, KOMPAS.com – Sore itu, Kolonel Inf. (Purn.) Deden Nugraha (74) duduk tenang di ruang tamu rumahnya di Kompleks Wisma Seroja, Jalan Delima, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi.
Di usia yang tak lagi muda, pria berkacamata itu masih mengenakan seragam cokelat Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).
Di dadanya, deretan tanda jasa tersemat, menjadi saksi perjalanan panjang yang telah dilaluinya sebagai prajurit.
Di tangan kirinya, Deden menggenggam selembar foto hitam putih yang mulai memudar.
Baca juga: Keluarga Korban Tragedi Tabrakan Kereta Bekasi Tuntut Keadilan: Kami Ingin Ada Kejelasan
Foto itu diambil hampir setengah abad silam, ketika rambutnya masih hitam dan tubuhnya masih tegap sebagai seorang perwira muda yang ditugaskan dalam Operasi Seroja di Timor-Timur.
Jarinya kemudian menunjuk salah satu sosok dalam foto.
"Itu saya," katanya.
Sosok muda dalam foto itu adalah Deden, ketika masih memimpin satu peleton pasukan di medan tempur.
Kini, hampir lima dekade berlalu. Deden menjalani hari-harinya bersama sang istri di rumah sederhana yang telah ditempatinya sejak 1984.
Baca juga: Veteran Seroja di Ujung Senja: Kami Hanya Ingin Pemerintah Menyapa
Tubuhnya memang masih tampak tegap. Namun, ada luka yang ikut pulang bersamanya dari medan perang dan tak pernah benar-benar pergi.
Peluru yang menembus perutnya saat bertugas pada 1978 membuat sebagian ususnya harus diangkat.
Tangan kirinya pun tak lagi dapat digerakkan secara normal dan masih mengalami mati rasa hingga sekarang.
Namun, ketika berbicara tentang masa lalu, Deden tidak banyak bercerita tentang rasa sakitnya.
Yang lebih ia pikirkan justru nasib orang-orang yang pernah berjalan bersamanya di medan perang.
Ia ingin para veteran yang telah mempertaruhkan hidup untuk negara tidak dilupakan setelah perang berakhir.
Baca juga: Ingatan Veteran Operasi Seroja Timor Timur: Baru Sampai Langsung Ziarah
"Sebenarnya kami tidak meminta yang macam-macam. Kami hanya ingin pemerintah hadir dan memperhatikan para veteran yang sudah berjuang untuk negara," ujar Deden saat ditemui Kompas.com, Kamis (6/8/2026).
Mengikuti Jejak Sang AyahKeinginan menjadi tentara tumbuh dalam diri Deden sejak kecil.
Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga militer. Ayahnya merupakan pejuang Angkatan '45 yang ikut hijrah ke Yogyakarta saat mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara, Deden memilih mengikuti jejak sang ayah.
"Waktu itu saya enggak banyak mikir. Yang penting daftar saja. Bahkan saya enggak izin orang tua," kata Deden.
Ia baru memberi tahu ibunya setelah dinyatakan lulus dan hendak berangkat mengikuti pendidikan militer di Magelang.
"Ibu saya syok karena itu pertama kali anaknya pergi jauh," kenangnya.
Baca juga: Selamat Jalan Deden Maulana, Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500
Deden kemudian lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) pada 1975 dan memulai karier sebagai perwira infanteri.
Tak lama setelah itu, datang penugasan yang kelak menjadi bagian paling panjang dalam ingatannya: Operasi Seroja di Timor-Timur.
Penugasan pertamanya berlangsung pada 1976. Saat itu, Deden bertugas dalam satu batalyon bersama seorang perwira muda yang kelak menjadi Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Di tengah kerasnya medan tugas, masih ada cerita kecil yang melekat dalam ingatannya.
Deden bercerita, ia dan SBY pernah diam-diam pergi ke sebuah kampung untuk mencari ayam goreng.
"Kami sering diam-diam berdua ke kampung buat makan ayam goreng kecap. Saya enggak tahu apakah Pak SBY masih ingat itu atau enggak," katanya sambil tersenyum.
Baca juga: Strategi Perang Soerito di Timor Timur Buat Pasukan Lawan Menyerah lalu Berbalik Membantu
Namun, penugasan berikutnya membawa cerita yang jauh berbeda.
Peluru di Gunung MatebianPada 25 Oktober 1978, Deden memimpin satu peleton dari Batalyon 328 Kostrad dalam operasi pengejaran kelompok bersenjata di Gunung Matebian, Timor-Timur.
Di tengah pertempuran, rentetan peluru menghantam tubuhnya.






Komentar (0)