HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Peluncuran 10 buku karya Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang bertepatan dengan perayaan ulang tahunnya ke-50 dinilai bukan sekadar seremoni.
Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik DPP Partai Golkar, Idrus Marham, menyebut momentum tersebut sebagai tradisi baru yang mencerminkan karakter kepemimpinan seorang Bahlil Lahadalia.
Menurut Idrus, peringatan setengah abad usia Bahlil tidak dirayakan dengan kemewahan semata, melainkan melalui peluncuran karya intelektual yang merekam perjalanan, pengalaman, dan gagasan seorang pemimpin yang lahir dari proses panjang.
“Pak Bahlil Lahadalia, baik sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar maupun sebagai Menteri ESDM, membuat sebuah tradisi baru dalam rangka memperingati hari kelahiran. Pada usia 50 tahun, beliau memperkokoh dirinya sebagai seorang pejuang, pemikir, dan penggerak,” kata Idrus dalam keterangannya pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Politikus senior Golkar itu mengaku mengikuti perjalanan hidup Bahlil sejak masih berada di Papua hingga menempati posisi strategis di panggung nasional. Dari perjalanan tersebut, Idrus melihat ada tiga identitas utama yang melekat pada sosok Bahlil.
Pertama, Bahlil adalah seorang pembelajar. Menurutnya, proses belajar yang dijalani Bahlil tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman hidup dan keterlibatan langsung dalam berbagai dinamika sosial dan organisasi.
“Seluruh proses kehidupannya dari Papua sampai Jakarta adalah proses belajar. Belajar tidak hanya di bangku sekolah, tetapi juga dari berbagai pengalaman yang membentuk pengetahuan,” ujarnya.
Dari proses pembelajaran itu, lanjut Idrus, lahirlah sosok pemikir. Karakter tersebut terlihat saat Bahlil memimpin berbagai organisasi, mulai dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hingga Partai Golkar.
“Pembelajar melahirkan pemikir. Itu terlihat ketika beliau memimpin berbagai organisasi dan menghadapi berbagai persoalan dengan gagasan-gagasan yang lahir dari pengalaman,” katanya.
Karakter ketiga yang dinilai paling menonjol adalah penggerak. Idrus menyebut Bahlil tidak hanya berhenti pada tataran ide, tetapi mampu menggerakkan organisasi dan mengeksekusi kebijakan secara nyata.
Ia mencontohkan bagaimana Bahlil menjaga konsistensi Golkar sebagai partai karya kekaryaan, sekaligus menjalankan tugas sebagai Menteri ESDM dengan menjadi pelaksana kebijakan pemerintah yang efektif.
“Pak Bahlil adalah penggerak. Sebagai Menteri ESDM, beliau menjadi eksekutor yang produktif terhadap kebijakan-kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Presiden adalah decision maker, sementara Pak Bahlil menjadi pelaksana yang baik terhadap kebijakan tersebut,” ujarnya.
Idrus juga menilai kepemimpinan Bahlil terlihat dari keberaniannya menghadapi berbagai persoalan di lapangan. Menurutnya, Bahlil tidak pernah menghindari masalah, melainkan memilih hadir langsung di tengah masyarakat ketika muncul penolakan atau protes terhadap kebijakan pemerintah.
“Ketika ada masyarakat yang demo, Pak Bahlil mendatangi mereka. Ketika ada masalah di lapangan, beliau tidak melempar tanggung jawab kepada bawahan, tetapi mengambil alih dan menyelesaikannya. Di situ terlihat karakter seorang aktivis, nasionalis, sekaligus patriot,” katanya.
Bagi Idrus, peluncuran 10 buku pada usia 50 tahun menjadi simbol penting bahwa seorang pemimpin besar lahir dari proses panjang sebagai pejuang yang terus belajar dan berpikir sebelum akhirnya memimpin.
“Sejatinya pemimpin Indonesia ke depan harus melalui proses panjang sebagai pejuang. Dari proses itu lahir pengalaman, pengalaman melahirkan pengetahuan, dan pengetahuan itulah yang direkonstruksi menjadi strategi untuk mengeksekusi kebijakan,” tuturnya.
Ia menegaskan, kepemimpinan yang efektif tidak lahir secara instan. Menurut Idrus, banyak pemimpin yang muncul tanpa melalui proses pembelajaran dan pengalaman yang memadai sehingga gagal menghadirkan perubahan yang nyata.
“Pak Bahlil menunjukkan tahapan yang lengkap. Seorang pejuang yang lahir dalam proses, kemudian menjadi pembelajar, menjadi pemikir, dan akhirnya menjadi pemimpin. Inilah model kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia hari ini,” pungkasnya. (ams)






Komentar (0)