Seberapa Panas Bumi di Masa Depan? Ini Prediksi Ilmuwan

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita
Foto: Sebuah patung es yang menggambarkan kurir sepeda, salah satu kelompok pekerja yang paling rentan terhadap gelombang panas, yang ditempatkan oleh aktivis Greenpeace, meleleh di bawah sinar matahari, selama demonstrasi untuk menyoroti dampak pemanasan global saat gelombang panas melanda Italia, di dekat Colosseum, di Roma, Italia, 15 Juli 2026. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Jakarta, CNBC Indonesia - Suhu bumi diperkirakan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang seiring pemanasan global yang memperparah gelombang panas dan kenaikan suhu rata-rata. Kondisi tersebut diperkirakan akan terus berlangsung hingga emisi gas rumah kaca yang memerangkap panas, terutama karbon dioksida dan metana, mencapai nol.

Melansir Mashable.com, Sabtu (8/8/2026), sejumlah rekor suhu ekstrem yang terjadi pada 2023 menunjukkan gambaran perubahan iklim yang semakin nyata. Phoenix, Amerika Serikat, mengalami suhu di atas 110 derajat Fahrenheit atau sekitar 43,3 derajat Celsius selama lebih dari 30 hari berturut-turut, sementara China mencatat 126 derajat Fahrenheit atau sekitar 52,2 derajat Celsius.

Suhu ekstrem juga tercatat di Death Valley yang mencapai 120 derajat Fahrenheit atau sekitar 48,9 derajat Celsius pada pukul 01.00, sedangkan Roma mencatat suhu 109 derajat Fahrenheit atau sekitar 42,8 derajat Celsius. Gelombang panas sebenarnya merupakan fenomena normal di bumi, tetapi pemecahan rekor suhu secara terus-menerus dalam skala ekstrem bukanlah kondisi yang normal.


Seberapa panas bumi pada masa depan sangat bergantung pada jumlah emisi bahan bakar fosil yang dilepaskan manusia ke atmosfer. Karena perilaku manusia dan kebijakan pemerintah sulit diprediksi, para ilmuwan menggunakan sejumlah skenario pemanasan yang menggambarkan kemungkinan kondisi bumi berdasarkan tingkat emisi yang berbeda.

Ilmuwan iklim Cornell University Flavio Lehner mengatakan skenario tersebut sangat bergantung pada apa yang dilakukan manusia sehingga sulit diprediksi secara pasti. Menurut dia, perilaku manusia sulit diprediksi ketika menentukan arah kebijakan dan penggunaan energi di masa depan.

Kabar baiknya, skenario terburuk yang membuat suhu bumi naik sekitar 9-10 derajat Fahrenheit atau sekitar 5 derajat Celsius dibandingkan era praindustri dinilai sangat kecil kemungkinannya terjadi. Namun, skenario terbaik untuk membatasi kenaikan suhu hingga sekitar 2,7 derajat Fahrenheit atau 1,5 derajat Celsius pada akhir abad ini juga dinilai sulit dicapai.

Bumi saat ini telah mengalami kenaikan suhu sekitar 2 derajat Fahrenheit atau 1,2 derajat Celsius dibandingkan tingkat pada akhir abad ke-19. Kenaikan tersebut telah memicu berbagai perubahan besar terhadap sistem iklim dan lingkungan bumi.

Sekitar satu dekade lalu, prospek pemanasan global terlihat jauh lebih buruk karena penggunaan bahan bakar fosil dan emisi karbon terus meningkat setiap tahun. Kondisi tersebut sempat meningkatkan kekhawatiran bahwa bumi dapat bergerak menuju skenario pemanasan terburuk, yakni SSP5-8.5.

Skenario SSP5-8.5 menggambarkan kondisi dengan emisi gas rumah kaca yang sangat tinggi dan peningkatan pembakaran batu bara hingga 6,5 kali lipat pada 2100. Namun, penggunaan batu bara saat ini tidak lagi mengalami pertumbuhan tahunan yang sama seperti sebelumnya.

Pilihan Redaksi
  • Bumi Menuju Kiamat Makin Cepat, Situasinya Sudah Sangat Genting
  • Saking Panasnya, Unta di Afrika Tak Tahan Sampai Ada yang Mati
  • "Neraka Luber-Luber" di Eropa, Sungai Menghilang-Suhu Panas Mendidih

Di sisi lain, energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin telah berkembang pesat dan kini menyumbang sekitar 13% dari pasokan energi di Amerika Serikat. Meski demikian, energi terbarukan masih berada di bawah bahan bakar fosil dalam hal penggunaan energi baik di Amerika Serikat maupun secara global.

Ilmuwan iklim Zeke Hausfather mengatakan dunia telah memasuki transisi energi yang belum terlihat satu dekade lalu. Perubahan tersebut secara signifikan mengurangi kemungkinan terjadinya skenario iklim terburuk.

Menurut Hausfather, perkembangan energi saat ini membuat kemungkinan terjadinya skenario masa depan yang paling buruk semakin kecil. Dengan demikian, dunia dinilai semakin menjauh dari jalur pemanasan ekstrem yang sebelumnya menjadi salah satu kekhawatiran utama para ilmuwan.

Pada sisi lain, terdapat skenario SSP1-1.9 yang dapat membatasi kenaikan suhu bumi hingga sekitar 1,5 derajat Celsius dibandingkan era praindustri pada akhir abad ini. Target tersebut merupakan ambisi yang ingin dicapai para pemimpin dunia ketika menandatangani Perjanjian Paris pada 2016.

Namun, umat manusia diperkirakan akan melewati target kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius tersebut, bahkan berpotensi terjadi sejak dekade 2030-an. Kondisi tersebut membuat dunia kemungkinan berada di antara skenario terbaik dan terburuk, yang berarti pemanasan signifikan masih akan terjadi.

Lehner menyebut kondisi tersebut bukan kabar baik, tetapi juga bukan skenario terburuk yang mungkin terjadi. Sementara itu, Hausfather memperkirakan jalur yang paling realistis saat ini mendekati skenario SSP2-4.5.

Skenario SSP2-4.5 memperkirakan kenaikan suhu sekitar 4,8 derajat Fahrenheit atau sekitar 2,6-2,7 derajat Celsius dibandingkan era praindustri. Hausfather mengatakan angka tersebut merupakan perkiraan terbaik berdasarkan kebijakan iklim yang saat ini diterapkan berbagai negara, meski masih terdapat ketidakpastian mengenai respons bumi terhadap peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer.

Kenaikan suhu sekitar 2,6 derajat Celsius pada abad ini tetap merupakan kondisi yang perlu dihindari karena dapat memperbesar berbagai dampak perubahan iklim. Hausfather menilai dunia masih dapat melakukan upaya yang jauh lebih baik dibandingkan sekadar mempertahankan kebijakan yang berlaku saat ini.

Kenaikan suhu sekitar 1,2 derajat Celsius yang sudah terjadi telah membuat kebakaran hutan yang lebih intens semakin sering karena atmosfer yang lebih hangat dapat mengeringkan vegetasi dan pepohonan sehingga lebih mudah terbakar. Pemanasan tersebut juga menyebabkan mencairnya sejumlah lapisan es terbesar di bumi, termasuk di Greenland, yang mendorong kenaikan permukaan laut dan akan terus berlangsung selama berabad-abad atau lebih.

Pemanasan global juga meningkatkan kemungkinan terjadinya gelombang panas dengan suhu yang memecahkan rekor. Selain itu, gelombang panas laut menjadi lebih sering dan ekstrem sehingga meningkatkan risiko kematian massal terumbu karang serta menimbulkan dampak ekologis yang luas terhadap ikan yang bergantung pada ekosistem tersebut.

Perubahan iklim juga memperparah kekeringan, termasuk kekeringan berkepanjangan di wilayah barat daya Amerika Serikat. Secara historis, kekeringan telah menyebabkan penurunan hasil panen secara signifikan.

Atmosfer yang lebih hangat juga dapat menampung lebih banyak uap air sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan ekstrem dan banjir. Suhu laut yang lebih tinggi turut menjadi bahan bakar bagi badai dan siklon tropis, meskipun pembentukan badai dipengaruhi sejumlah faktor cuaca yang kompleks.

National Oceanic and Atmospheric Administration atau NOAA memperkirakan intensitas siklon dapat meningkat di dunia yang mengalami pemanasan sekitar 2 derajat Celsius. Namun, ilmu mengenai penguatan intensitas badai akibat perubahan iklim masih terus berkembang.

Lehner mengatakan berbagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya sudah terlihat ketika bumi baru mengalami pemanasan sekitar 1,2 derajat Celsius. Menurut dia, kondisi iklim saat ini sudah berbeda dibandingkan sebelumnya dan berbagai perubahan tersebut telah terjadi pada tingkat pemanasan yang relatif rendah.

Jika pemanasan mencapai 2 derajat Celsius, sejumlah dampak perubahan iklim diperkirakan dapat meningkat secara signifikan dibandingkan kondisi saat ini. Lehner memperkirakan banyak dampak dapat meningkat sekitar dua kali lipat dalam frekuensi atau tingkat keparahannya, meskipun perubahan tersebut tidak selalu berlangsung secara linear.

Karena itu, pembatasan kenaikan suhu bumi menjadi semakin penting untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Generasi mendatang akan menghadapi kenaikan permukaan laut dan berbagai konsekuensi perubahan iklim lainnya, meskipun tingkat keparahannya masih sangat bergantung pada seberapa besar pemanasan global dapat dibatasi.


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Inovasi Fintech Lending Atasi Gap Kredit UMKM Sebesar Rp2.400 T

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
MenterI LH Bakal Tindak Penebangan Pohon Depan Lapangan Padel Bandung: Barbar!
• 8 jam lalu
0
thumb
Tidak Enak Jadi Kepala Daerah
• 3 jam lalu
0
thumb
UNIQLO Rayakan Semangat Kemerdekaan melalui Inisiatif "UNIQLO Celebrating Indonesia. Made for All. Made for Indonesia”
• 8 jam lalu
0
thumb
Kebakaran Gedung Bapenda Jakarta Masuk Proses Pendinginan Usai 4,5 Jam Pemadaman
• 18 jam lalu
0
thumb
Korban Kebakaran yang Dievakuasi dari Gedung Bapenda DKI Seorang Pekerja
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.