Kibaran Bendera Merah Putih Marketplace dan Kesepian Pedagang Jalanan

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, bendera Merah Putih jadi salah satu item yang paling diburu. Barang ini mudah ditemukan di berbagai tempat: dari pinggir jalan, sampai penjualan online.

Namun, dengan 17 Agustus yang tinggal menghitung hari, nasib pedagang jalanan justru kian anyep.

Dina (48), salah satunya, pedagang bendera asal Cirebon, masih mengandalkan langkah kaki untuk menawarkan dagangannya. Sejak Rabu, 29 Juli 2026, ia berkeliling dari Bekasi hingga Jakarta Timur membawa banyak bendera dan tiang dengan gerobak kecilnya untuk mencari pembeli.

Sudah sekitar lima tahun Dina menjalani pekerjaan musiman itu. Namun, tahun ini ia merasakan perubahan yang cukup tajam.

"Beda sekarang sih banyak online, jadi kurang laku lah. Kurang laku, banyakan orang beli online semua. Jadi capeknya doang. Keliling tuh," kata Dina saat ditemui di sekitar Jalan Kalibaru, Bekasi, Sabtu (8/8) sore.

Dina mengatakan, penjualan bendera tahun ini turun sekitar separuh dibandingkan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya ia bisa menjual sekitar 20 hingga 30 bendera atau tiang dalam sehari, kini jumlahnya hanya berkisar 10 hingga 15, paling banyak 20.

“Kalau sekarang paling 10, 20, 15,” katanya sambil tersenyum kecil.

Bagi Dina, perbedaan itu terasa langsung pada penghasilan sehari-hari. Tahun-tahun sebelumnya, berjualan bendera masih cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan makan. Tahun ini, penghasilan dari berjualan bendera terasa lebih sulit diandalkan.

"Kalau tahun-tahun kemarin kan lumayan, buat makan-makan ya gampang lah, kalau sekarang susah. Capeknya doang," keluhnya.

Dina tidak membeli sendiri seluruh dagangannya. Ia bekerja dengan seorang bos yang menyediakan bendera dan perlengkapan untuk dijual. Dina kemudian tinggal membawa dagangan tersebut dan berkeliling mencari pembeli.

Rutenya tidak menetap. Ia menyusuri sejumlah wilayah di Bekasi dan Jakarta Timur, mulai dari Bulak Kapal hingga Klender.

"Tinggal jalan aja, dagang, yang penting kenceng jalannya, muter-muter terus," ucapnya.

Namun, langkah kaki yang terus bergerak tidak selalu berujung pada transaksi. Dina melihat kebiasaan masyarakat berbelanja telah berubah. Bendera yang dahulu dicari langsung kepada pedagang jalanan kini bisa dibeli melalui marketplace.

Menurut pengamatannya, sekitar separuh pembeli kini memilih berbelanja secara online.

“Sekitar 50 persen lah beli online semua,” ujarnya.

Perubahan itu membuat pedagang jalanan harus bersaing dengan harga dan kemudahan yang ditawarkan penjualan daring. Dina mengaku kerap menghadapi pembeli yang menawar harga tiang bendera sangat rendah.

“Bapak-bapak nawarnya sepuluh ribu. Tiang bendera tuh,” katanya.

Bukan hanya Dina yang merasakan sepinya pembeli. Ia mengatakan kondisi serupa dialami pedagang bendera lain yang ditemuinya.

“Sama begitu juga, semua sepi semua,” ujarnya.

Jenis barang yang dijual Dina sebenarnya beragam. Ada pembeli yang mencari bendera saja, ada pula yang membutuhkan tiangnya. Namun, menurut dia, bendera kini lebih banyak dibeli secara online sehingga barang yang masih cukup sering dicari secara langsung adalah tiang.

Di luar profesinya sebagai pedagang bendera, Dina juga kerap berjualan ikan hias keliling. Lalu, ketika berada di kampung, ia sesekali bekerja sebagai buruh tani. Selebihnya, ia mengandalkan pekerjaan yang datang.

Karena itu, musim menjelang 17 Agustus menjadi salah satu kesempatan bagi Dina untuk mendapatkan penghasilan lebih.

Tetapi tahun ini, kesempatan tersebut terasa semakin sempit.

“Susah sekarang nyari duit,” kata Dina.

Di tengah perubahan cara masyarakat berbelanja, Dina tetap berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Bendera-bendera yang dibawanya masih menawarkan simbol yang sama, Merah Putih yang setiap Agustus menghiasi jalan, rumah, dan lingkungan warga.

Yang berubah adalah cara orang mendapatkannya.

Bagi pembeli, satu sentuhan di layar ponsel dapat mengantarkan bendera ke depan pintu rumah. Bagi Dina, mendapatkan satu transaksi berarti terus berjalan, menawarkan dagangan, dan berharap ada orang yang berhenti.

Ia tetap berkeliling.

Sebab bagi Dina, ketika penjualan sepi sekalipun, pilihan untuk berhenti bekerja tidak banyak.

"Jual bendera juga susah. Banyakan online sih. Online semua. Online semua sekarang," katanya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hasil Kualifikasi MotoGP Inggris 2026: Tak Ada Ducati di baris Depan, Jorge Martin Amankan Pole Position di Silverstone
• 1 jam lalu
0
thumb
Mendag Mendorong Pertemuan JTC Indonesia-Mesir Digelar Tahun Ini untuk Memperkuat Perdagangan
• 9 jam lalu
0
thumb
Norman Joesoef Sosok Tepat untuk Wamenhan, Bawa Angin Segar bagi Industri Pertahanan
• 18 jam lalu
0
thumb
Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Targetkan Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup September-Oktober 2026: Sudah di Depan Mata
• 10 jam lalu
0
thumb
Update Kasus Pembunuhan Satpam di Waduk Jatiluhur, Dua Pekan Belum Juga Terungkap
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.