Veteran Seroja di Ujung Senja: "Kami Hanya Ingin Pemerintah Menyapa"

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

BEKASI, KOMPAS.com – Pagi datang perlahan di Kompleks Wisma Seroja, Jalan Delima, Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi.

Di sebuah rumah sederhana, Kolonel Inf. (Purn.) Deden Nugraha (74) memulai hari seperti biasa.

Langkahnya memang tak lagi setegap ketika mengenakan seragam dan bertugas di medan perang.

Namun, hampir setengah abad setelah peluru merobek tubuhnya di Gunung Matebian, Timor-Timur, ingatan tentang pengabdian itu masih tinggal begitu dekat.

Wisma Seroja bukan sekadar tempat tinggal bagi Deden.

Baca juga: Ingatan Veteran Operasi Seroja Timor Timur: Baru Sampai Langsung Ziarah

Di kompleks tersebut hidup ratusan veteran Operasi Seroja dan keluarga prajurit yang gugur saat bertugas di Timor-Timur.

Mereka yang dahulu pergi sebagai prajurit, kini sebagian besar telah pulang sebagai orang-orang yang menua bersama luka dan kenangan.

Ada yang kehilangan kaki. Ada yang kehilangan tangan. Ada pula para janda yang telah puluhan tahun menjalani hidup tanpa pasangan.

Menjelang Hari Ulang Tahun Ke-81 Republik Indonesia, Deden tak banyak meminta.

Ia hanya berharap negara tidak berhenti mengenang para veteran lewat upacara dan tabur bunga.

"Selama ini hanya sebatas tabur bunga dan ziarah, tapi tidak mengangkat harkat martabat keluarganya (veteran). Kami hanya ingin pemerintah hadir dan menyapa kami. Itu saja," ujar Deden kepada Kompas.com saat ditemui di kediamannya, Kamis (6/8/2026).

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi Deden, ada puluhan tahun penantian di baliknya.

Sebab, hampir setengah abad tinggal di Wisma Seroja, ia mengaku belum pernah sekalipun menerima kunjungan kepala daerah ke kompleks tersebut.

Baca juga: Menhan Dukung Usul Personel Aktif di Timor Leste sampai 1999 Termasuk Veteran Seroja

Padahal, setiap rumah di sana menyimpan cerita tentang pengabdian yang pernah dibayar mahal.

"Yang lebih penting adalah memastikan kesejahteraan mereka dan keluarganya tetap terjaga," ucapnya.

Bukan Sekadar Tabur Bunga

Bagi Deden, penghormatan kepada veteran seharusnya tidak berhenti pada seremoni.

Para veteran, katanya, telah memberikan tenaga, waktu, bahkan bagian dari tubuh mereka untuk negara. Karena itu, perhatian terhadap kehidupan mereka dan keluarga yang ditinggalkan semestinya tetap ada ketika suara tembakan telah lama berhenti.

"Selama saya tinggal di sini, belum pernah ada wali kota atau bupati datang ke Kompleks Seroja," katanya.

Deden berharap siapa pun pemimpin daerah yang menjabat mau meluangkan waktu untuk datang.

Tidak perlu acara besar.

Baca juga: Strategi Perang Soerito di Timor Timur Buat Pasukan Lawan Menyerah lalu Berbalik Membantu

Cukup duduk bersama, berbincang, dan mendengar cerita mereka.

"Kami hanya ingin pemerintah datang menyapa warganya," ujarnya.

Ia memahami, para veteran bukan orang-orang yang terbiasa meminta.

"Kami ini malu meminta-minta. Dan kami punya kode etik bekerja tanpa pamrih," katanya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Sejak 1984, Deden bersama keluarganya menetap di Wisma Seroja. Kompleks tersebut dibangun pada era Presiden Soeharto sebagai bentuk tanggung jawab negara kepada prajurit penyandang disabilitas dan keluarga korban Operasi Seroja.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Ketua Komite III DPD RI: Daerah dengan Tingkat Kemiskinan Tertinggi Harus Jadi Prioritas Kebijakan Pendidikan Nasional
• 6 jam lalu
0
thumb
Kematian Winda Lorenza Gowasa Dinilai Janggal, Keluarga Lapor ke Polisi
• 2 jam lalu
0
thumb
Hanura: Menang di Pemilu 2029 Bukan karena Sering Rapat dan Banyak Uang
• 6 jam lalu
0
thumb
Polda Metro Gagalkan Penyelundupan 150 Kg Pasir Timah dalam Truk Ekspedisi
• 2 jam lalu
0
thumb
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Lagi, Warga Dilarang Masuk Radius 5 Km
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.