Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) menduga kebakaran yang terjadi disebabkan ulah manusia. Titik api pertama muncul di kawasan Blok Bantengan, yang merupakan jalur perlintasan antara wilayah Kabupaten Malang dan Lumajang, melalui kawasan taman nasional.
"Dugaan kita ada kemungkinannya faktor manusia, bukan faktor alam," tegas Kepala BB-TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha, saat ditemui kawasan Gunung Bromo, Jumat sore (7/8).
Rudijanta menambahkan, titik api yang terlihat awalnya muncul di atas dekat jalan raya perlintasan yang mengarah ke Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Di mana jalan ini kerap kali dilalui masyarakat maupun wisatawan yang masuk kawasan taman nasional.
"Karena jalur di atas, awal api ada di puncak tebing itu ada jalur tradisional menghubungkan desa Argosari dengan Ranupani. Kadang-kadang yang melintas, kalau di tengah-tengah dingin bikin perapian, mungkin lupa atau apa, dengan cuaca seperti ini menjadi pemicu kebakaran seperti itu kita duga," jelasnya.
Meski demikian, ia menduga seseorang itu tak sengaja membuat titik api, sehingga merambat ke beberapa area kawasan Gunung Bromo, hingga mencapai luas 135 hektare di hari Jumat (7/8) atau hari keempat pemadaman api. Menurutnya, warga memang kerap kali membuat api unggun untuk menghangatkan badan di tengah suhu udara kawasan TNBTS yang sangat dingin.
"Sebenarnya itu bukan kesengajaan menurut kami, karena itu tadi ada yang pengin untuk menghangatkan badan, bukan untuk membakar menjadi seperti ini. Faktor ketidaksengajaan saja," tuturnya.
Namun pihaknya masih akan menyelidiki lebih detail penyebab kebakaran ini. Sebab fokus pihaknya kini pada pemadaman api yang kian meluas, bahkan mencakup tiga kabupaten yakni Kabupaten Probolinggo, Lumajang, dan Malang.
"Nanti kita coba setelah kita pelajari kejadiannya seperti apa. Karena sekarang masih fokus pemadaman kita belum ke arah sana," pungkasnya.






Komentar (0)