Sungai Mahakam Kian Surut, Warga Long Apari Terancam Krisis Pangan

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

MAKASSAR, KOMPAS — Surutnya Sungai Mahakam seiring musim kemarau berdampak besar pada kehidupan warga. Tidak hanya membuat akses kian sulit, kondisi ini juga menyebabkan harga beras, bahan pokok lain, bahkan permen, melonjak. Situasi dikhawatirkan akan kian berat seiring prediksi kemarau panjang.

Agustinus Lejiu (48), warga Desa Long Apari, Kecamatan Long Apari, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, menuturkan, Sungai Mahakam di wilayah hulu telah surut sejak satu bulan terakhir. Akses satu-satunya dari dan menuju desa yang dihuni ratusan keluarga itu pun kian hari kian terhambat.

”Minggu lalu anak kami mudik dari kota, sampai harus menginap di Long Pahangai. Besok pagi baru jalan dan barang dilangsir. Padahal kalau normal itu hanya sekitar enam jam perjalanan,” kata Agustinus, saat dihubungi dari Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (8/8/2026).

Desa Long Apari merupakan daerah paling hulu Sungai Mahakam, sungai terbesar di Kalimantan Timur dengan panjang sekitar 920 kilometer. Wilayah ini berbatasan dengan Malaysia.

Tidak sekadar membuat waktu tempuh bertambah, perjalanan juga kian membahayakan. Jeram di sungai yang dipenuhi batu cadas dan tajam membahayakan perjalanan. Perahu sulit bermanuver sehingga keselamatan penumpang terancam.

Kesulitan akses ini membuat distribusi barang semakin terhambat. Angkutan menggunakan long boat tidak lagi bisa dilakukan. Akses hanya bisa ditempuh dengan perahu berukuran lebih kecil. Akibatnya, harga barang kian melambung.

”Beras 25 kilogram itu sekarang sudah di atas Rp 1 juta per karung. Itu pun kalau ada. Bahkan, kita bilang permen sekarang naik harganya karena sulitnya barang-barang,” terangnya.

Baca JugaBeras 25 Kg Capai Rp 1,2 Juta di Pedalaman Mahakam Ulu, Warga Menjerit

Belum lagi persoalan bahan bakar yang semakin terbatas. Satu keluarga dijatah mendapatkan lima liter Pertalite. Padahal, jumlah itu hanya cukup untuk pergi ke kebun atau menempuh perjalanan sekitar dua jam. Sementara itu, harga bahan bakar yang dibeli di luar Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) bisa mencapai Rp 30.000 per liter. Itu pun jika tersedia.

Situasi tersebut diperparah dengan kondisi ekonomi warga yang kian terimpit. ”Situasinya ini air sudah lama surut dan akan tambah parah lagi jika kemarau kian panjang. Ancaman kelangkaan pangan di depan mata,” terangnya.

Selain di Long Apari, wilayah lain di sepanjang Sungai Mahakam juga terdampak surutnya debit air. Dihubungi terpisah, Camat Long Pahangai Thomas Ding menuturkan, kondisi air sungai memang semakin surut dalam lebih dari 10 hari terakhir. Akibatnya, jalur transportasi terhambat. Perahu long boat tidak bisa lagi digunakan untuk mengangkut penumpang ataupun barang.

”Jika tidak ada hujan, saya perkirakan sepekan ke depan jalur sungai sudah putus. Tidak bisa lagi meski pakai perahu kecil,” ucapnya.

Baca JugaTak Ingin Menderita Saat Sungai Surut, Warga Mahakam Ulu Tunggu Janji Jalan Layak

Harga pangan, ia melanjutkan, masih cukup terkontrol di wilayahnya. Hanya saja, bahan bakar semakin sulit didapatkan. Satu keluarga mulai dijatah lima liter per hari, sebelumnya bisa mendapatkan hingga 20 liter per hari.

Akses ke Long Pahangai masih bisa ditempuh melalui jalur darat sehingga distribusi bahan pangan masih memiliki alternatif. ”Hanya itu tadi, BBM sulit, ditambah ekonomi warga yang tidak seperti tahun lalu. Kami masih mengumpulkan informasi lengkap terkait dampak yang terjadi untuk kami laporkan ke pimpinan,” terangnya.

Kepala Pelaksana BPBD Mahakam Ulu Agus Darmawan menyampaikan, musim kemarau memang telah berdampak besar terhadap surutnya Sungai Mahakam. Kondisi ini menimbulkan gejolak di wilayah-wilayah yang menggantungkan akses pada sungai dan belum memiliki jalur darat.

Berdasarkan pantauan, ia menambahkan, dampak terbesar terjadi di Long Apari. Harga beras telah berada di atas Rp 1 juta per karung. Bahan bakar juga sulit diperoleh seiring terbatasnya distribusi menuju wilayah tersebut.

Baca JugaSerasa Berhadapan dengan Maut Saat Sungai Mahakam Surut 

”Per hari ini, Pemkab Mahakam Ulu mendistribusikan (bahan pangan melalui) Gerakan Pangan Murah ke Long Apari. Total ada sekitar 800 paket barang yang difokuskan untuk menanggulangi inflasi yang terjadi. Kami berharap itu bisa membantu masyarakat yang kesulitan di situasi saat ini,” terangnya.

Kemarau saat ini, menurut Agus, memang diprediksi lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Situasi yang terjadi saat ini bisa berdampak lebih besar jika tidak ada hujan, terutama di bagian hulu Sungai Mahakam.

Oleh karena itu, pemerintah telah menyiapkan skema penanganan darurat jika kondisi bertambah buruk. Status darurat akan ditetapkan untuk mempermudah distribusi bantuan dan penggunaan anggaran melalui Belanja Tidak Terduga (BTT).

”Kami belajar dari situasi tahun lalu agar lebih cepat tertangani. Sekarang masih dengan instrumen pangan murah dan antisipasi inflasi. Tapi jika terus berlanjut, akan diterapkan status darurat. Semoga akan ada hujan ke depannya,” tuturnya.

Jarak kampung paling hulu Sungai Mahakam dengan Kota Samarinda sekitar 380 kilometer jika ditarik garis lurus menggunakan Google Earth. Melalui Sungai Mahakam, kebutuhan pokok dari Samarinda didistribusikan ke Mahakam Ulu. Memang ada jalur darat yang menghubungkan kedua wilayah itu. Namun, biaya distribusinya lebih mahal karena barang harus dipindahkan kembali ke jalur sungai.

Kasus surutnya sungai terus berulang seiring datangnya musim kemarau.

Adapun jalur darat di dalam Kabupaten Mahakam Ulu sendiri belum menghubungkan semua kampung dan kecamatan. Pemerintah pusat baru membuka jalur dari Ujoh Bilang menuju pusat Kecamatan Long Apari sepanjang 157 kilometer. Namun, sebagian besar jalur masih berupa jalan berbatu, rawan longsor, dan melintasi sungai.

Kasus surutnya sungai terus berulang seiring datangnya musim kemarau. Situasi itu belum banyak berubah meski warga berulang kali mendesak adanya perbaikan, terutama terkait akses darat.

”Kami sudah berulang kali menyampaikan, harus ada jalur darat ke Long Apari. Kalau tidak begitu, tiap tahun kita menderita. Padahal, katanya kita sudah merdeka lebih dari 80 tahun,” tambah Agustinus.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Link Live Streaming SEA V Cup 2026, Sabtu 8 Agustus: Ujian Timnas Voli Putri Indonesia Untuk Lanjutkan Kemenangan
• 9 jam lalu
0
thumb
Aksi Baru RLCO Bangun Dua Lini Bisnis, Diversifikasi Lini Sarang Burung Walet
• 22 jam lalu
0
thumb
Damkar Belum Pastikan Ada Korban Kebakaran Gedung Bapenda DKI
• 18 jam lalu
0
thumb
Seskab Teddy: 100 Bangunan Baru Sekolah Rakyat Mulai Aktif Beroperasi Akhir Bulan Ini
• 4 jam lalu
0
thumb
Dhot Design Bakal Hadir di Layar Lebar, MD Pictures Siapkan Versi Live Action
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.