Haboh Peristiwa Yurizal, Legislator Singgung Pembinaan Nakes dan Audit Pelayanan

jpnn.com
13 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto menyebut profesi kesehatan merupakan pekerjaan yang hidup dari kepercayaan masyarakat.

Dari situ, kata dia, komunikasi para tenaga kesehatan (nakes) di ruang digital harus mencerminkan nilai-nilai profesi. 

BACA JUGA: Tangisi Kepergian Yurizal, Prof. Dasaad Mulijono Desak Pembenahan Layanan Kesehatan

Hal demikian dikatakan dia demi menanggapi persoalan Yurizal Tri Chaerawan yang kena perundungan nakes setelah mengeluhkan peserta BPJS Kesehatan mengeluh soal layanan di rumah sakit.

"Masyarakat tetap melihat mereka sebagai dokter atau tenaga kesehatan," kata Edy kepada awak media dikutip Jumat (7/8).

BACA JUGA: Ini Kata Mabes Polri soal Pemeriksaan Kapolresta Banda Aceh dan Kasat Resnarkoba

Dia mengatakan organisasi profesi kesehatan perlu memperkuat pembinaan mengenai etika komunikasi digital setelah heboh persoalan Yurizal.

"Pada era digital, kompetensi profesional tidak cukup hanya kemampuan klinis, tetapi juga kemampuan menjaga komunikasi yang berempati dan bertanggung jawab di ruang publik," ujarnya.

BACA JUGA: Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Tersenyum Tipis saat di Kejagung

Diketahui, Yurizal melalui akun @yurizaltrich di Threads mengeluhkan lama waktu pelayanan di sebuah rumah sakit sebagai pasien BPJS.

Keluhan Yurizal menuai reaksi netizen yang juga berstatus nakes dengan komentar jahat agar pasien BPJS Kesehatan tak banyak berbicara.

Belakangan, Yurizal meninggal dunia setelah membuat utas tentang keluhan layanan rumah sakit sebagai peserta BPJS Kesehatan. 

Edy meminta ke depan dilakukan audit pelayanan secara menyeluruh untuk mengetahui secara objektif keterlambatan pemberian layanan kesehatan. 

Utamanya, untuk mengetahui penyebab lambatnya layanan terkait keterbatasan kapasitas, koordinasi antarfasilitas yang lemah, prosedur administrasi, atau persoalan tata kelola lain. 

"Audit pelayanan bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi menemukan akar masalah. Setiap kasus serius harus menjadi bahan pembelajaran nasional agar menghasilkan perbaikan sistem, bukan sekadar pergantian orang," ujarnya.

Menurut Edy, peristiwa yang dialami Yurizal harus menjadi momentum mengevaluasi tata kelola pelayanan kesehatan secara menyeluruh.

"Kasus ini harus dilihat secara utuh. Kita tentu berduka atas meninggalnya pasien. Namun, yang lebih penting itu memastikan penyebabnya dipelajari secara objektif," lanjut dia. 

Menurut Edy, keterbatasan ruang rawat inap memang dapat terjadi di rumah sakit mana pun. Namun, hal demikian tak boleh berubah menjadi hilangnya kepastian pelayanan bagi pasien. 

“Bila ruang rawat tidak tersedia, sistem harus segera bekerja mencarikan solusi melalui mekanisme rujukan yang cepat, terkoordinasi, dan transparan," ujar dia.(Ast/JPNN)


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Aristo Setiawan


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Detik-detik Damkar Selamatkan Satu Korban dalam Kebakaran Hebat Gedung Bapenda DKI Jakarta
• 14 jam lalu
0
thumb
Ketua Komite III DPD RI: Daerah dengan Tingkat Kemiskinan Tertinggi Harus Jadi Prioritas Kebijakan Pendidikan Nasional
• 4 jam lalu
0
thumb
Danantara Tanam Investasi 2,5 Miliar Dolar AS ke Raksasa Produsen Daging Asal Brasil
• 8 jam lalu
0
thumb
Jenius dan MSIG Luncurkan Asuransi Siber, Premi Mulai Rp 70 Ribu per Tahun
• 23 jam lalu
0
thumb
Saratoga (SRTG) Lepas 4,87 Juta Saham Treasuri Pekan Depan
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.