Maros, ERANASIONAL.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros menerima kunjungan kerja Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, dan Wakil Menteri Dalam Negeri RI, Akhmad Wiyagus, pada Jumat (7/8/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memantau pelaksanaan Tracing Tuberkulosis (TBC) Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) sekaligus meninjau implementasi Desa Siaga TBC di Kabupaten Maros.
Dalam sambutan tertulisnya, Pemkab Maros menegaskan bahwa pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang diduga mengidap TBC merupakan salah satu pelayanan dasar yang wajib dilaksanakan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dan Permendagri Nomor 59 Tahun 2021.
Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya percepatan penanggulangan TBC untuk mendukung program Quick Wins dalam delapan misi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, dengan target menurunkan angka kasus TBC hingga 50 persen pada 2030.
“Saat ini, Kabupaten Maros memiliki sasaran penerima layanan kesehatan dasar sebanyak 427.850 jiwa yang tersebar di 14 kecamatan dan 103 desa/kelurahan,”ujar Bupati MAros, Chaidir Syam.
Dia menambahkan, pelayanan kesehatan didukung oleh 14 UPTD Puskesmas, 28 Puskesmas Pembantu (Pustu), RSUD dr. La Palaloi, RSUD Camba, serta Laboratorium Kesehatan Masyarakat yang baru menyelesaikan proses survei akreditasi.
“Berdasarkan data capaian penanggulangan TBC di Kabupaten Maros, jumlah penemuan kasus terus mengalami peningkatan,”jelasnya.
Pada 2024 tercatat sebanyak 943 kasus atau 54,82 persen, meningkat menjadi 998 kasus atau 58,13 persen pada 2025.
Sementara pada semester pertama 2026 telah ditemukan 546 kasus atau 32,13 persen dari target tahunan.
Sementara itu, capaian skrining terhadap suspek TBC juga menunjukkan tren positif. Pada 2024, skrining mencapai 6.668 orang atau 79,77 persen, kemudian meningkat menjadi 9.014 orang atau 108,03 persen pada 2025.
Hingga semester pertama 2026, sebanyak 6.256 orang telah menjalani skrining.
Pemkab Maros juga memanfaatkan teknologi Chest X-Ray berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mempercepat proses tracing TBC.
Dari target 86 lokasi, kegiatan tracing telah dilaksanakan di 16 lokasi dengan total 1.600 peserta.
Hasil pemeriksaan menunjukkan 200 orang memiliki kelainan yang mengarah pada TBC, 204 orang mengalami kelainan namun bukan TBC, dan 1.042 orang dinyatakan normal.
Dari proses tersebut terdeteksi 438 orang sebagai terduga TBC, dengan 57 orang di antaranya terkonfirmasi menderita TBC, terdiri atas 54 kasus klinis dan 3 kasus bakteriologis.
Untuk memperkuat penanganan TBC di tingkat masyarakat, Pemkab Maros berharap mendapat dukungan pemerintah pusat berupa penambahan fasilitas kesehatan, seperti mesin Tes Cepat Molekuler (TCM) dan Portable X-Ray with AI.
Selain itu, pemerintah daerah juga mengusulkan dukungan pendanaan melalui Dana Alokasi Khusus Non-Fisik (DAK NF) maupun Alokasi Dana Desa (ADD).
“Sebagai bentuk komitmen dalam percepatan eliminasi TBC, Pemkab Maros telah menetapkan seluruh 103 desa/kelurahan atau 100 persen sebagai Desa Siaga TBC serta membentuk Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TBC)<“jelasnya.
Pemkab Maros juga meluncurkan inovasi berbasis kearifan lokal bertajuk SIPAKATU (Sipakatau–Memanusiakan Manusia).
Program ini melibatkan tenaga kesehatan bersama kader dan Duta SIPAKATU untuk menghapus stigma terhadap penderita TBC sekaligus mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan sejak dini sebagai upaya mewujudkan target Eliminasi TBC 2030. []






Komentar (0)