Hingga hari kelima, Jumat (7/8/2026), api yang membakar lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, belum sepenuhnya padam, bahkan mengarah ke lokasi lain. Pemadaman pun mulai melibatkan helikopter dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Masih adanya titik api membuat luas area yang terbakar di dataran tinggi itu kian bertambah. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut luas lahan yang terbakar terus bertambah dan kini diperkirakan telah mencapai 176 hektar (ha).
Adapun berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Jumat malam, jenis vegetasi yang terbakar antara lain cemara gunung, mentigen, akasia, hingga semak belukar. Bahkan, area yang terbakar kini mengarah ke Bukit B29, tepatnya di Bukit Pusung Ledok Bedor di perbatasan Probolinggo-Lumajang. Lokasi ini berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Pusung Jantur yang terbakar lebih dulu.
”Awalnya kebakaran di TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) terkonfirmasi hanya 7,9 ha, terus bertambah menjadi 44 ha, 51 ha, tadi pagi 176 ha,” ujar Khofifah saat meninjau lokasi kebakaran di kawasan TNBTS, Jumat (7/8/2026) sore.
Khofifah menuturkan, sejak Selasa (4/8/2026), pihaknya sebenarnya telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur juga telah berkirim surat meminta bantuan helikopter yang bisa melakukan penyiraman (water bombing) berkapasitas 1.000 liter.
Helikopter yang didatangkan pun akhirnya tiba dari Kalimantan Tengah, Jumat pagi. ”Hari ini helikopter sudah bisa melakukan penguatan pemadaman. Sebelumnya memakai drone, tetapi hanya untuk pembasahan karena kapasitas drone 100-150 liter. Itu juga izinnya tidak mudah. Drone line harus melewati ini-ini,” tuturnya.
Menurut Khofifah, operasional helikopter juga masih terbatas. Izin dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, hanya sampai pukul 16.30 WIB. Selain itu, kondisi angin di pegunungan juga berpengaruh terhadap aktivitas penerbangan. Jika angin berembus kencang, proses sortie tidak bisa dilakukan sehingga membutuhkan sejumlah penyesuaian.
Rencananya, Sabtu (8/8/2026), akan datang satu helikopter lagi untuk membantu pemadaman. Saat ini posisinya masih berada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan segera diberangkatkan ke Malang. Helikopter ini akan memperkuat pemadaman di kawasan Bromo Tengger Semeru.
”Kalau ada tambahan armada helikopter, maka bisa memaksimalkan water bombing. Pada kebakaran 2023 kita ambil air dari Batu dan Kaliandra (Pasuruan). Sekarang dari Ranu Pani, Lumajang, sehingga lebih dekat. Semoga kondisi anginnya bagus sehingga bisa segera tuntas,” kata Khofifah.
Pada 2023, kebakaran lahan cukup besar juga terjadi di kawasan TNBTS, selain di Gunung Arjuno yang berada di kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Kebakaran di Arjuno pada Agustus-September menghanguskan ribuan hektar lahan.
Sementara di TNBTS, kebakaran yang cukup mencolok kala itu terjadi di Lembah Watangan dan membutuhkan beberapa hari pemadaman. Kebakaran dipicu ulah pengunjung yang melakukan pemotretan pranikah menggunakan flare sehingga mengakibatkan 504 ha lahan terbakar.
Akibat peristiwa itu, Balai Besar TNBTS (BBTNBTS) menutup total obyek wisata Gunung Bromo selama dua pekan. Dampaknya, negara disebut-sebut mengalami kerugian miliaran rupiah akibat penutupan tersebut. Polisi juga mengamankan enam orang yang diduga terlibat dalam kegiatan itu dan menetapkan satu orang di antaranya sebagai tersangka.
Adapun terkait pemadaman kebakaran kali ini, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan menjelaskan, ada tiga helikopter yang telah memulai pemadaman di kawasan TNBTS, yakni jenis Bell 412 EP HU-4205 dan HU-4206 milik TNI AL serta helikopter PK-DBM AS35 milik BNPB.
Helikopter HU-4205 dan PK-DBM AS35 melakukan pemadaman di area Pusung Ledok Bedor. Sementara helikopter HU-4206 berperan melakukan pengamatan area kebakaran sebelum water bombing dilaksanakan.
”Hasilnya, hotspot masih berasap di area Pusung Ledok Bedor,” kata Sadono. Ia menambahkan, titik api yang masuk wilayah Malang telah padam. Kegiatan penyiraman melalui udara pada Jumat sore tidak diteruskan lantaran kondisi cuaca dan jarak pandang tidak memungkinkan.
Paralel dengan langkah pemadaman dari udara, tim gabungan juga melaksanakan operasi pemadaman darat dengan membuat sekat bakar dan membasahi sisa bara api yang masih terjangkau. Pemadaman dilakukan menggunakan truk pemadam dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), BPBD Provinsi Jawa Timur, dan BPBD Kabupaten Malang.
Sementara itu, terkait penyebab kebakaran, Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, dugaan sementara api berasal dari aktivitas manusia. Menurut dia, di atas tebing Kaldera Tengger, tempat awal api muncul, terdapat jalur tradisional yang menghubungkan Desa Arjosari dengan Ranu Pani.
”Kemungkinan, kadang-kadang, yang melintas, kalau dingin membuat perapian (untuk menghangatkan badan), mungkin (mereka) lupa atau seperti apa. Dengan cuaca seperti ini jadi pemicu kebakaran. Kemungkinan tidak disengaja,” ucapnya.
Akibat kebakaran, menurut Rudijanta, sejumlah wisatawan dari arah Malang membatalkan kunjungan ke Bromo. Seperti diketahui, BBTNBTS menutup sementara akses masuk ke Bromo dari arah Malang dan Lumajang akibat peristiwa ini. Pihak TNBTS menyarankan wisatawan yang sudah telanjur berada di Malang untuk memutar melalui Pasuruan atau Probolinggo.
”Namun, mereka tetap membatalkan. Sekitar 25 persen penurunannya,” katanya. Pintu masuk ke Bromo melalui Malang dan Lumajang akan dibuka kembali setelah akses tersebut tidak lagi digunakan untuk kegiatan pemadaman.
Adapun terkait satwa yang mati akibat kebakaran, menurut Rudijanta, jumlahnya relatif tidak banyak karena area yang terbakar berada di tebing. Begitu pula dengan vegetasi yang terdampak, kemungkinan lebih banyak berupa rumput dan tanaman endemik.
Sementara itu, di luar TNBTS, kebakaran hutan dan lahan juga melanda sejumlah wilayah di Tanah Air. Berdasarkan siaran pers BNPB, kebakaran antara lain terjadi di Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung, seluas 13 hektar (ha); Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, seluas 35 ha; dan Tana Toraja, Sulawesi Selatan, seluas 55 ha. Selain itu, kebakaran juga terjadi di Kolaka Timur dan Sorong, Papua Barat.
Di samping menangani peristiwa terbaru, BNPB tetap mendampingi penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah provinsi prioritas, seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur.
”Upaya yang dilakukan meliputi pendampingan operasi darat, dukungan tim udara, hingga pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di wilayah yang masih berpotensi mengalami kebakaran tinggi,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari.
Menurut Muhari, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, dalam tiga hari ke depan wilayah Sumatera bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua masih didominasi cuaca cerah berawan yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Namun demikian, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpeluang terjadi secara lokal pada sore hingga malam hari di beberapa wilayah. Dinamika atmosfer juga dapat memicu pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menimbulkan angin kencang sesaat, petir, dan hujan lokal.
Oleh karena itu, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan BPBD meningkatkan patroli terpadu di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan, meningkatkan deteksi dini terhadap potensi hotspot, serta memastikan kesiapan personel dan peralatan pemadaman. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan.






Komentar (0)