Penemuan Baru Bantah Teori Evolusi Manusia yang Sudah Lama Dipercaya

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi Manusia Purba. (Dok. University of Rochester illustration/Michael Osadciw)

Jakarta, CNBC Indonesia - Teori evolusi manusia merujuk pada proses yang bertahap dan lurus dari otak yang membesar hingga wajah yang makin kecil. Namun temuan terbaru membantah anggapan lama tersebut.

Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipimpin Mark Hubbe dari University of Tennessee-Knoxville dan Katerina Harvati dari Senckenberg Centre for Human Evolution and Palaeoenvironment (SHEP) di University of Tübingen yang terbit di jurnal Nature Communications.

Studi berjudul "Evolutionary drivers of encephalization and facial reduction in the genus Homo" melakukan analisa pada 87 fosil tengkorak dari berbagai spesies dalam genus Homo. Sampelnya termasuk Homo habilis, Homo erectus, Homo heidelbergensis, Neanderthal, hingga manusia modern Homo sapiens.


Para peneliti melakukan pengujian pada enam model evolusi yang mencakup seleksi alam dan mendorong pada perubahan ke arah tertentu, perubahan acak atau netral, dan seleksi stabilisasi yang mempertahankan ciri dalam rentang tertentu.

Pilihan Redaksi
  • Menteri Bohong Bilang Terkendali, Satu Negara Mencret Parah
  • Ternyata Monyet Punya Binatang Peliharaan Seperti Manusia
  • Prabowo Teringat Pesan BJ Habibie: Indonesia Punya Banyak Orang Pintar

Terakhir juga melihat teori punctuated equilibrum, menggambarkan periode panjang dengan sedikit perubahan sebelum adanya perubahan evolusioner yang lebih cepat.

Dari hasil analisa ditemukan manusia purba tidak mengalami perubahan berarti pada proses evolusi. Hal tersebut baru terjadi saat hambatan biologis, lingkungan dan budaya mulai berkurang.

"Meskipun analisis kami mengkonfirmasi tren evolusi yang sudah dikenal mengenai pertumbuhan tengkorak dan pengurangan wajah, analisis tersebut menunjukkan bahwa perbedaan dalam genus kita dapat dijelaskan jauh lebih efektif oleh proses evolusi netral dan periode panjang stasis evolusi," jelas Hubbe, dikutip dari SciTechDaily, Rabu (5/8/2026).

Salah satu faktor adanya perubahan fisik yang besar terjadi kemungkinan karena adanya perkembangan teknologi dan budaya. Adaptasi terjadi saat tekanan pada tubuh berkurang karena munculnya penggunaan alat, pengolahan makanan, kerja sama, tempat berlindung, dan kemampuan memanfaatkan sumber daya baru.

Selain itu, budaya membantu manusia memenuhi kebutuhan energi yang besar dalam menopang otak yang elbih besar.

"Dalam banyak hal, budaya bertindak sebagai penyangga. Budaya memungkinkan kita untuk memanfaatkan habitat baru dan mengakses lebih banyak sumber daya. Hal ini mengurangi tekanan pada struktur fisik tertentu karena struktur tersebut tidak perlu terlalu ketat beradaptasi dengan kondisi lingkungan," jelasnya.

Sementara itu, temuan terbaru juga mengubah cara ilmuwan melihat asal-usul manusia modern. Disebutkan bawah manusia purba bukan tahapan perlahan menuju manusia yang ada saat ini, melainkan berlangsung dengan kombinasi periode panjang tanpa perubahan acak dan keterbatasan biologis.

"Daripada bertanya mengapa manusia terus berevolusi menuju otak yang lebih besar dan wajah yang lebih kecil, akan lebih masuk akal untuk menyelidiki dalam kondisi apa populasi manusia mampu melepaskan diri dari batasan yang ada dan mengembangkan sifat-sifat baru," jelas Katerina Harvati.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Inovasi Fintech Lending Atasi Gap Kredit UMKM Sebesar Rp2.400 T

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Api Hanguskan Mayoritas Gedung Bapenda DKI
• 4 jam lalu
0
thumb
Link Live Streaming Timnas Voli Putri Indonesia vs Vietnam di SEA V Cup 2026
• 15 jam lalu
0
thumb
Bulan Terus Menjauhi Bumi, Manusia Mulai Rasakan Dampaknya
• 16 jam lalu
0
thumb
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Tersenyum Tipis saat di Kejagung
• 2 jam lalu
0
thumb
Kebakaran Lahan di Alun-alun Suryakencana, Jalur Pendakian Gunung Gede Ditutup
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.