Salah Kaprah Internship Dokter, Pakar FKUI: Bagian Pendidikan Profesi, Bukan Sekadar Magang!

medcom.id
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Program internship dokter kembali menjadi sorotan setelah dua dokter muda meninggal dunia dalam waktu berdekatan di Lampung dan Kalibata, Jakarta Selatan. Di tengah evaluasi yang dilakukan pemerintah, muncul anggapan internship tidak lebih dari sekadar program magang bagi dokter baru lulus.
 
Kepala Divisi Fisiologi di Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Djauhari Widjajakusumah, menepis anggapan itu. Internship merupakan bagian dari pendidikan profesi yang bertujuan mematangkan kompetensi dokter sebelum menjalankan praktik mandiri.
 
Djauhari menegaskan program internship bukan apprenticeship atau magang sebagaimana dipahami masyarakat umum. Internship merupakan bagian dari program pendidikan kedokteran.

"Jangan melihat bahwa program internship dokter ini sebagai magangisasi. Program internship ini bukan apprenticeship," tegas Djauhari di FKUI, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat, 7 Agustus 2026. 
 
Menurut dia, istilah apprenticeship lebih tepat digunakan pada masa pendidikan profesi dokter atau koasisten (co-assistant). Misalnya, ketika mahasiswa masih belajar langsung di bawah supervisi dokter pembimbing di rumah sakit pendidikan.
 
  Baca juga: Spill Biaya Kuliah Kedokteran di Jalur Mandiri 10 PTN, Ada yang Bisa Dicicil  
Sementara itu, peserta internship sudah berstatus dokter karena telah lulus pendidikan profesi, mengucapkan sumpah dokter, serta dinyatakan kompeten melalui uji kompetensi. Internship diberikan agar dokter dapat mempraktikkan kompetensinya lebih matang di fasilitas pelayanan kesehatan.
 
Djauhari menjelaskan tujuan utama internship adalah mengubah dokter yang sudah kompeten menjadi lebih mahir dalam praktik klinis. "Lulus mampu, kompeten, dia punya ijazah. Tapi kemahiran itu belum dapat. Inilah internship," ujar Djauhari.
 
Ia mengatakan konsep tersebut bukan hal baru di dunia pendidikan kedokteran. Sejumlah negara seperti Australia, Singapura, Malaysia, hingga Belanda juga menerapkan fase transisi sebelum dokter menjalankan praktik penuh, meski dengan model berbeda.
 
Menurut Djauhari, program internship lahir sebagai bagian dari reformasi pendidikan kedokteran berbasis kompetensi yang dikembangkan sejak awal 2000-an. Reformasi tersebut bertujuan memastikan lulusan fakultas kedokteran tidak hanya menguasai teori, tetapi juga siap memberikan pelayanan yang aman kepada masyarakat.
 
Meski telah menyandang status dokter, peserta internship tidak bekerja sendirian. Selama menjalani program, mereka memperoleh pendampingan dari dokter umum yang bertugas sebagai mentor.
 
Djauhari menjelaskan satu dokter pendamping biasanya membimbing sekitar lima peserta internship. Para pendamping juga dibekali buku panduan dan pelatihan agar proses pembinaan berjalan sesuai standar nasional.
 
Menurut dia, pendamping bukan bertugas mengambil alih pekerjaan peserta internship, melainkan menjadi tempat berdiskusi, memberikan arahan, sekaligus memastikan pelayanan kepada pasien tetap aman.
 
"Dokter intern ini dapat pendamping," ujar Djauhari.
  Baca juga: Miris! Lulus Koas Tapi Terancam DO, Nasib Ribuan Dokter Muda Disorot  
Djauhari menuturkan keberadaan internship juga berkaitan dengan upaya meningkatkan keselamatan pasien. Sebelum memasuki dunia praktik, dokter perlu mendapatkan pengalaman langsung dalam menangani pasien di bawah sistem yang terstruktur.
 
Karena itu, pendidikan kedokteran juga dilengkapi laboratorium keterampilan klinik atau clinical skills laboratory dan berbagai bentuk evaluasi kompetensi sebelum mahasiswa memasuki tahap profesi. Internship menjadi tahapan lanjutan untuk memantapkan kemampuan tersebut.
 
Ia menilai keberhasilan internship tidak hanya ditentukan kemampuan peserta. Tetapi juga kesiapan sistem, mulai dari fakultas kedokteran, rumah sakit, dokter pendamping, hingga pemerintah.
 
Karena itu, ketika muncul persoalan dalam pelaksanaan internship, evaluasi seharusnya tidak hanya diarahkan kepada dokter muda. "Kalau ada sesuatu terjadi pada peserta didik atau peserta internship, konsep pendekatan pendidikan adalah teacher blame approach and not student blame approach. Jangan salahkan anak, salahkan sistem," tegas Djauhari.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Indonesia Ditahan Imbang Singapura 1-1, Peluang Lolos ke Semifinal Piala AFF 2026 Belum Aman
• 3 jam lalu
0
thumb
Faktor Pendukung Biaya Kepemilikan Kendaraan Suzuki Tetap Kompetitif
• 9 jam lalu
0
thumb
ConnectX Rayakan Setahun Perjalanan Bangun Ekosistem Lewat Founder dan Builder Summit 2026
• 13 jam lalu
0
thumb
Korlantas Luruskan Informasi Hoaks yang Viral di Medsos, Jangan Mudah Percaya
• 17 jam lalu
0
thumb
Permintaan Susu Melonjak, Industri Pengolahan Susu Segar Tumbuh 17,3%
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.