jpnn.com, JAKARTA - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengajak mahasiswa Indonesia menghadirkan inovasi untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit, kakao, dan kelapa tanpa menambah luas lahan.
Hal ini disampaikan dalam Web Seminar Call for Proposal Lomba Riset Tingkat Mahasiswa Tahun 2026–2027 yang menjadi bagian dari dukungan BPDP terhadap pengembangan riset sektor perkebunan.
BACA JUGA: Bakar Hutan untuk Ditanami Kebun Sawit, Pria di Pelalawan Ditangkap Polisi
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, mengatakan, mahasiswa memiliki peluang besar melahirkan perspektif baru dan solusi yang dapat menjawab persoalan nyata di industri perkebunan.
“Melalui lomba ini, kami berharap lahir inovasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan pekebun sawit, kakao, dan kelapa,” ujar Mohammad Alfansyah, Jumat (7/8).
BACA JUGA: BRIN Kembangkan Genteng dari Limbah Sawit dan Serabut Kelapa
Lomba Riset Tingkat Mahasiswa menjadi bagian dari dukungan BPDP terhadap penelitian dan pengembangan komoditas perkebunan. Mahasiswa didorong menghasilkan gagasan yang kreatif, inovatif, aplikatif, dan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut. Fokusnya tidak hanya mengejar kenaikan produksi, tetapi juga menyangkut efisiensi, keberlanjutan, hingga peningkatan kesejahteraan pekebun.
Anggota Tim Penilai Lomba Riset BPDP, Dr. Bandung Sahari, menilai peningkatan produktivitas pekebun rakyat menjadi salah satu kunci masa depan industri perkebunan Indonesia.
BACA JUGA: Kemendag Janji Stok MinyaKita Aman Meski Ada Penurunan DMO Sawit
Saat ini, sekitar 41 persen areal perkebunan kelapa sawit dikelola pekebun rakyat. Sementara, lebih dari 90 persen perkebunan kakao dan kelapa berada di tangan pekebun rakyat.
Menurut Bandung, peningkatan produksi tidak bisa terus mengandalkan perluasan lahan karena harus tetap memperhatikan perlindungan lingkungan, pengendalian konversi lahan, dan pembangunan rendah karbon.
“Pertanyaan penting yang perlu dijawab melalui riset adalah bagaimana meningkatkan produktivitas sawit, kakao, dan kelapa tanpa menambah luasan lahan, sekaligus memastikan inovasinya terjangkau bagi pekebun rakyat,” katanya.
Tantangan yang dihadapi pekebun cukup beragam, mulai dari akses benih unggul, pupuk dan pembiayaan, tanaman tua, perubahan iklim, serangan hama dan penyakit, hingga keterbatasan teknologi serta akses pasar.
Karena itu, proposal mahasiswa diharapkan tidak hanya menarik secara akademis, tetapi juga berangkat dari masalah nyata, menggunakan metodologi yang tepat, dan menawarkan solusi yang bisa diterapkan di lapangan.
Peluang riset mencakup pengembangan varietas tahan iklim, pemupukan presisi, kesehatan tanah, pengendalian hama ramah lingkungan, mekanisasi, pengelolaan air, hingga pemanfaatan Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan data geospasial.
Penelitian juga dapat menyasar sektor pascapanen, ketertelusuran rantai pasok, pemanfaatan limbah, ekonomi sirkular, pengurangan emisi gas rumah kaca, serta penguatan kapasitas dan kelembagaan pekebun.
Kepala Divisi Penyaluran Dana Riset BPDP, Rahmat Widiana, mengatakan lomba terbuka bagi mahasiswa aktif jenjang sarjana maupun diploma dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. Setiap kelompok terdiri dari tiga hingga lima mahasiswa dengan satu dosen pembimbing.
"Proposal akan dinilai berdasarkan analisis kesenjangan, kualitas dan kreativitas riset, manfaat, serta peluang pengembangan hasil penelitian. BPDP mencari gagasan yang terukur, realistis, dan memiliki potensi diterapkan lebih luas," ungkapnya.
Melalui Lomba Riset Tingkat Mahasiswa 2026–2027, BPDP berharap lahir inovasi yang mampu meningkatkan hasil perkebunan, menekan biaya produksi, menjaga lingkungan, menghadapi perubahan iklim, dan memperkuat kesejahteraan pekebun tanpa harus membuka lahan baru. (esy/jpnn)
Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Mesyia Muhammad





Komentar (0)