Tidak ada aturan yang benar-benar mengatakan bahwa seseorang harus lulus kuliah di usia tertentu, memiliki pekerjaan tetap sebelum usia 25, menikah sebelum kepala tiga, atau membeli rumah sebelum usia 35. Namun, entah sejak kapan, banyak dari kita menjalani hidup seolah-olah semua itu adalah kewajiban yang harus dipenuhi tepat waktu.
Ketika kenyataan berjalan berbeda, muncul satu perasaan yang semakin akrab di kalangan anak muda: merasa tertinggal.
Perasaan itu sering datang tanpa alasan yang benar-benar jelas. Hidup kita mungkin tidak sedang berada dalam kondisi buruk. Kita masih memiliki pekerjaan, keluarga yang mendukung, atau kesempatan untuk terus belajar. Namun, setiap kali melihat kabar tentang teman yang baru menikah, rekan kerja yang mendapat promosi, atau kenalan yang berhasil meraih impiannya, muncul pertanyaan yang sulit dihindari: "Kenapa aku belum sampai di sana?"
Padahal, jika dipikirkan kembali, kita sebenarnya tidak sedang mengikuti perlombaan apa pun.
Di era media sosial, perasaan tersebut semakin mudah muncul. Dalam hitungan menit, kita dapat melihat puluhan pencapaian orang lain yang ditampilkan dalam bentuk foto, video, atau cerita singkat. Tanpa disadari, semua itu perlahan berubah menjadi standar yang kita gunakan untuk mengukur kehidupan sendiri.
Fenomena ini dijelaskan oleh psikolog Leon Festinger melalui Social Comparison Theory. Menurutnya, manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk memahami posisi dan kemampuannya. Dalam kadar yang wajar, perbandingan sosial dapat menjadi motivasi. Namun, ketika dilakukan terus-menerus, seseorang akan lebih mudah merasa tidak puas terhadap dirinya sendiri, meskipun sebenarnya ia terus berkembang.
Masalahnya, media sosial membuat proses membandingkan diri terjadi hampir setiap hari. Kita melihat hasil akhir seseorang, tetapi jarang menyaksikan kegagalan, ketidakpastian, atau perjuangan yang mengantarkan mereka ke titik tersebut. Akibatnya, kita membandingkan perjalanan hidup yang penuh tantangan dengan potongan-potongan terbaik dari kehidupan orang lain.
Psikolog Carol Dweck melalui konsep growth mindset menjelaskan bahwa perkembangan setiap individu tidak pernah berlangsung dalam kecepatan yang sama. Ada orang yang menemukan jalannya lebih cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk belajar, gagal, lalu bangkit kembali. Ketika seseorang percaya bahwa hidup harus mengikuti satu garis waktu yang sama, ia akan lebih mudah menganggap keterlambatan sebagai kegagalan, padahal keduanya adalah hal yang berbeda.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan berbagai pembahasan American Psychological Association (APA) mengenai dampak perbandingan sosial di era digital. Paparan yang terus-menerus terhadap pencapaian orang lain dapat memengaruhi kepuasan hidup, harga diri, hingga kesehatan mental, terutama jika seseorang menjadikannya sebagai ukuran utama keberhasilan dirinya.
Karena itu, mungkin yang membuat kita merasa tertinggal bukanlah langkah kita yang terlalu lambat. Bisa jadi, kita hanya terlalu sering melihat ke jalur yang sedang ditempuh orang lain hingga lupa memperhatikan perjalanan sendiri.
Padahal, setiap orang memulai hidup dari titik yang berbeda. Ada yang harus bekerja sambil kuliah, ada yang menjadi tulang punggung keluarga sejak muda, ada yang baru menemukan pekerjaan yang sesuai setelah berkali-kali berpindah arah, dan ada pula yang memilih membangun hidup dengan ritmenya sendiri. Membandingkan semua perjalanan itu menggunakan satu ukuran yang sama jelas bukan sesuatu yang adil.
Pada akhirnya, hidup tidak pernah menyediakan garis start maupun garis finis yang sama bagi setiap orang. Yang benar-benar perlu kita ukur bukanlah seberapa jauh orang lain telah melangkah, melainkan apakah hari ini kita sudah bertumbuh dibandingkan diri kita kemarin.






Komentar (0)