Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat telah menghanguskan 28.680 hektare sepanjang Januari-Juni 2026. Angka ini sudah melampaui total luas karhutla di provinsi tersebut sepanjang 2025 yang mencapai 26.703 hektare. Luas area terbakar pun diperkirakan masih akan terus bertambah seiring kemarau yang masih panjang.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, kebakaran terus meluas akibat tidak turunnya hujan selama lebih dari satu bulan, ditambah suhu udara yang sangat panas.
"Menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), cuaca di Kalimantan Barat dalam tiga minggu ke depan diperkirakan akan semakin panas, bahkan tingkat kemudahan lahannya untuk terbakar cenderung tinggi," kata Suharyanto, dikutip dari keterangan resmi, Jumat (7/8).
Di tengah ancaman meluasnya kebakaran, upaya operasi modifikasi cuaca (OMC) belum dapat dilakukan secara optimal karena minimnya awan hujan di wilayah tersebut. Karena itu, penanganan difokuskan pada operasi water bombing menggunakan helikopter untuk memadamkan api di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Suharyanto mengatakan, BNPB telah menyiagakan sekitar lima helikopter water bombing di Kalimantan Barat. Sementara itu, pesawat OMC tetap disiagakan untuk segera melakukan penyemaian awan apabila kondisi cuaca memungkinkan.
"Ada helikopter patroli yang siaga dan pesawat OMC. Apabila ada pertumbuhan awan hujan, pesawat bisa langsung beroperasi," ujarnya.
Ia juga meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan karhutla mempersiapkan seluruh sumber daya dan bergerak cepat sebelum api membesar.
"Satgas darat yang terdiri atas personel TNI/Polri, Masyarakat Peduli Api, Manggala Agni, dan relawan berada di bawah koordinasi gubernur serta bupati di setiap kabupaten/kota untuk melakukan pemadaman. Kami sepakat jangan sampai menunggu api semakin besar," kata dia.





Komentar (0)